JATIMTIMES - Surabaya, Mei 1677. Di pelabuhan sungai Kali Mas yang berlumpur, bau mesiu dan rumput rawa terbakar menyatu dengan teriakan laskar pesisir. Surabaya bukan sekadar kota bandar. Di bentengnya, berkibar panji-panji kehormatan Trunajaya, bangsawan Madura yang berani menentang hegemoni Kartasura dan Kompeni. Bagi Trunajaya, Surabaya adalah altar sumpah setia, pusaka perjuangan, sekaligus panggung di mana dendam lama para perantau pesisir dijahit dengan peluru meriam.
Warisan Dendam Pesisir
Baca Juga : Proses Penandaan Bangunan Rampung, Pemkot Surabaya Lanjutkan Normalisasi Sungai Kalianak
Bertahun-tahun sebelum dentum meriam Speelman menghancurkan tembok Surabaya, Trunajaya telah menata pusaka perlawanan di Madura. Dalam naskah Babad Tanah Jawi dan catatan VOC, nama Trunajaya kerap disandingkan dengan bangsawan pembangkang yang menolak patuh pada istana Mataram, yang di bawah Amangkurat I terkenal kejam pada lawan politik.
Kronik VOC mencatat bahwa Surabaya dijadikan benteng pesisir utama sejak Trunajaya menolak tunduk. “Bentengnya adalah benteng spiritual,” kata Speelman dalam Daghregister (23 Juni 1677). Di balairung Surabaya, perjamuan arak bukan sekadar pesta. Di situlah para pemimpin laskar Madura dan pesisir bersumpah: darah mereka akan tumpah sebagai warisan perlawanan.

Blokade Air dan Wabah Penyakit
VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman, panglima agresif yang diutus Batavia, paham betul Surabaya tidak bisa direbut hanya dengan pedang. Sungai menjadi kunci. Speelman memerintahkan armada Makassar, Bali, Ambon, dan tentara sewaan Bugis untuk memblokade jalur Kali Mas hingga lima kilometer ke hilir.
Hasilnya: air bersih musnah, penyakit menjalar di benteng. Trunajaya pun terkepung wabah disentri. Namun, bukan Trunajaya jika mudah tunduk. Pada 10 Mei 1677, ia malah mengirim utusan ke Banten, berharap sekutu lama Sultan Ageng Tirtayasa bersedia mengirim bala bantuan. Langkah ini mencerminkan kecerdikan jaringan pesisir: Madura-Banten-Makassar-Kudus terjalin dalam simpul dendam pada Kompeni.
Di tengah blokade, Speelman tetap menawar damai. Sebuah perundingan diatur. Trunajaya melalui Kiai Litawangsa mengajukan syarat: penundaan serangan, waktu untuk mengumpulkan rakyat yang terpencar di Demak, Kudus, dan Pati. Speelman menolak mentah-mentah. “Terpaksa mengejarnya sebagai pemberontak yang tidak mengenal kesetiaan,” tulis Daghregister.
Dentum Meriam: 11–13 Mei 1677
Tanggal 11 Mei menjadi penanda genting. Bendera perang berkibar. Meriam VOC mulai memuntahkan besi panas. Suara dentuman meriam dari kapal perang di muara Kali Mas menggema di sepanjang tembok Surabaya. Beberapa rumah penduduk sengaja dibakar Trunajaya. Api menjalar di celah pertahanan, memecah pasukan lawan.
Speelman mengirim juru tulis Melayu sekali lagi: “Apabila ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan, mereka akan menyampaikannya sendiri,” jawab Trunajaya. Pernyataan keras, yang kelak di mata Belanda dianggap sebagai kesombongan. Tapi bagi laskar Madura, itu adalah martabat.
Dalam bentrokan sengit, pasukan Makassar di pihak Belanda, yang sebelumnya berseteru dengan Bone, justru menjadi ujung tombak. Mereka mengejar orang Madura hingga menembus kubu pertahanan. Daghregister menulis: “Orang Makassar memperlihatkan kesetiaan dan keberanian luar biasa.”
Namun, Belanda pun tak luput dari kerugian. Delapan belas serdadu tewas atau luka-luka akibat sergapan di rawa-rawa. Kondisi pasukan makin genting. Aliran sungai yang keruh menebarkan wabah disentri dan demam. Speelman tahu, semakin lama Surabaya bertahan, semakin rapuh pasukan VOC. Maka, ia memilih satu langkah dramatis: penembakan meriam tanpa henti di malam hingga fajar 13 Mei.

Surabaya Jatuh, Panji Hanoman Direbut
Pagi 13 Mei 1677, dentum meriam memecah pertahanan antara Kali Mas dan Kali Pegirian. VOC menyeberang di bawah perlindungan rentetan meriam kapal. Pertempuran jarak dekat pecah di kampung-kampung pesisir. Dalam dua jam, Surabaya jatuh.
Trunajaya mundur ke selatan bersama para pengikutnya. Ia tak tertangkap. Sisa panji-panji kehormatan yang dipasang di benteng berhasil direbut VOC. Di antara rampasan, empat panji ditemukan, satu di antaranya bergambar makhluk aneh mirip manusia-kera yang mencabut pohon dengan akar-akarnya. Simbol itu diidentifikasi sebagai Hanoman, raja kera dalam kisah Ramayana. “Seperti Trunajaya, raja kera pun bercita-cita merebut pulau,” kata Pigeaud dalam telaahnya.
VOC mencatat kebanggaan. Speelman mengirim panji Hanoman ke Batavia. Pada 24 Juni 1677, panji-panji itu dipajang di balai ruang utama Benteng Batavia, simbol penaklukan Surabaya dan runtuhnya perlawanan pesisir. Tapi tak semua meriam dapat direbut. Delapan belas meriam perunggu berukuran kecil berhasil dibawa lari oleh pasukan Trunajaya ke Kediri. Sebagian lainnya diangkut ke Madura.
Speelman di Persimpangan: Terung, Makassar, dan Madura

Kemenangan di Surabaya tidak serta-merta memberi Speelman napas panjang. Di Daghregister ia menulis, “Sesungguhnya aku memerlukan dua atau tiga pribadi sekaligus.” Pasukannya tinggal separuh, banyak yang sakit, sebagian direkrut dari awak kapal. Untuk bertahan, Surabaya harus segera dijadikan pangkalan tetap, sekaligus pintu ekspedisi ke pedalaman Jawa.
Ekspedisi ke Terung di delta Brantas diatur pada 2 Juni 1677. Letnan Talbeecq memimpin rombongan yang terdiri atas perbekalan, orang Eropa, Bali, Makassar, dan sukarelawan Jawa. Tujuan utamanya adalah menjebak sisa laskar Madura di Pegunungan Kendeng sekaligus memutus jalur Trunajaya ke Kediri.
Di saat bersamaan, Speelman merayu orang Makassar. Utusan dikirim ke Pasuruan. Isu sengketa Arung Palaka di Sulawesi coba dipakai Kompeni untuk memecah Karaeng Galesong dan pasukan Makassar di Bang Wetan. Tapi perundingan gagal. Bahkan Van Oppijnen, utusan Speelman, tewas dalam misi damai ini.
Tak putus akal, Speelman mengirim Genading, seorang keturunan Choelia dari Singhala, ke Madura. Di Arosbaya, Genading menjalin kontak dengan Martapati, Jayengpati, dan Santamarta. Mereka sepakat meninggalkan Trunajaya. Raden Martapati, adipati Arosbaya sekaligus kakak ipar Pangeran Adipati Sampang (kelak Cakraningrat II), dianggap sebagai kunci untuk memecah dukungan Madura terhadap Trunajaya.
Baca Juga : Hujan Disertai Angin Kencang, Belasan Rumah di Kota Batu Rusak
Pada 23 Mei 1677, Martapati dan rombongan diangkut ke Gresik. Mereka dipertemukan dengan Speelman. “Itikad baik Sampang dan Sumenep tak diragukan,” tulis Speelman, “tapi Pamekasan masih menjadi sarang pemberontak.” (K.A. No. 1218).
Dendam yang Menyala di Pedalaman
Jatuhnya Surabaya hanyalah permulaan. Trunajaya, bagai api dalam sekam, bergerak ke Kediri yang menjadi pusat pertahanan baru di kaki Gunung Kelud. Di sana, ia menghimpun sisa laskar Madura, pasukan pesisir Demak dan Kudus, serta para pengikut Karaeng Galesong yang belum menyerah.
Sementara Speelman memperkuat pos Terung, Kapten Harman Egberts bergerak ke utara: Sidayu dan Tuban direbut, jalur pesisir disapu bersih. Namun sisa pasukan Madura selalu lolos, membaur di sawah, menembus Kendeng, lalu naik ke Kediri.
Dalam Daghregister tertulis, meski beberapa tokoh Madura menyerah, “perlawanan Pamekasan tidak bisa diremehkan.” Karena di sanalah, dendam spiritual Trunajaya tertanam. Ia yang pernah bersumpah di balairung arak Surabaya, tidak akan tunduk hanya karena meriam VOC.
Di Balai Benteng Batavia, panji Hanoman digantung tinggi. Bagi VOC, itu trofi penaklukan Jawa. Tapi bagi banyak orang pesisir, panji itu adalah ejekan: Hanoman, sang penakluk Lanka, direbut dengan tipu daya. Seperti sang kera putih, Trunajaya pun akan terus dicatat sebagai simbol: perlawanan rakyat pesisir yang menolak tunduk.
Sejarah Surabaya 1677 menunjukkan bahwa di bawah gemuruh meriam VOC, dendam klan pesisir dan Madura tak padam. Ia menetes ke Kediri, menyelinap ke jalur Kendeng, dan mekar dalam dongeng orang pesisir. Dari balairung arak ke medan meriam, Trunajaya membakar Surabaya, dan dalam reruntuhan benteng itu tetap hidup sumpah: “Apabila ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan, mereka akan menyampaikannya sendiri.”
Namun, untuk memahami api yang membakar Surabaya dan berlanjut ke Kediri, jejaknya harus ditelusuri kembali kepada sosok pemimpin pemberontakan itu sendiri: Raden Trunajaya, pewaris darah bangsawan Arosbaya sekaligus penjelmaan luka politik Jawa abad ke-17.

Raden Trunajaya: Luka Trah Arosbaya dan Bara Perlawanan Mataram
Dalam pusaran sejarah Jawa abad ke-17, nama Raden Trunajaya terukir sebagai salah satu penanda pergolakan kekuasaan, di mana dendam feodal, ikatan spiritual, dan penolakan dominasi asing berpadu menjadi nyala pemberontakan besar. Lahir dari rahim trah bangsawan Arosbaya, Madura, Trunajaya membawa warisan genealogis Majapahit sekaligus luka kolonisasi Mataram.
Jalur darah Trunajaya menelusur ke Aria Damar, Adipati Palembang, putra Brawijaya V, yang menjadi simpul antara runtuhnya Majapahit dan munculnya pusat-pusat dakwah Islam pesisir. Dari Aria Damar lahir Kiai Demang Plakaran, pelopor Islam di Madura, yang kemudian menurunkan Pangeran Arosbaya. Kawasan Arosbaya pada abad ke-16 dan 17 dikenal bukan hanya sebagai basis politik, tetapi juga episentrum syiar Islam awal di pulau garam itu.
Raden Pratanu, bergelar Panembahan Lemah Duwur, tokoh utama Arosbaya generasi berikutnya, menjalin aliansi dengan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Pajang. Dari ikatan ini lahirlah Pangeran Tengah, figur kunci yang meneruskan kebesaran Arosbaya. Namun hegemoni itu tak bertahan lama. Pada 1624, ekspedisi militer Sultan Agung menaklukkan Madura. Pusat kekuasaan Arosbaya diratakan, bangsawan terkemuka ditumpas atau diusir. Hanya segelintir yang diselamatkan. Salah satunya adalah Raden Prasena, yang kemudian diangkat Mataram sebagai Adipati Madura dengan gelar Cakraningrat I. Dari garis Demang Malayakusuma, putra Cakraningrat I, lahirlah Trunajaya yang menyandang luka kolonisasi itu sebagai bara dendam turun-temurun.

Bagi trah Cakraningrat, ikatan dengan Mataram hanyalah formalitas politik. Di balik persembahan upeti dan sumpah setia, senantiasa tumbuh bibit perlawanan. Dalam konteks inilah Trunajaya tumbuh sebagai bangsawan muda yang berani, berwawasan militer, dan cakap menjalin jaringan. Pernikahannya dengan putri Raden Kajoran, ulama kharismatik dari Kedu yang masih menurunkan darah Sunan Tembayat, mengukuhkan simpul spiritual-politik. Kajoran, mantan penasihat Amangkurat I, menyimpan kekecewaan mendalam terhadap istana yang ia nilai korup dan zalim. Lewat dukungan Kajoran, Trunajaya mewarisi gagasan jihad moral dan keadilan sosial yang tumbuh subur di pesantren-pesantren pedalaman Jawa.
Tak cukup dengan simpul Jawa-Madura, bara pemberontakan itu menyala makin luas berkat hadirnya Karaeng Galesong, bangsawan eksil dari Gowa. Setelah Perjanjian Bongaya (1667) memaksa Gowa bertekuk lutut pada VOC, Galesong menolak tunduk. Ia memimpin ratusan eksil Makassar, Bugis, dan Mandar, membawa tradisi perlawanan laut yang militan ke pesisir Jawa. Persekutuan Trunajaya–Kajoran–Galesong menjadi gerakan militer transnasional, menantang Mataram sekaligus menohok kepentingan dagang VOC.
Demung, Madura Timur, menjadi pangkalan utama. Akhir 1675, pasukan mereka berjumlah lebih dari 2.000 prajurit dengan 150 perahu. Serangan dilancarkan ke pelabuhan-pelabuhan vital Jawa Timur: Pasuruan, Pajarakan, Gerongan, hingga Gresik. Catatan Daghregister VOC (1676) menuliskan kota-kota itu dibakar, penduduk lari tunggang langgang. Surabaya, pelabuhan strategis, ditinggalkan nyaris kosong. Jaringan logistik Mataram lumpuh, jalur utara Jawa porak-poranda.
Puncak pemberontakan terjadi Juni 1677, ketika pasukan Trunajaya mendobrak Plered, pusat kekuasaan Mataram. Amangkurat I terpaksa lari ke barat bersama Pangeran Adipati Anom, yang kelak naik takhta sebagai Amangkurat II. Dalam pelarian, Amangkurat I wafat di Tegal Arum, dimakamkan di Tegal Wangi. Bagi Mataram, kejatuhan Plered bukan sekadar keruntuhan fisik, tetapi simbol runtuhnya legitimasi moral istana. VOC yang semula menjaga jarak, terpaksa turun tangan penuh. Trunajaya seketika jadi musuh bersama: raja Jawa baru dan kolonial Belanda.

Sayangnya, koalisi pecah di puncak kemenangan. Galesong merasa dipinggirkan. Ia membangun basis di Kakaper, tetapi pada Oktober 1679, pasukannya dihantam VOC dan sekutu Bugis. Galesong wafat November itu juga, misterius—diracun, dibunuh, atau memang wafat karena luka pertempuran, tak pernah pasti. Trunajaya tersudut di pegunungan Kediri. Ia akhirnya ditangkap pada 25 Desember 1679 dan dieksekusi pada 2 Januari 1680 di Payak, di hadapan Amangkurat II. Peristiwa itu menjadi sebuah ritual teatrikal yang memamerkan penaklukan simbolis atas dendam bangsawan Madura.
Historiografi Belanda menuduhnya bandit. Babad Tanah Jawi menulisnya setengah heroik, setengah durhaka. Namun di pesantren Kedu, tanah Madura, dan di antara orang Gowa, Trunajaya tetap hidup sebagai lambang perlawanan: suara mereka yang tak pernah rela dijajah, baik oleh istana yang lalim maupun oleh kompeni yang rakus.
