Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Parkinson Tak Hanya Mengintai Lansia, Dokter RSI Unisma Ungkap Faktor Risiko dan Upaya Pencegahan

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

14 - Apr - 2026, 17:46

Placeholder
Dokter spesialis syaraf Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang Dr dr Shinta Kusumawati SpN. (ist)

JATIMTIMES – Penyakit parkinson selama ini identik dengan kelompok lanjut usia. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa gangguan saraf tersebut mulai banyak ditemukan pada usia produktif. 

Dokter spesialis syaraf Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang Dr dr Shinta Kusumawati SpN mengungkapkan bahwa parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang bersifat progresif dan dipengaruhi berbagai faktor.

Baca Juga : Vellencia Gunawan Asal Situbondo Sabet Gelar Mini Miss Global 2026, Berikut Perjalanan Prestasinya

Dalam sebuah podcast yang dilakukan belum lama ini, dr Shinta menjelaskan bahwa parkinson terjadi akibat penurunan kadar dopamin di otak. Dopamin berperan penting sebagai neurotransmiter yang mengatur gerakan, motivasi, serta fungsi kognitif. “Ketika dopamin menurun, maka akan muncul gangguan gerak, seperti tremor, kekakuan, dan kesulitan memulai aktivitas,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa parkinson bukan sekadar penyakit akibat penuaan alami. “Memang proses degeneratif identik dengan usia, tetapi parkinson tidak hanya disebabkan oleh usia lanjut. Ada banyak faktor risiko lain yang berperan,” katanya.

Menurut dr Shinta, masyarakat kerap menganggap tremor atau “buyuten” sebagai satu-satunya tanda parkinson. Padahal, gejala penyakit ini jauh lebih kompleks. “Tremor memang gejala khas, tetapi biasanya dimulai dari satu sisi tubuh atau unilateral. Jika tidak ditangani, bisa menyebar ke seluruh anggota gerak,” jelasnya.

Selain tremor, gejala lain yang sering muncul meliputi kekakuan otot, gangguan keseimbangan, langkah kaki menjadi pendek, hingga wajah tanpa ekspresi atau yang dikenal sebagai “mask face”. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan menurunkan kemandirian pasien.

Tidak hanya gejala motorik, parkinson juga memicu gangguan nonmotorik. “Pasien bisa mengalami gangguan tidur, nyeri tubuh, hingga penurunan daya ingat atau demensia, terutama pada stadium lanjut,” ungkapnya.

Dokter Shinta menjelaskan bahwa parkinson merupakan penyakit yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Secara klinis, penyakit ini terbagi dalam lima stadium. “Stadium satu biasanya masih ringan, hanya tremor di satu sisi. Stadium dua mulai kedua sisi. Stadium tiga membutuhkan alat bantu. Stadium empat pasien banyak di kursi roda, dan stadium lima sudah tergantung penuh di tempat tidur,” paparnya.

Ia menekankan bahwa hingga saat ini belum ada terapi yang mampu menyembuhkan parkinson secara total. “Pengobatan yang ada bersifat simptomatik, hanya mengurangi gejala. Namun, pengobatan tetap penting untuk memperlambat progresivitas penyakit,” jelasnya.

Tanpa penanganan, perkembangan penyakit bisa berlangsung cepat. “Pasien yang tidak berobat bisa mengalami perburukan signifikan dalam waktu relatif singkat. Sebaliknya, dengan terapi rutin dan perubahan gaya hidup, perkembangan penyakit bisa diperlambat,” tambahnya.

Fenomena meningkatnya kasus parkinson pada usia muda menjadi perhatian tersendiri. Dalam praktiknya, dr Shinta menemukan pasien dengan usia relatif muda. “Saya pernah menangani pasien usia 42 tahun. Ini menunjukkan bahwa parkinson tidak lagi identik dengan lansia,” ungkapnya.

Secara epidemiologi, prevalensi tertinggi memang masih pada usia di atas 60 tahun, bahkan meningkat signifikan pada usia 80 tahun ke atas. Namun, tren saat ini menunjukkan adanya pergeseran usia penderita.

Dokter Shinta menegaskan bahwa parkinson dipengaruhi banyak faktor. Selain usia, faktor genetik juga berperan, meski bukan satu-satunya penyebab. “Jika ada riwayat keluarga, risikonya bisa meningkat, tetapi tidak berarti pasti akan terkena,” katanya.

Baca Juga : Becak Listrik Bantuan Presiden Minim Digunakan, Abang Becak di Lamongan Mengaku Ditarik 100 Ribu

Faktor lingkungan juga memiliki kontribusi besar, seperti paparan pestisida, polusi udara, serta zat toksik lainnya. “Radikal bebas dari polusi dan makanan tidak sehat dapat merusak sel saraf, terutama pada sistem dopamin,” jelasnya.

Gaya hidup modern turut memperparah risiko. Pola makan rendah serat dan antioksidan, kurang aktivitas fisik, serta stres berkepanjangan menjadi pemicu penting. “Sekarang banyak orang kurang bergerak, konsumsi makanan instan, dan stres tinggi. Ini mempercepat proses degeneratif,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, dr Shinta menekankan pentingnya pendekatan holistik. Aktivitas fisik menjadi salah satu faktor utama. “Olahraga minimal 30 menit per hari yang meningkatkan denyut jantung sangat penting untuk kesehatan otak dan menjaga kadar dopamin,” katanya.

Selain itu, konsumsi makanan kaya antioksidan seperti buah dan sayuran sangat dianjurkan. Antioksidan berfungsi menangkal radikal bebas yang dapat merusak sel saraf. “Pola makan sehat menjadi kunci untuk memperlambat proses penuaan sel,” tambahnya.

Manajemen stres juga tidak kalah penting. “Stres berkepanjangan bisa menurunkan kadar dopamin. Karena itu, kesehatan mental harus dijaga,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa beberapa penelitian menunjukkan potensi kopi dalam menurunkan risiko Parkinson, meski masih memerlukan kajian lebih lanjut. “Penelitian masih berjalan, tetapi ada indikasi bahwa konsumsi kopi memiliki efek protektif,” katanya.

Dr Shinta mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Banyak pasien baru memeriksakan diri saat kondisi sudah parah. “Gejala awal sering dianggap biasa, sehingga pasien datang dalam stadium lanjut,” ujarnya.

Padahal, deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi, seperti risiko jatuh hingga patah tulang. “Jika ditangani sejak awal, kualitas hidup pasien bisa tetap terjaga,” tegasnya.

Momentum peringatan Hari Parkinson Sedunia setiap 11 April diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. “Kami ingin masyarakat lebih mengenal Parkinson, memahami gejalanya, dan segera memeriksakan diri jika ada tanda-tanda awal,” pungkasnya.


Topik

Kesehatan RSI Unisma parkinson penyakit parkinson dokter spesialis syaraf RSI Unisma



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy