Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Apa Itu Lipstick Effect? Fenomena Mal dan Kafe Tetap Ramai Meski Rupiah Melemah

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

22 - May - 2026, 10:19

Placeholder
Ilustrasi Lipstick Effect. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Belakangan ini istilah lipstick effect ramai dibahas di media sosial seiring melemahnya nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi yang dinilai sedang tidak stabil. Banyak warganet menyoroti pusat perbelanjaan, restoran, hingga coffee shop yang tetap dipadati pengunjung meskipun daya beli masyarakat disebut sedang tertekan.

Perbincangan tersebut mencuat setelah akun X @TwipsX mengunggah pendapat soal kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Dalam unggahannya, akun tersebut menilai gaya hidup konsumtif masih terlihat kuat meski situasi ekonomi sedang sulit.

Baca Juga : Dolar AS Menguat, Pengrajin Tempe di Kota Malang Pilih Kecilkan Produk Demi Bertahan

“Kalian ngerasa nggak sih, mal masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun tersebut.

Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan lipstick effect?

Apa Itu Lipstick Effect?

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menjelaskan bahwa lipstick effect merupakan kondisi ketika masyarakat tetap membeli barang-barang kecil yang memberi rasa senang di tengah tekanan ekonomi.

Istilah ini mulai populer pada 2001 dan dikaitkan dengan Leonard Lauder, petinggi perusahaan kosmetik esteelauder.com⁠.

Dilansir dari forbes.com⁠, Leonard Lauder menggunakan istilah lipstick effect untuk menggambarkan kebiasaan masyarakat membeli barang mewah berukuran kecil, seperti lipstik, ketika ekonomi sedang lesu atau resesi. Alih-alih membeli barang mahal, masyarakat cenderung mencari “hiburan kecil” yang masih terjangkau.

Namun menurut Eddy Junarsin, fenomena mal dan kafe yang tetap ramai di Indonesia saat ini belum tentu sepenuhnya bisa disebut sebagai lipstick effect.

“Kalau fenomena yang disebutkan di unggahan tampaknya bukan lipstick effect, tetapi lebih kepada lifestyle,” ujarnya, dikutip dari kompas.com⁠, Jumat (22/5/2026).

Eddy menilai kebiasaan masyarakat tidak bisa berubah secara instan hanya karena kondisi ekonomi sedang mengalami tekanan. Aktivitas seperti nongkrong di kafe, makan di restoran, atau berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dinilai sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat perkotaan.

Baca Juga : Diskopindag Kota Malang Perketat Penertiban Kios Pasar

Menurutnya, setiap negara juga memiliki cara berbeda dalam menikmati gaya hidup. Ada masyarakat yang memilih traveling, menikmati wisata alam, hingga mengunjungi museum sebagai bentuk hiburan.

Karena itu, ramainya mal atau coffee shop tidak selalu bisa dijadikan indikator bahwa kondisi ekonomi masyarakat sedang baik-baik saja.

Di tengah pelemahan rupiah, Eddy menyarankan masyarakat mulai membaca peluang usaha yang memiliki orientasi ekspor. Sektor tersebut dinilai lebih berpotensi bertahan ketika nilai tukar mata uang mengalami tekanan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya meningkatkan keterampilan dan kualitas pendidikan, terutama kemampuan yang tidak mudah digantikan oleh kecerdasan buatan atau AI.

Menurutnya, kemampuan komunikasi, kerja sama, hingga soft skills akan semakin dibutuhkan di masa depan karena banyak pekerjaan teknis diperkirakan mulai terdampak perkembangan teknologi dan machine learning.


Topik

Ekonomi Lipstick Effect Fenomena Mal Kafe Rupiah Melemah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni