free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Talent Asal Malang Diduga Dijebak, Modus Job Shooting 'Sumpah Pocong' hingga Alami Pelecehan Seksual

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

05 - Feb - 2026, 10:43

Placeholder
Ilustrasi pelecehan seksual. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Seorang talent asal Malang membagikan pengalaman pahit saat menerima tawaran pekerjaan sebagai talent shooting. Curhatan tersebut diunggah melalui akun Instagramnya @sovinovitav dan viral di media sosial. 

Unggahan itu sovinovitav tujukan agar menjadi peringatan bagi para talent, khususnya perempuan, agar lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan dengan konsep dan briefing yang tidak jelas. 

Baca Juga : Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Gelar Sosialisasi KDRT Selama Dua Hari, Libatkan 225 Peserta

Dalam unggahannya, pemilik akun mengingatkan para muse atau talent, terutama yang berdomisili di Malang dan sekitarnya, agar berhati-hati jika mendapat tawaran shooting di wilayah tertentu dengan embel-embel tema keagamaan.

“Hati-hati yah para muse, terutama muse Malang. Hati-hati dengan tawaran shooting atau butuh talent di daerah pondok pesantren atau daerah Pakis dengan tema ‘sumpah pocong’,” tulis sovinovitav. 

Ia mengaku terpaksa melakukan speak up setelah mengetahui bahwa dugaan perlakuan tidak pantas tersebut tidak hanya dialaminya sendiri, melainkan juga oleh perempuan lain.

Peristiwa itu bermula ketika ia menerima tawaran pekerjaan dari salah satu akun Instagram. Dari penjelasan awal, job itu disebut sebagai kebutuhan talent untuk shooting dengan unsur akting ringan.

“Aku kira kayak photoshoot MUA gitu, tapi ada aktingnya. Aku nggak banyak nanya karena kupikir sekalian aja take shoot sama akting video,” ungkapnya.

Namun, kejanggalan mulai ia rasakan saat tiba di lokasi shooting. Ia menyebut hampir seluruh kru di lokasi adalah laki-laki. Bahkan, satu talent perempuan lain disebut nyaris ditinggal karena datang terlambat.

“Pas sampai lokasi aku ngerasa ganjel banget, soalnya cowok-cowok semua di situ,” tulisnya.

Sesi shooting pertama disebut berlangsung di lokasi penjualan atau penyembelihan hewan. Ia mengaku terkejut dengan kondisi lokasi yang dinilainya tidak lazim untuk kegiatan shooting biasa.

“Shooting lokasi pertama di tempat penjualan atau penyembelihan hewan. Banyak nyamuk, aku shock dikit,” tulisnya.

Setelah sesi tersebut selesai dan hujan deras turun, rombongan kembali ke lokasi lain yang tidak disebutkan secara detail oleh korban. Di lokasi inilah, ia mengaku mengalami sejumlah peristiwa yang membuatnya semakin tidak nyaman.

Saat waktu istirahat, ia mengaku dipanggil oleh seseorang yang disebut sebagai asisten gus. Dalam percakapan tersebut, ia merasa pembahasan mulai mengarah ke hal-hal pribadi dan di luar konteks pekerjaan.

“Ngomongin uang, kriteria cowok idaman, wanita independen. Intinya aku dikulik di situ,” tulisnya.

Tak lama berselang, ia kembali dipanggil untuk bertemu langsung dengan sosok yang disebut sebagai atasan asisten atau “gus”. Dalam pertemuan itu, ia mengaku diberi susu panas dan mulai diarahkan mengikuti serangkaian aktivitas yang disebut sebagai pembuktian spiritual.

Ia mengaku diminta menulis dua nama atau benda di atas kertas putih, lalu kertas tersebut disobek dan dibakar. Setelah itu, ia diminta mempercayai bahwa kertas tersebut dapat kembali seperti semula.

“Demi Allah, wallahi kembali semula,” tulisnya menggambarkan pengalaman tersebut.

Menurut pengakuannya, ia juga diminta menuliskan tanggal lahir dirinya dan ibunya, lalu diberikan ucapan bernada ramalan tentang kesialan dan kesuksesan hidup di masa depan.

“2 bulan ke depan kamu bakal mendapatkan kesialan entah itu kamu lumpuh, jatuh dari pesawat, di tinggal sama orang yang kamu sayang keluarga kerabat mungkin. 34 bulan kamu bakal mendapatkan kesuksesan dalam hidupmu,” tulisnya menirukan ucapan yang ia dengar.

Baca Juga : Polemik Internal Golkar Kota Malang Memanas, Kader Kirim Karangan Bunga dan Siapkan Gugatan

Korban mengaku berada dalam kondisi mental yang sangat tertekan. Ia merasa takut, cemas, dan bingung harus berbuat apa. “Demi Allah aku nangis sejadi-jadinya karena aku bingung mau ngapain, aku bingung harus gimana,” tulisnya.

Situasi disebut semakin membuatnya tertekan ketika ia kembali dipanggil oleh asisten dan diarahkan untuk mendekati gus secara pribadi. Ia mengaku diminta menanyakan langsung keinginan sosok tersebut.

“Gus-nya itu punya segalanya, tapi kesepian, butuh dambaan hati,” tulisnya menirukan ucapan yang ia dengar.

Ia juga mengaku dijanjikan akan diberi “penangkal” berupa dzikir, dengan syarat tertentu.

Saat itu, korban justru diminta untuk memijat sosok gus itu. Korban diduga diminta gus untuk melakukan hal yang tak diinginkan, namun ia berpura-pura untuk tidur. 

"aku suruh mijetin orange dan kobisa aku disitu mau mau aja GOBLOK posisi di kamar beliau dan aku mijetin maaf rada kasar (aku mijetin sampe atas) sampe mengenai 'anunya' beliau bilang gini 'aku sudah sakau, kamu tau sakau sovi' dengan polos dan macak gobloknya aku jawab 'mboten gus, apa itu sakau (padahal paham)' cuman aku macak goblok aja biar aku ga di apa apain," kata Sovi. 

Dalam kondisi tertekan, korban mengaku berusaha memutar otak agar bisa keluar dari situasi tersebut. Ia menyebut berpura-pura kelelahan dan mengantuk agar bisa meninggalkan ruangan.

“Aku pura-pura tidur pulas, posisi melungker kayak bayi, biar nggak diapain,” tulisnya.

Ia mengaku akhirnya berhasil keluar dari ruangan, meski sempat terhambat karena ponselnya tertinggal. Hingga akhirnya, ia bisa meninggalkan lokasi pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

Dalam unggahan lanjutan, pemilik akun menyebut bahwa kasus ini diduga tidak hanya menimpanya seorang diri. Ia menyebut ada perempuan lain yang mengalami perlakuan serupa dengan modus job talent, briefing tidak jelas, durasi shooting molor, hingga tiba-tiba diminta melakukan sumpah pocong.

“Mirisnya, ini juga terjadi tindakan asusila ke beberapa perempuan,” tulisnya.

Ia mengakui kasus semacam ini sulit diproses secara hukum karena minimnya alat bukti. “Pelecehan seksual itu susah banget diperkarakan. Nggak ada bukti foto, video, atau visum. Padahal korbannya sudah banyak yang speak up,” tulisnya.

Korban menyatakan sengaja tidak mengungkap identitas lengkap pihak yang dimaksud untuk melindungi dirinya dari potensi pencemaran nama baik dan risiko hukum. Ia menegaskan tujuannya berbagi cerita adalah sebagai bentuk peringatan.

“Setidaknya kita bisa saling mengingatkan. Nggak perlu hate speech, cukup report dan block akun media sosialnya,” tulisnya.

JatimTIMES telah diizinkan untuk mengutip pernyataan tersebut dari korban. Media ini juga masih berupaya mengklarifikasi lebih lanjut terkait kasus ini. 


Topik

Peristiwa sumpah pocong talent shooting pakis malang pelecehan seksual



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa