Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Kisah Hany Scraft Pasuruan, UMKM Rajut Bayi yang Tembus Pasar Internasional Berdayakan 64 Perajin

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

02 - Aug - 2026, 14:52

Placeholder
Henik saat menunjukkan produknya pada pameran UMKM Sapta Rona Pesona di Matos. (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Siapa sangka, usaha rajut yang berawal dari membuat bros di rumah kini mampu menembus pasar internasional. Adalah Hany Scraft, UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang milik Suhenik, warga Desa Pohgedang, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, yang sukses mengembangkan produk pakaian dan sepatu rajut bayi hingga dikenal di mancanegara.

Produk-produk Hany Scraft menjadi salah satu yang menarik perhatian dalam pameran Sapta Rona Pesona yang digelar KPw BI Malang di Malang Town Square (Matos) pada 30 Juli - 2 Agustus 2026. Beragam hasil rajutan, mulai dari sepatu bayi, topi, bando, dress bayi hingga tas handmade dipamerkan kepada pengunjung.

Baca Juga : Pilot Malaysia Airlines Positif Sabu, Ekstasi, dan Kokain: Diduga Bawa Urine Bersih untuk Kelabui Tes

Perjalanan Hany Scraft dimulai pada 2013. Saat itu, Suhenik hanya mengandalkan keterampilan merajut untuk membuat bros yang kemudian dipasarkan kepada tetangga, teman hingga lingkungan pondok pesantren.

“Awalnya saya merajut sendiri. Tahun 2013 saya mulai dari membuat bros, saya tawarkan ke teman-teman, tetangga, sampai ke pondok pesantren. Lama-lama pesanan bertambah, kemudian saya mengembangkan produk menjadi sepatu bayi, lalu dress bayi satu set,” kata Henik saat di tenantnya.

Melihat respons pasar yang positif, ia mulai menitipkan produknya di toko perlengkapan bayi dan pasar tradisional. Tak berhenti di situ, Henik memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran.

“Saya mulai jualan secara online di Shopee dan TikTok Shop. Alhamdulillah penjualannya terus berkembang sampai sekarang,” imbuhnya sembari menata produknya.

Berkembangnya usaha membuat Henik tak lagi bekerja sendiri. Ia mulai mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk belajar merajut hingga akhirnya menjadi perajin tetap.

Saat ini, Hany Scraft telah memberdayakan 64 perajin yang seluruhnya bekerja dari rumah (home based production). Sebagian besar berasal dari Desa Pohgedang, sementara lainnya berasal dari desa-desa sekitar.

“Awalnya saya hanya mengajak satu tetangga. Lama-lama semua ibu-ibu di sekitar sini saya ajari merajut. Sekarang total ada sekitar 64 orang yang ikut bekerja bersama kami, semuanya mengerjakan dari rumah masing-masing,” jelasnya.

Sebelum menerima pekerjaan, setiap perajin terlebih dahulu mendapatkan pelatihan teknik merajut.

“Saya ajari dulu dari nol, mulai teknik dasar, cara menghitung pola sampai rumus setiap produk. Setelah benar-benar bisa, baru saya berikan pekerjaan,” ungkap perempuan 40 tahun ini.

Menurut Henik, teknik merajut membutuhkan ketelitian tinggi karena setiap produk memiliki pola berbeda.

“Dalam merajut ada teknik seperti DC, SC, rantai dan berbagai hitungan lainnya. Setiap model memiliki rumus sendiri, jadi memang harus teliti,” jelasnya.

Dengan dukungan puluhan perajin, Hany Scraft mampu memproduksi ratusan produk setiap bulan. Misalnya, satu dress rajut bayi membutuhkan waktu pengerjaan sekitar satu hari bagi perajin berpengalaman. Sementara sepatu bayi dapat diselesaikan sekitar dua jam.

Dalam sebulan, Hany Scraft mampu menghasilkan sekitar 300 set pakaian bayi rajut. Jika ditambah produksi tas, total produksinya mencapai sekitar 500 produk setiap bulan.

Produk yang dipasarkan pun cukup beragam, mulai untuk bayi baru lahir hingga anak usia dua tahun.

Baca Juga : LIRA Soroti Potensi Anggaran Dobel jika Penggunaan APBD untuk Pembangunan Kios di Pasar Karangploso Terealisasi

Harga yang ditawarkan juga bervariasi, yakni bando sekitar Rp 15 ribu, sepatu bayi Rp 25  ribu, topi bayi Rp 25  ribu, dress rajut bayi dibanderol Rp 125 ribu hingga Rp 155 ribu, sedangkan tas rajut dijual mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan.

Keunikan desain dan kualitas produk membawa Hany Scraft menembus pasar internasional. Melalui pemasaran digital, produknya kini telah dikirim ke berbagai negara.

“Pembeli dari luar negeri tahu produk saya dari TikTok. Sekarang sudah pernah kirim ke Eropa, Malaysia, Korea, bahkan tas rajut kami juga pernah dikirim ke Amerika,” ucap Henik bangga.

Menurutnya, media sosial menjadi salah satu kunci membuka pasar yang lebih luas tanpa harus memiliki toko fisik di luar negeri.

Di balik kesuksesan tersebut, Henik mengaku pernah mengalami masa paling sulit pada 2020. Saat itu telepon genggamnya hilang sehingga seluruh akun penjualan online tidak dapat diakses karena lupa kata sandi. Akibatnya, aktivitas penjualan terhenti total.

“Waktu itu HP saya hilang. Semua akun jualan tidak bisa dibuka karena saya lupa password. Saya benar-benar bangkrut. Semua karyawan akhirnya bekerja sendiri-sendiri karena tidak ada pesanan. Itu masa paling berat dalam usaha saya,” kenangnya.

Meski sempat terpuruk, Henik memilih bangkit dari awal. Ia kembali merajut sendiri, membangun jaringan pelanggan, hingga akhirnya kembali mendapatkan pesanan dari luar negeri.

“Saya mulai lagi dari nol. Alhamdulillah sekarang bisa bangkit lagi, dapat pesanan ekspor, ikut berbagai pameran dan Hany Scraft semakin dikenal,” terangnya.

Perjalanan Hany Scraft menjadi UMKM binaan KPw BI Malang juga tidak terjadi begitu saja. Henik mengawali proses tersebut melalui kurasi produk yang digelar di Kabupaten Pasuruan.

“Awalnya saya mengikuti kurasi yang difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama Bank Indonesia. Dari sana saya lolos 50 besar, kemudian masuk 15 besar hingga akhirnya menjadi UMKM binaan Bank Indonesia,” jelasnya.

Melalui pembinaan tersebut, Suhenik berharap Hany Scraft dapat terus berkembang sekaligus membuka lapangan pekerjaan lebih luas bagi perempuan di desa.

“Harapan saya usaha ini terus berkembang sehingga semakin banyak ibu-ibu yang bisa mendapatkan penghasilan dari rumah melalui keterampilan merajut,” tutupnya.


Topik

Ekonomi Hany Scraft Pasuruan UMKM Rajut Bayi Pasar Internasional Perajin



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni