Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Di Bawah Hujan Peluru Kompeni: Rekonstruksi Serangan Pangeran Arya Blitar ke Kartasura (1719)

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

31 - Dec - 2025, 16:40

Placeholder
Ilustrasi serangan Pangeran Arya Blitar ke Istana Kartasura yang menggambarkan bentrokan langsung antara elite Mataram dan pasukan Kompeni dalam krisis kekuasaan awal abad ke 18.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Awal abad ke-18 merupakan masa paling rapuh dalam sejarah Mataram setelah geger Trunajaya. Kartasura berdiri sebagai pusat kekuasaan yang goyah, dipenuhi dendam keluarga, luka politik, dan bayang-bayang intervensi Kompeni. Kematian Susuhunan Pakubuwana I, sang raja yang menegakkan kembali Mataram dengan bantuan VOC, kembali membuka ketegangan lama yang tak pernah selesai: perebutan takhta, rivalitas darah, dan krisis legitimasi.

Penggantinya, Raden Mas Suryaputra, naik sebagai Amangkurat IV. Namun takhta itu tidak berdiri di atas fondasi kokoh. Di balik tembok kedaton, saudara-saudaranya menyimpan kepahitan lama. Di luar kota, para bangsawan dan pangeran yang terbuang menunggu kesempatan bangkit, didukung ulama, haji, pertapa, dan kekuatan lokal yang merasa ditekan oleh kebijakan istana.

Baca Juga : Daftar Weton yang Diprediksi Hoki dan Membawa Keberuntungan di 2026

 

Dalam konteks inilah panggung disiapkan bagi pemberontakan besar tahun 1719, sebuah ledakan kesetiaan, dendam, dan legitimasi, yang dipimpin Pangeran Arya Blitar dan Pangeran Purbaya. Babad Tanah Jawi mencatatnya dengan detail dramatik: serangan gelap, perang sabil, pendirian kerajaan tandingan, hingga hujan peluru Kompeni yang membelah kegelapan pagi di Kartasura.

Artikel ini berupaya merekonstruksi peristiwa tersebut secara runut, kritis, dan analitis, dengan bertumpu pada sumber primer tradisional seperti Babad Tanah Jawi dan Babad Kartasura.

Masjid kartasura

Dari Madiun: Panembahan Herucakra Menyusun Ambisi Takhta

Kisah ini dimulai di Madiun. Panembahan Herucakra, salah satu pangeran senior Mataram, mendengar kabar bahwa ayahandanya, Sunan Pakubuwana I, telah mangkat dan takhta jatuh ke tangan Raden Mas Suryaputra. Babad menggambarkan bahwa Herucakra tidak melihat perubahan ini sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Ia segera mengerahkan seluruh balatentaranya, berangkat menuju Kartasura, dan mendirikan markas perang di sebelah barat Gunung Lawu, di desa Pandonan, tanah Sukawati. Di tempat itu ia membangun alun-alun dan kedaton yang menyerupai Kartasura.

Pembuatan “keraton bayangan” ini penting secara historiografis karena menunjukkan bahwa konflik yang terjadi bukan sekadar pemberontakan, melainkan sebuah klaim legitimasi. Dengan membangun kedaton, alun-alun, dan tata baris, Panembahan Herucakra meniru simbol pusat kekuasaan. Langkah politik seperti ini kemudian diulangi oleh Pangeran Purbaya dan Arya Blitar.

Namun kemudian narasi berbelok, dan fokus bergeser kepada sosok yang kelak menjadi ujung tombak serangan, yakni Pangeran Arya Blitar.

Herucakra

Pangeran Arya Blitar: Diplomasi Singkat, Tekad Mengeras

Pangeran Arya Blitar mempersiapkan dirinya menghadapi Kartasura dengan membawa bala pasukan sekitar 1.500 orang, formasi besar yang mencakup para santri, para haji, pemimpin pasukan daerah, dan perangkat perang. Dengan penuh keyakinan bahwa jalannya telah direstui oleh darah agung yang diwarisinya, ia mengutus seorang duta menuju loji Belanda untuk menyampaikan tuntutannya atas takhta Kartasura.

Jawaban Kapten Jaswa, sebagaimana terekam dalam babad, kembali menguatkan watak politik VOC yang selalu berhitung dingin:

“Kompeni tidak ikut campur, sebab perebutan kekuasaan itu sama-sama saudara Jawa. Siapa yang jaya, itulah yang saya sembah; siapa kalah mesti saya jajah.”

Itulah asas yang sejak awal melekat pada VOC: tidak memihak sebelum memastikan siapa yang akan menang, dan setelah itu mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Di mata Pangeran Arya Blitar, jawaban itu terdengar sebagai isyarat netralitas; padahal ia gagal membaca bahwa VOC selalu berdiri di sisi status quo dan kekuasaan yang menguntungkan mereka. Namun justru jawaban itu yang membuat hatinya teguh. Jika Kartasura dibiarkan tanpa sokongan Kompeni, maka peluang untuk mengangkat dirinya sebagai raja tandingan terbuka lebar. Dari benak itu lahirlah tekad bulat: perang sabil.

Untuk memahami tekad dan militansi Pangeran Arya Blitar, akar genealoginya harus dijelaskan secara utuh. Ia bukan sekadar pangeran muda yang kecewa pada dinamika istana; ia adalah pengemban tiga garis besar legitimasi politik Jawa: trah Pakubuwanan, trah Madiun–Demak, dan trah Panembahan Senapati.

Pangeran Arya Blitar bernama asli Raden Mas Sudomo. Ia adalah putra Pangeran Puger yang naik takhta dengan gelar Sunan Pakubuwana I pendiri Dinasti Pakubuwanan dinasti yang kelak melahirkan Surakarta Yogyakarta Mangkunegaran dan Pakualaman. Melalui garis ayahnya Arya Blitar mewarisi darah Panembahan Senapati Sultan Agung hingga Amangkurat I para pendiri dan penopang utama Kesultanan Mataram Islam. Namun legitimasi darahnya tidak berhenti pada trah istana Mataram semata ia juga mewarisi darah Kajoran salah satu poros spiritual dan genealogis terpenting dalam sejarah Jawa Islam.

Garis Kajoran itu mengalir ke dalam darah Dinasti Pakubuwanan melalui Kanjeng Ratu Wetan yang juga dikenal sebagai Ratu Mas Pelabuhan permaisuri kedua Susuhunan Amangkurat I dan ibu dari Pangeran Puger kelak bergelar Susuhunan Pakubuwana I. Kanjeng Ratu Wetan merupakan cicit langsung Panembahan Agung Kajoran yang lebih dikenal dalam tradisi Jawa sebagai Sunan Kajoran tokoh kharismatik pendiri Wangsa Kajoran dan salah satu figur penting dalam jaringan ulama Jawa pasca Wali Songo.

Sunan Kajoran bernama asli Pangeran Maulana Mas putra Sayid Kalkum Adipati Ponorogo II dan menantu Batoro Katong. Ia merupakan keturunan langsung Sunan Ampel melalui jalur Pangeran Tumapel atau Syekh Hambyah. Sebagai buyut Sunan Ampel ia dikirim ke Cirebon untuk memperdalam ilmu agama kepada Sunan Gunung Jati. Setelah menyelesaikan pendidikan keagamaannya ia tidak kembali ke Surabaya atau Ponorogo melainkan mengembara untuk menyebarkan Islam hingga akhirnya menetap di wilayah selatan Klaten yang kemudian dikenal sebagai Kajoran. Dari tempat inilah Wangsa Kajoran bermula dan berkembang sebagai pusat otoritas spiritual sekaligus kekuatan politik di Jawa.

Panembahan Agung Kajoran menikah dengan dua putri Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran II saudara dari Sayid Kalkum. Dari perkawinan ini lahir sejumlah tokoh penting yang menghubungkan trah ulama Kajoran dengan elite politik Mataram. Putrinya RAy Kajoran dinikahkan dengan Panembahan Senapati pendiri Kesultanan Mataram Islam dan menurunkan Adipati Rio Menggala serta Adipati Jayaraga di Ponorogo. Putranya Raden Suroso atau Pangeran Agus menikah dengan Roro Subur putri Ki Ageng Pemanahan dan menurunkan Pangeran Raden ing Kajoran Panembahan Purbaya I serta RAy Minangkabau.

Dari Pangeran Raden ing Kajoran yang menikah dengan RAy Wangsa Cipta putri Panembahan Senapati lahir RAy Panembahan Raden. Tokoh perempuan inilah yang kemudian menikah dengan Panembahan Raden putra Pangeran Mas keturunan Pangeran Benowo Pajang dan melahirkan Kanjeng Ratu Wetan atau Ratu Mas Pelabuhan permaisuri Susuhunan Amangkurat I serta ibu dari Pangeran Puger.

Dengan demikian darah Kajoran yang berakar pada Sunan Ampel dan jaringan Wali Songo mengalir langsung ke dalam tubuh Pakubuwanan melalui jalur perempuan istana. Perpaduan antara trah ulama Kajoran dan trah raja Mataram inilah yang memberi legitimasi spiritual sekaligus politik bagi Pangeran Puger dan keturunannya termasuk Pangeran Arya Blitar menjadikan konflik yang mereka jalani bukan sekadar perebutan takhta melainkan pertarungan atas warisan agama darah dan kuasa di tanah Jawa.

Dengan demikian Pangeran Arya Blitar berdiri di persilangan dua legitimasi besar trah raja raja Mataram dari Panembahan Senapati hingga Sultan Agung dan trah ulama Kajoran yang berakar pada jaringan Wali Songo. Perpaduan inilah yang menjelaskan mengapa perjuangan Arya Blitar tidak hanya tampil sebagai konflik politik istana melainkan juga sebagai perang legitimasi moral dan spiritual di mata para pendukungnya.

Sementara dari garis ibunya, ia membawa warisan yang lebih kompleks dan lebih tua. Ibundanya adalah Ratu Mas Blitar, bangsawan utama Madiun yang merupakan keturunan langsung Retno Dumilah, perempuan panglima perempuan yang termasyhur dalam sejarah Jawa.

Retno Dumilah adalah putri Pangeran Timur, bupati pertama Madiun dan putra Sunan Prawoto, raja terakhir Kesultanan Demak. Dari garis itulah trah Demak mengalir ke jalur Madiun. Retno Dumilah kemudian menikah dengan Panembahan Senapati dari garis pedalaman, pendiri Kesultanan Mataram. Melalui perkawinan itu, dua garis besar kekuasaan, yaitu Demak yang religius dan Mataram yang politis, bertemu dalam satu sosok perempuan yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah Jawa.

Dari ikatan Retno Dumilah dan Panembahan Senapati lahir Panembahan Juminah, Bupati Madiun (1601–1613) yang sekaligus merupakan paman Sultan Agung. Ketika Ratu Mas Hadi, ibu Sultan Agung, kembali menjadi janda, ia dinikahkan dengan Panembahan Juminah. Dari pernikahan tersebut lahirlah Pangeran Adipati Balitar II, yang kemudian menjabat Bupati Madiun (1645–1677). Jabatan itu lalu diwariskan kepada putranya, Pangeran Tumenggung Balitar Tumapel III (1677–1703), dan diteruskan oleh cucunya, Pangeran Arya Balitar IV (1704–1709). Dari garis terakhir inilah lahir Kanjeng Ratu Mas Blitar, kelak permaisuri Pakubuwana I.

Dengan demikian, Ratu Mas Blitar mewarisi tiga lapis legitimasi genealogis: warisan Demak sebagai pusat kekuasaan Islam pertama di Jawa; kekuatan politik-militer Pajang dan Madiun sebagai trah Pangeran Timur; serta otoritas Mataram sebagai pewaris kerajaan-kerajaan Jawa lama. Seluruh jalur ini berkelindan dalam dirinya, menjadikan Ratu Mas Blitar sebagai simpul genealogis tempat bersatunya Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram dalam satu garis darah yang memadukan kekuasaan religius, politik, dan dinasti.

Dalam lingkar kekuasaan Kartasura awal abad ke-18, sosok perempuan sering dicatat sekilas sebagai pelengkap struktur istana. Namun Kanjeng Ratu Mas Blitar, atau GKR Puger, adalah pengecualian. Ia bukan sekadar permaisuri Pakubuwana I, tetapi pusat jalinan kekuasaan yang menghubungkan empat dinasti penerus Jawa: Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

Perannya semakin kuat karena silsilahnya. Sebagai cucu trah Bupati Madiun yang menurunkan Panembahan Senapati, ia memikul legitimasi spiritual dan politik yang kokoh. Ketika dinikahkan dengan Pangeran Puger pada masa krisis suksesi Mataram, statusnya sebagai putri Madiun memberi daya tawar politik yang besar. Dukungan Madiun serta legitimasi genealogis yang dibawanya ikut memperkukuh posisi Pangeran Puger ketika naik takhta sebagai Pakubuwana I setelah Amangkurat III tumbang.

Di Kartasura, Ratu Mas Blitar tidak hanya berperan sebagai permaisuri, tetapi tampil sebagai aktor strategis. Ia adalah ibu dari GRM Suryaputra (Sunan Amangkurat IV), GRM Sasangka (Pangeran Purbaya), dan GRM Sudomo (KGPA Arya Blitar). Melalui jalur anak dan cucu inilah hampir seluruh elite Jawa abad kedelapan belas, termasuk Pakubuwana II, Sultan Hamengkubuwana I, dan Pangeran Sambernyawa, bertumpu pada trahnya.

Para sejarawan menggambarkannya sebagai perempuan yang cermat, penuh perhitungan, dan memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah politik dinasti. Hubungannya dengan Patih Danureja, misalnya, dipenuhi ketegangan yang menunjukkan adanya pertarungan kekuasaan tingkat tinggi di lingkar istana.

Kuncen kota madiun

Tokoh-Tokoh Bernama Arya Blitar/Balitar dalam Historiografi Jawa

Untuk menghindari kekacauan identifikasi, penting membedakan sejumlah tokoh yang dalam berbagai sumber babad dan tradisi lokal sama-sama menyandang nama atau gelar Arya Blitar/Balitar. Kesamaan penamaan ini kerap menimbulkan tumpang tindih dalam pembacaan sejarah, terutama ketika narasi-narasi dari periode berbeda berkelindan dalam satu tradisi lisan.

Dalam konteks Kartasura awal abad ke-18, Pangeran Arya Blitar yang dimaksud adalah tokoh utama dalam pembahasan ini: putra Pakubuwana I dan Ratu Mas Blitar. Ia memimpin operasi militer untuk menumpas sisa-sisa loyalis Amangkurat III dan kemudian menjadi figur penting dalam pemberontakan Kartasekar terhadap Amangkurat IV. Gelar “Arya Blitar” dalam kasus ini adalah gelar bangsawan Mataram yang dilekatkan pada pewaris darah keraton, bukan gelar pejabat daerah.

Berbeda dari itu terdapat tokoh lain yang kerap menimbulkan kekeliruan identifikasi yakni Arya Pulangjiwa seorang pejabat tinggi pada masa Amangkurat III yang pernah menyandang gelar Arya Balitar. Ketika Pakubuwana I naik takhta gelar tersebut dicabut dan dialihkan kepada putranya yang kelak dikenal sebagai Pangeran Arya Blitar. Pengalihan gelar ini memicu sakit hati Arya Pulangjiwa hingga ia membelot bersekutu dengan musuh dan akhirnya ditangkap serta dieksekusi oleh pasukan Arya Blitar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa dalam tradisi gelar Jawa arang arangan tidak sekadar menyangkut status administratif melainkan juga menyentuh harga diri dan legitimasi politik. Hal ini juga berkaitan dengan fakta bahwa leluhur Arya Blitar secara turun temurun memang menyandang gelar Pangeran Balitar sehingga pengalihan gelar tersebut memiliki makna simbolik yang sangat dalam.

Selain dua tokoh tersebut, terdapat pula Arya Balitar dari era Majapahit–Demak, yang berdiri pada horizon sejarah yang jauh lebih awal namun penting diulas untuk menjernihkan makna genealogis nama “Blitar/Balitar”. Berdasarkan naskah Tedhak Pusponegaran, Serat Kandaning Ringgit Purwa, serta tradisi tutur Blitar, Adipati Arya Balitar adalah penguasa Kadipaten Balitar pada masa keruntuhan Majapahit. Ia merupakan putra Raden Kusen Adipati Terung, saudara seibu Raden Patah pendiri Kesultanan Demak. Melalui Raden Kusen, garis keluarga ini tersambung langsung kepada Arya Damar (Ario Abdillah), Adipati Palembang dan putra Brawijaya V. Dengan demikian, Arya Balitar era Demak merupakan keturunan Majapahit yang terasimilasi dalam elite Islam awal.

Dalam tradisi Blitar dan Tulungagung, Arya Balitar juga dikenal sebagai saudara kandung Adipati Sengguruh, penguasa Kadipaten Sengguruh di Malang selatan. Keduanya tampil penting dalam masa peralihan—bukan saja sebagai pejabat regional, tetapi juga sebagai aktor dakwah dan integrasi politik yang memadukan darah Majapahit, Demak, dan Ampel.

Kisah mereka berakhir tragis ketika Adipati Srengat Nilosuwarno dan Adipati Panjer menyerang rombongan mereka yang baru kembali dari ziarah ke makam Sunan Giri. Dalam pertempuran berat di tepi Sungai Brantas, baik Arya Balitar maupun Adipati Sengguruh gugur bersama hampir seluruh pengiringnya. Peristiwa tersebut direkam dalam Babad Pusponegoro sebagai tragedi besar yang mencerminkan kerasnya politik lokal di masa pasca-Majapahit, ketika wilayah-wilayah kecil berkompetisi untuk menguasai ruang kekuasaan yang kosong.

Walaupun berasal dari zaman yang berbeda, ketiga tokoh ini sama-sama memperlihatkan betapa gelar “Arya Blitar/Balitar” bukan sekadar penanda tempat, tetapi juga simbol status politik, identitas genealogis, dan legitimasi kekuasaan. Pangeran Arya Blitar dari Kartasura adalah bangsawan istana yang hidup dalam pusaran politik Dinasti Pakubuwanan. Arya Pulangjiwa adalah pejabat yang terlibat konflik gelar pada masa peralihan kekuasaan Amangkurat III–Pakubuwana I. Sementara itu, Adipati Arya Balitar dari era Majapahit–Demak merupakan figur genealogis penting yang menghubungkan trah Majapahit, Demak, dan Ampel.

Memisahkan ketiga figur ini bukan hanya upaya klarifikasi terminologis, tetapi juga langkah penting dalam rekonstruksi historiografi, agar setiap tokoh dipahami dalam konteks zamannya dan tidak terjerat dalam kekacauan naratif yang sering muncul dalam tradisi babad.

Makam Bupati Madiun

Arya Blitar dalam Perang Melawan Amangkurat III

Setelah Amangkurat III kalah dalam Perang Suksesi I dan melarikan diri hingga ke Blitar, Pakubuwana I masih dibayangi sisa-sisa kekuatan loyalis. Untuk menumpas semua ancaman itu, dikirimlah putra kepercayaannya—Pangeran Arya Blitar. Empat tugas besar dibebankan di pundaknya:
menjemput pusaka kerajaan, menghancurkan sisa loyalis Amangkurat III, menata ulang kekuatan di Jawa Timur, dan memastikan tidak ada pusat pemberontakan baru.

Tatkala utusannya menyampaikan permintaan penyerahan pusaka, Amangkurat III menolak. Ia bahkan berbohong bahwa VOC mengundangnya ke Surabaya untuk memulihkan takhta. Arya Blitar murka. Babad mencatat ucapannya:
“Jika aku tahu dia berbohong demikian, pasti kuremas mulutnya.”

Kemarahan itu memuncak ketika terdengar kabar bahwa Arya Pulangjiwa telah melarikan diri. Dua perwira unggulan—Suralaya dan Barebes—langsung diperintahkan mengejar. Pulangjiwa ditemukan di hutan Pasuruan, ditangkap, dan dipenggal; kepalanya diarak ke Malang sebagai bukti penghabisan pengkhianat.

Ekspedisi Arya Blitar terus bergerak. Malang dan Pasuruan dibumihanguskan dari basis loyalis Amangkurat III. Para tokoh seperti Ki Wiraguna, Mandurareja, Arya Tiron, dan Mangunagara ditawan. Putri-putri dan perempuan bangsawan lokal dibawa ke Kartasura sebagai tanda tunduk.

Dalam laporan resmi kepada ayahandanya, Arya Blitar menyatakan bahwa seluruh wilayah timur kini bersih dari pengaruh raja lama.

Pakubuwana I membalas dengan penghormatan yang luar biasa:
"Anakku, aku berbesar hati karena ternyata engkau dapat memenangkan peperangan."

Di sinilah Arya Blitar berdiri, bukan sekadar sebagai komandan muda, tetapi sebagai alat pemulihan legitimasi Pakubuwanan.

Namun langit politik berubah ketika Pakubuwana I wafat pada 1719. Takhta jatuh kepada Raden Mas Suryaputra dengan gelar Sunan Amangkurat IV. Pergantian ini menjadi luka baru bagi Arya Blitar. Wilayah apanage Jagaraga dan Blora, dua simbol kedaulatan keluarga Pakubuwanan lama, dicabut darinya. Baginya, ini bukan hanya kehilangan tanah, tetapi penistaan martabat.

Makam Amangkurat III

Pukul Tiga Pagi: Serangan Gelap Menuju Jantung Keraton

Barisan disusun. Ki Garwa Kanda memimpin barisan depan, disusul Seca Dirana, Panji Toh Pati, dan Karta Bangsa. Pangeran Arya Blitar berada di belakang sebagai pengendali serangan.

Gerakan pasukan digambarkan babad sebagai operasi gelap:

“Berangkat pukul tiga pagi, melalui sebelah selatan masjid besar.”

Target pertama mereka adalah penjara di barat Sitihinggil. Ki Garwa Kanda langsung menombak menteri jaga hingga tewas. Penjara dirusak, dan anaknya, Ragum, berhasil dibebaskan. Serangan itu segera memicu kegemparan di dalam keraton.

Tumenggung Mangun Oneng, kepala jaga malam, lari menuju loji, memanggil serdadu Kompeni. Kapten Jaswa yang sebelumnya “netral” kini panik dan segera mengerahkan pasukan VOC.

Baca Juga : Pemkab Blitar Tuntaskan Redistribusi Tanah, 3.132 Warga Terima Sertifikat

 

Pertempuran besar pun pecah.Hujan Peluru di Kori Gapit: Pemberontakan Ditahan Moncong Senjata

Setibanya di kori gapit, serdadu Belanda melepaskan tembakan bertubi-tubi. Babad Tanah Jawi mencatat detail menegangkan:

“Bala kablitaran disambut peluru yang keluar dari mulut senjata serdadu Kompeni.”

Ki Seca Dirana dan Panji Toh Pati tewas di tempat. Meriam dikerahkan, tetapi serangan itu tak mampu menembus barisan Belanda yang dilindungi posisi strategis.

Pangeran Arya Blitar berniat mengamuk, tetapi keinginan itu mustahil dilakukan di tengah derasnya tembakan senapan Eropa. Serangan mereka runtuh perlahan. Ketika fajar mulai terbit, keputusan sulit diambil, yaitu mundur ke Kapurbayan.

Pertempuran

Tangis Ratu Mas Blitar: Luka Ibu dari Anak-Anak yang Berperang

Adegan berikutnya menyuguhkan nuansa emosional yang jarang muncul dalam babad perang: suara seorang ibu yang menyaksikan anak-anaknya saling membunuh.

Ratu Mas Blitar, yang juga dikenal sebagai Ratu Pakubuwana dan merupakan ibu dari Amangkurat IV, Pangeran Blitar, dan Pangeran Purbaya, naik ke Gunung Kunci di dalam keraton. Dari tempat itu ia menyaksikan asap perang yang membubung dari kejauhan. Babad Tanah Jawi menuliskan bahwa ia berseru demikian.

“Kulup, cepat-cepat mengungsilah kepada kakakmu si Purbaya.
Orang Kompeni tidak memburu; mereka menata meriam.”

Seruan itu menggambarkan dua hal: kesedihan seorang ibu, dan wawasan tajam akan bahaya meriam VOC yang mulai diarahkan ke putranya.

Pangeran Arya Blitar memutuskan pergi ke Kapurbayan.

Pangeran Purbaya: Pertemuan Dua Saudara yang Terluka

Pangeran Purbaya dikejutkan oleh suara gaduh. Ia keluar dalam keadaan belum rapi, dan melihat adiknya yang baru saja gagal merebut Kartasura.

Deskripsi Babad Tanah Jawi menekankan suasana emosional:

“Pangeran Purbaya terdiam membeku. Bibirnya seperti terkunci.”

Ia terjebak antara kesetiaan kepada adiknya dan kesetiaannya kepada Amangkurat IV yang lebih tua. Namun setelah menarik napas panjang dan menyebut asma Allah, ia memilih satu jalan:

“Dimas, sudahlah. Ya, saya akan membela kamu.”

Inilah momen kunci. Dengan Pangeran Purbaya sebagai pemimpin militer paling dihormati di Jawa Tengah, pemberontakan Pangeran Blitar berubah menjadi gerakan besar.

Pangeran Mataram

Pelarian Besar: Menembus Selatan Keraton Menuju Deresan

Rombongan Purbaya dan Arya Blitar bergerak melalui sisi selatan keraton. Atas perintah Purbaya, pasukan segera membakar Pasowanan Selatan dan menghancurkan pintu-pintu kedaton. Namun di tengah kobaran api dan dentuman tembok yang rubuh, tidak ada satu pun prajurit keparak yang mengangkat senjata; semuanya menyerah tanpa perlawanan.

Ketika pasukan Belanda datang dan menembak, barisan Purbaya mundur diam-diam menuju Desa Deresan. Di sana mereka bermalam.

Sosok penting muncul: Mangun Oneng, abdi Purbaya yang dulu Bupati Pati. Ia meminta izin kembali ke Pati untuk mengumpulkan bala baru. Permohonan dikabulkan. Jaringan pemberontakan mulai merentang ke berbagai daerah.

Purbaya

Ke Mataram Lama: Lahirnya Kerajaan Bayangan Karta Sekar

Perjalanan itu kemudian berlanjut menuju Mataram, tepatnya ke Kota Karta, lokasi proyek kedaton Sultan Agung yang tidak pernah rampung tetapi tetap menyimpan makna simbolis sebagai pusat sakral dan historis dinasti. Di tempat yang sarat legitimasi itu, kedua pangeran mendirikan “Karta Sekar,” sebuah formasi negara baru lengkap dengan pagar keliling, tatanan kota, dan struktur pemerintahan yang meniru Kartasura.

Seperti pusat kekuasaan alternatif, Karta Sekar segera dipadati rakyat Mataram. Banyak yang “sujud” ke sana, tanda dukungan yang terus mengalir.

Pangeran Purbaya mengumpulkan pertapa, haji, dan ulama dari wilayah Mataram. Tokoh Kyai Wanagiri dari tanah perdikan menjadi figur keagamaan penting.

Situs keraton karta

Penobatan Raja Baru: Pangeran Arya Blitar Menjadi Sultan Ibnu Mustafa Paku Buwana

Dalam satu sidang besar di hadapan haji, ulama, pertapa, dan bala perang, Pangeran Purbaya menyampaikan deklarasi dramatis:

“Adimas Pangeran Adipati Blitar saya angkat menjadi raja,
bertakhta di Karta Sekar,
bergelar Sultan Ibnu Mustafa Paku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdur Rahman Sayidin Panatagama.”

Inilah inti legitimasi pemberontakan tahun 1708. Kartasura dianggap kehilangan kesakralannya akibat intervensi Kompeni. Dari kondisi itu lahirlah raja tandingan, seorang raja yang dianggap murni oleh para pendukungnya, dengan legitimasi moral yang diperkuat oleh dukungan para ulama.

Pangeran Purbaya sendiri bergelar Panembahan Senapati Ning Prang, menegaskan dirinya sebagai panglima perang.

Pangeran Riya, anak angkat Purbaya, diangkat menjadi Pangeran Adipati Anom Mangkunegara. Struktur birokrasi baru pun segera dibentuk, dengan Tumenggung Jaya Brata atau Ki Garwa Kanda menjabat sebagai patih, Tumenggung Wira Negara atau Wangsa Dirja, Adipati Lumarap atau Bangsa Patra, dan Tumenggung Sindu Reja atau Ki Mas Gerit menempati posisi strategis lainnya. Gerakan ini bukan sekadar pemberontakan; ia sesungguhnya merupakan negara paralel.

Pangeran Purbaya dan Pangeran Arya Blitar tidak menunggu lama untuk memperluas pengaruh politik mereka. Tumenggung Sindu Reja dikirim menaklukkan Kedu dan berhasil, sementara Adipati Lumarap diperintahkan ke Pajang untuk membangun kubu di Dresanan. Desa-desa di kanan-kiri Kartasura banyak yang tunduk, dan barisan kekuatan mereka semakin besar, sementara Kartasura justru semakin kosong karena ditinggalkan rakyatnya. Babad Tanah Jawi mencatat, “Negara Kartasura seperti daerah kosong tak berpenghuni,” menunjukkan sejauh mana krisis legitimasi menekan Amangkurat IV.
Kartasura Terancam: Kota Digempur Kelaparan dan Kekosongan

Situasi di Kartasura memburuk. Pangan langka, banyak desa tidak lagi mengirim hasil bumi, rakyat mengungsi ke kubu Purbaya dan Arya Blitar, dan banyak pejabat memilih meninggalkan kota. Amangkurat IV hanya didukung sisa bala kadipaten dan sejumlah pejabat yang belum melarikan diri. Untuk mengamankan kebutuhan pangan, saudagar kaya Prana Suta diangkat sebagai Tumenggung Subrata dan diperintahkan mengumpulkan bahan makanan dari desa-desa, namun keberhasilannya terbatas karena sebagian besar desa telah berpihak pada Karta Sekar. Sementara itu, ribuan serdadu Kompeni didatangkan dari Semarang dan ditempatkan mengelilingi kedaton Kartasura, menjadikan VOC sebagai dinding pertahanan terakhir Amangkurat IV.

Raja baru

VOC Turun Tangan: Amral dan Bupati Pesisir Dipanggil

Amangkurat IV mengirim utusan ke Surabaya, memanggil Tuan Amral, Ki Patih Cakra Jaya, serta bupati-bupati pesisir dari Madura, Tuban, Sedayu, Gresik, Lamongan, dan Ngabei Toh Jaya. Seruan ini menunjukkan satu hal dengan jelas: Kartasura tengah bersiap menghadapi perang besar.

VOC yang sebelumnya “netral” kini terlibat penuh. Kapten Besing memimpin satu bregada besar menuju Kartasura.

Amral para patih dan bupati pesisir berangkat dengan bala lengkap sebuah gelombang kekuatan besar yang kelak menjadi beban terberat bagi Purbaya dan Arya Blitar dalam babak-babak berikutnya.

Raja dan VOC

Catatan Akhir: Api Besar yang Akhirnya Padam

Artikel ini menutup satu fase dramatis dalam sejarah Jawa awal abad ke-18: serangan awal Pangeran Arya Blitar, pelarian ke Kapurbayan, pembentukan negara tandingan Karta Sekar, hingga ekspansi wilayah yang menantang pusat kekuasaan Kartasura. Namun, meski titik ini tampak sebagai akhir, kenyataannya adalah awal bagi gelombang konflik yang lebih luas, perang yang memaksa VOC memilih pihak dan menentukan siapa yang harus ditundukkan.

Pangeran Arya Blitar telah menyatakan perang sabil.
Pangeran Purbaya menjadikan legitimasi darah sebagai senjata.
Kartasura berada di bawah perlindungan peluru Kompeni.
Dan Karta Sekar muncul sebagai kerajaan bayangan, simbol perlawanan terhadap dominasi pusat.

Raden Mas Sudomo, atau yang dikenal sebagai Pangeran Arya Blitar, gugur di Lumajang, jauh dari tanah kelahirannya. Ia yang pernah dipercaya Pakubuwana I memimpin medan tempur, kini tersingkir dari pusaran kekuasaan, meninggalkan Kartasekar remuk tanpa pernah benar-benar tegak. Wafatnya sang pangeran menandai akhir perlawanan fisik, tetapi darah dan jejaknya tetap hidup, berperan dalam nubuatan dan kelahiran kekuasaan baru di Jawa.

Kapurbayan, Kartasekar, dan medan Madiun hingga Kediri menjadi saksi kegigihan pasukan Arya Blitar dan Panembahan Purbaya. Meski satu per satu benteng jatuh ke tangan Kompeni, jejak perlawanan ini membentuk peta politik dan simbolis bagi generasi berikutnya. Malang menjadi pangkalan terakhir, dan dari sini Arya Blitar menyingkir ke Lumajang, meninggalkan pusara perjuangan yang kini hanya dikenang melalui babad.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Blitar, putra ketiga Pakubuwana I dan Ratu Mas Blitar, memiliki seorang putri dari pernikahannya dengan Raden Ayu Brebes, yaitu Raden Ayu Wulan, yang kemudian menikah dengan Pangeran Arya Mangkunegara.

Dari perkawinan ini lahirlah Raden Mas Said, yang kelak dikenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, pendiri Kadipaten Mangkunegaran pada 1757. Dengan berdirinya Mangkunegaran, ramalan leluhur mengenai kembalinya darah Blitar dan Purbaya ke pusat kekuasaan pun terwujud.

Arya Blitar memang gugur di Lumajang. Kartasekar lenyap sebelum sempat tegak. Namun darah dan keturunannya terus mengalir di pusat kekuasaan Jawa. Melalui Mangkunegaran, garis keturunan ini menegaskan bahwa kekuatan politik, spiritual, dan simbolik bisa bertahan meski medan perang, benteng, dan kota hancur.

Sejarah mencatat bahwa di tanah Jawa, takhta bisa jatuh, benteng bisa rubuh, tetapi darah dan janji leluhur jarang benar-benar padam. Arya Blitar, Purbaya, dan keturunan mereka bukan hanya tokoh dalam babad; mereka adalah penggerak nubuatan, benih perlawanan, dan pemantik transformasi kekuasaan yang terus membentuk lanskap politik Jawa hingga masa modern.

Situs kraton kartasura

 


Topik

Serba Serbi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi