JATIMTIMES - Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) masih menjadi sorotan sampai saat ini. Setelah muncul penolakan dalam aksi di berbagai daerah, kini mulai muncul aksi aksi tandingan.
Di Kota Malang, aksi unjuk rasa yang turut menyuarakan penolakan terhadap MBG berlangsung pada Senin (15/6/2026) dan Rabu (17/6/2026).
Baca Juga : Kanker Payudara di Kota Batu Tembus 73 Kasus Didominasi Karena Minimnya Deteksi Dini
Merespon hal tersebut, Sabtu (20/6/2026) akan digelar aksi yang disebut aksi tandingan. Pasalnya, aksi yang dikemas rapi tersebut akan melibatkan banyak entitas.
Diantaranya yakni mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se Malang Raya, jaringan peternak hingga kalangan pelaku UMKM.
Bertajuk 'Seruan Aksi Damai 15 Ribu Simpatisan MBG Malang Raya', aksi itu akan digelar di area Alun-Alun Tugu Kota Malang.
"Ada yang terlibat dari jaringan para peternak, petani, terus kemudian para pelaku UMKM, terus kemudian para pekerja SPPG di seluruh dapur di Malang Raya," jelas Ketua Panitia, Gandhung dalam konferensi pers pada Jumat (19/6/2026).
Bukan tanpa alasan jika kegiatan itu disebut sebagai aksi tandingan. Sebab seluruh kegiatan telah ditata sedemikian rapi lengkap dengan rundownnya.
Beberapa kegiatan diantaranya seperti apel akbar, senam bersama, donor darah, stand UMKM hingga pembagian doorprize.
Untuk gelaran seperti itu tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sangat berbeda dengan aksi yang digelar mahasiswa yang hanya bermodal ban bekas, banner bekas untuk tuntutan dan tekad kuat dalam menyuarakan kepentingan masyarakat.
Baca Juga : Banyaknya Persoalan Menu MBG dan SPPG di Lamongan, Satgas Dianggap Kurang Tegas
Aksi ini kabarnya diinisiasi dan didanai patungan para pemilik SPPG yakni para pengusaha yang namanya cukup dikenal di Malang Raya.
Meskipun digelar di tengah maraknya penolakan terhadap MBG, inisiator aksi damai, Djoni Sudjatmoko enggan menyebutnya sebagai aksi tandingan. Dirinya lebih memilih bahwa itu merupakan aksi damai dengan melibatkan para penerima manfaat.
Djoni memandang bahwa informasi soal pelaksanaan program MBG sudah mulai bias dan tak sesuai fakta. Banyak yang beranggapan bahwa program tersebut tak memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi.
"Faktanya, banyak petani, peternak, pelaku UMKM yang merasakan dampak manfaat dari program MBG. Namun mereka tidak bermain sosmed sehingga tidak bersuara," ujarnya.
