JATIMTIMES – Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu mulai mematangkan persiapan Penerimaan Peserta Murid Baru (SPMB). Program pendidikan gratis di bawah naungan Kementerian Sosial RI ini akan menerapkan skema seleksi yang sangat spesifik yang peruntukannya bagi masyarakat prasejahtera. Namun, penerimaan siswa baru menghadapi kendala kapasitas yang terbatas.
Berbeda dengan sekolah reguler, SRMP 14 tidak membuka pendaftaran secara umum. Proses rekrutmen dilakukan melalui penyisiran data kemiskinan pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Fokus utamanya adalah anak-anak dari Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang masuk dalam kategori desil 1 dan 2.
Baca Juga : Perkuat Akses Kesehatan, Mbak Wali dan Gus Qowim Luncurkan Program Jaminan Biaya RS bagi Warga Kurang Mampu
Kepala Dinas Sosial Kota Batu, Lilik Fariha, menjelaskan bahwa petugas pendamping PKH sudah mulai bergerak memetakan lulusan SD dari keluarga prasejahtera. Tak hanya lulusan baru, sekolah ini juga membuka pintu bagi anak-anak putus sekolah dengan batas usia maksimal 15 tahun.
"Kriteria utama yang kami bidik adalah kategori desil 1 dan 2 yang memasuki usia SMP. Kami ingin memastikan mereka tidak terhenti pendidikannya karena kendala biaya," ujar Lilik saat dikonfirmasi, belum lama ini.
Meski animo masyarakat sangat tinggi, SRMP 14 kini dihadapkan pada persoalan krusial berupa keterbatasan fasilitas. Kepala SRMP 14 Batu, Yulianah, mengungkapkan fakta bahwa kapasitas asrama dan ruang kelas saat ini sedang berada di titik kritis.
Dari total daya tampung maksimal 150 siswa, saat ini sudah terisi sebanyak 149 anak. Artinya, secara administratif, sekolah ini hanya memiliki sisa satu kursi kosong untuk penghuni baru jika tidak dilakukan pengaturan ulang.
"Kapasitas kami hampir penuh. Penambahan siswa baru harus dipertimbangkan secara sangat cermat karena menyangkut ketersediaan tempat tinggal di asrama," tegas Yulianah.
Untuk menyiasati keterbatasan ruang ini, pemerintah tengah menggodok opsi relokasi atau pergeseran wilayah bagi siswa yang berasal dari luar Kota Batu. Saat ini, terdapat sekitar 71 siswa asal Kabupaten Malang yang berpotensi dipindahkan ke Sekolah Rakyat di kawasan BLK Singosari jika fasilitas di sana sudah siap.
Baca Juga : Paint Festival Graha Bangunan Blitar, Diskon Cat TOA hingga 17 Persen Dorong Tren Renovasi Awal Tahun
Begitu pula dengan siswa asal Kediri yang direncanakan kembali ke daerah asal seiring pembangunan gedung permanen di wilayah tersebut. Skema pengembalian siswa ke daerah asal ini diharapkan dapat memberi ruang bagi calon siswa baru dari lokal Kota Batu.
Namun, pihak sekolah mengakui ada tantangan psikologis yang membayangi rencana relokasi tersebut. Mengingat banyak siswa yang sudah merasa nyaman dengan lingkungan di Kota Batu, perpindahan tempat tinggal dikhawatirkan akan memengaruhi kesiapan mental anak.
"Kami harus mempertimbangkan kesiapan mental mereka. Anak-anak sudah beradaptasi dan merasa menjadi bagian dari lingkungan di sini," pungkas Yulianah.
Untuk diketahui, hingga saat ini proses belajar mengajar SRMP 14 masih menempati gedung bekas PPSPA Bhima Sakti, sembari menunggu realisasi pembangunan gedung permanen dari pemerintah pusat.
