Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Company Visit di Bea Cukai Malang, Mahasiswa Doktor FEB UM Soroti Hambatan UMKM Tembus Pasar Ekspor

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

12 - May - 2026, 12:33

Placeholder
PDIM FEB UM Pelajari Praktik Internasionalisasi UMKM Lewat Company Visit ke Bea Cukai Malang (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dominasi UMKM dalam struktur ekonomi Indonesia belum sepenuhnya sejalan dengan kontribusinya terhadap pasar global. Meski jumlahnya mencapai hampir 99 persen dari total pelaku usaha nasional, sebagian besar UMKM masih menghadapi hambatan ketika mencoba masuk ke rantai perdagangan internasional. Persoalan regulasi, standar produk, hingga minimnya pemahaman administrasi ekspor menjadi tantangan yang masih banyak ditemui di lapangan.

Isu tersebut menjadi pembahasan dalam rangkaian company visit mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang (FEB UM) ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai (KPPBC TMC) Malang, Selasa (12/5/2026). Kunjungan itu difokuskan untuk mempelajari praktik internasionalisasi UMKM dan hambatan yang selama ini membuat banyak pelaku usaha lokal belum mampu bersaing optimal di pasar ekspor.

1

Dosen Mata Kuliah Internasionalisasi UMKM FEB UM, Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si., menilai persoalan terbesar UMKM Indonesia dalam menembus pasar global justru terletak pada rendahnya literasi regulasi dan birokrasi perdagangan internasional.

Baca Juga : Masih Ada Tiga Desa Tanpa TPS3R di Kota Batu 

“Mengapa UMKM banyak mengalami kendala ketika masuk pasar internasional? Karena banyak yang belum memahami aturan, prosedur, dan birokrasi ekspor. Akibatnya mereka kesulitan memenuhi standar yang diminta pasar luar negeri,” ujar Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si.

4

Ia menjelaskan, pendekatan pembelajaran di Program Doktor Ilmu Manajemen FEB UM sengaja diarahkan pada isu pemberdayaan UMKM karena sektor tersebut menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Karena itu, mahasiswa doktoral secara rutin diajak mengunjungi instansi maupun pelaku usaha yang memiliki pengalaman ekspor untuk memahami kondisi nyata yang dihadapi UMKM.

Menurutnya, pembelajaran tersebut penting karena mayoritas mahasiswa program doktor memiliki latar belakang praktisi, dosen, maupun pelaku usaha yang nantinya diharapkan mampu mendampingi UMKM di daerah masing-masing.

3

“Jumlah UMKM hampir 99 persen, tetapi kontribusinya terhadap PDB masih sekitar 60 persen. Artinya ada persoalan produktivitas, daya saing, dan akses pasar yang masih harus diperkuat,” jelasnya.

Mahasiswa S3 FEB UM, Rita Anggraeni Rahayu, S.AB., M.AB., mengatakan banyak pelaku usaha masih memandang ekspor sebagai sesuatu yang rumit dan sulit dijangkau UMKM kecil. Padahal, menurutnya, persoalan utama sering kali muncul karena keterbatasan pemahaman terhadap prosedur dan standar perdagangan internasional.

5

“Selama ini banyak yang takut ekspor karena merasa regulasinya rumit. Padahal kalau memahami prosedur dan dokumennya, sebenarnya bisa dijalankan. Yang penting pelaku usaha tahu standar yang harus dipenuhi,” ujar Rita Anggraeni Rahayu, S.AB., M.AB.

Ia menilai penguatan kapasitas UMKM menjadi penting karena sektor tersebut terbukti mampu bertahan dalam berbagai tekanan ekonomi nasional sejak krisis 1997. Namun tanpa peningkatan literasi perdagangan internasional, banyak UMKM diperkirakan akan tetap sulit menembus pasar global secara berkelanjutan.

Dalam kunjungan ke Giri Palma dan PELANUSA, mahasiswa juga mempelajari bagaimana daya saing produk tidak hanya ditentukan kualitas barang, tetapi juga kemampuan membaca pasar, menjaga konsistensi mutu, hingga membangun identitas bisnis yang sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.

Baca Juga : Pasar Keputran Selatan Direvitalisasi, Wali Kota Eri Harap Warga Belanja Lebih Nyaman karena Bersih

Sementara itu, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Cukai Malang, Pitoyo Pribadi, menyebut banyak pelaku UMKM sebenarnya memiliki potensi ekspor, namun tersendat pada persoalan dasar yang sering dianggap sepele.

“Kami tidak hanya mengurus perizinan ekspor saja. Banyak UMKM belum punya NIB, belum punya PIRT, sertifikasi halal, BPOM, atau HACCP. Padahal itu menjadi fondasi penting sebelum mereka bisa masuk pasar internasional,” ujar Pitoyo Pribadi.

Menurutnya, persoalan UMKM bukan hanya akses pasar, tetapi kesiapan usaha secara menyeluruh. Karena itu, Klinik Ekspor Bea Cukai Malang yang dirintis sejak 2022 lebih banyak berfokus pada pembinaan bertahap mulai dari legalitas, mutu produk, sanitasi, pengemasan, hingga tata laksana ekspor.

Setelah pelaku usaha dianggap siap, pendampingan diarahkan pada proses perdagangan internasional seperti penyusunan invoice, bill of lading, hingga pencarian buyer luar negeri melalui jejaring atase perdagangan Indonesia.

Pitoyo mengatakan tantangan lain yang masih dihadapi UMKM adalah keterbatasan sumber daya manusia. Banyak pelaku usaha belum memiliki kemampuan desain produk, pemasaran digital, hingga pemahaman standar keamanan pangan yang menjadi syarat penting dalam ekspor.

“Kami berharap perguruan tinggi ikut terlibat. Mahasiswa desain bisa membantu kemasan, bidang kesehatan membantu sanitasi produk, dan bidang pemasaran membantu strategi pasar. UMKM tidak bisa naik kelas kalau bekerja sendiri,” pungkasnya.


Topik

Pendidikan bea cukai malang feb um ekspor umkm



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan