JATIMTIMES - Harga emas kembali jadi perbincangan hangat di kalangan investor dan masyarakat yang rutin menabung logam mulia. Di tengah tren naik-turun harga, muncul prediksi anjloknya emas yang bisa turun drastis, bahkan sampai menyentuh level Rp 1 juta.
Isu ini ramai setelah sejumlah analis dan kreator konten investasi membahas potensi koreksi harga emas dalam waktu dekat. Hingga Sabtu (31/1/2026) siang, "antam hari ini" dan "antam" bahkan masih menjadi trending dalam penelesuran Google.
Baca Juga : Puguh DPRD Jatim Soroti Tingginya Angka Pernikahan Dini: Ancam Demografi dan Kualitas SDM
Founder Astoria, Yahya Malik Hidayat, menyebut harga emas bisa mengalami penurunan dalam hitungan hari. Terutama apabila dipicu faktor global yang sedang berubah cepat.
Menurut Yahya, pasar merespons pergantian pimpinan Bank Central Amerika Serikat atau The Fed. Pergeseran ini disebut langsung memengaruhi arah suku bunga dan sentimen emas dunia.
“Harga emas turun hampir 300 ribuan di hari Sabtu, tanggal 31 Januari 2026. Ini merupakan respon pasar atas pergantian bos The Fed, ya, dari Jerome Powell diganti ke Kevin Walsh,” kata Yahya.
Ia menjelaskan, kebijakan suku bunga The Fed memang kerap berdampak besar pada harga emas, meski bukan satu-satunya faktor.
“Untuk The Fed sendiri dalam menaikkan atau menurunkan suhu bunga itu biasanya berdampak langsung ke harga emas. Walaupun ini bukan merupakan faktor utama,” lanjutnya.
Yahya mengingatkan bahwa emas sangat sensitif terhadap situasi global, termasuk geopolitik.
“Tapi jangan lupa nih, situasi geopolitik saat ini juga masih belum berdaya. Jadi kalau misalkan ada satu sentimen yang bisa merubah harga emas, itu kemungkinan juga akan berbalik ribuan,” ujarnya.
Selain analis, pembahasan soal emas anjlok juga ramai di media sosial. Raka, kreator TikTok yang fokus pada edukasi investasi emas, menyebut ada enam faktor besar yang secara teori bisa membuat harga emas turun ekstrem.
“Kelar lu semua, guys. Emang bisa ya harga emas turun lagi jatuh ke 1 juta bang? Bisa. Kenapa nggak bisa?” ucap Raka dalam videonya.
Ia menyebut masyarakat tak perlu panik, tapi perlu memahami faktor-faktor yang memengaruhi harga emas dunia.
“Ada 6 faktor yang bisa membuat harga emas turun jatuh ke level terendah sepanjang sejarah,” katanya.
Berikut 6 faktor anjloknya emas menurut Raka, yang merangkum informasi dari berbagai sumber:
1. Nilai Tukar Dolar AS Menguat
Faktor pertama menurut Raka adalah kekuatan dolar Amerika Serikat. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya tertekan karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar. “Harga emas itu ditentukan bisa dari nilai tukar dolar,” ujar Raka.
Ia menambahkan bahwa hampir seluruh transaksi global masih sangat bergantung pada dolar. “Semua negara butuh dolar, kita beli emas aja itu sebenernya dolar guys,” katanya.
2. Kebijakan The Fed Super Hawkish
Raka menyebut, jika The Fed menaikkan suku bunga secara agresif dan bertahan lama, investor bisa beralih dari emas ke instrumen berbunga seperti obligasi.
“Ketika The Fed menaikkan lagi suku bunga itu super hawkish, bertahannya tuh lama banget,” jelasnya.
Baca Juga : Pesan Wali Kota Blitar kepada Kepala Sekolah: Mendidik Generasi Emas adalah Amanah
Ia menggambarkan situasi ketika suku bunga tinggi membuat orang melepas emas. “Mendingan ambil surat utang negaranya Amerika aja,” ucapnya.
3. Bank Sentral Dunia Kompak Jual Emas
Faktor ketiga adalah skenario ekstrem ketika bank-bank sentral dunia menjual cadangan emas mereka secara bersamaan.
“Bank Sentral Dunia rame-rame menjual emas secara bersamaan, serentak,” kata Raka.
Ia menyebut jika pasokan emas membanjir, harga bisa jatuh.
4. Dunia Tiba-tiba Damai Total
Emas dikenal sebagai aset safe haven saat terjadi konflik. Jika dunia benar-benar damai tanpa perang atau ketegangan, permintaan emas bisa turun.
“Dunia tiba-tiba damai guys, gak ada perang, gak ada pertikaian (emas juga bisa turun),” ujar Raka.
5. Regulasi Ekstrem Bank Sentral Dunia
Raka juga menyinggung kemungkinan regulasi global yang membuat emas tak lagi dianggap penting dalam sistem keuangan. “Kalau misalnya, seluruh dunia sepakat, emas udah nggak penting lagi,” katanya.
6. Teknologi Pengganti Emas
Faktor terakhir yang ia sebut paling spekulatif adalah munculnya teknologi atau material baru yang menggantikan fungsi emas.
“Dan yang terakhir adalah teknologi pengganti emas, ada sesuatu yang lebih berharga daripada emas,” ujar Raka.
Namun ia mengakui hal ini sulit terjadi karena emas masih dipakai dalam perangkat elektronik. “Laptop kalian, perangkat elektronik kalian, itu semua ada emasnya guys,” katanya.
Dengan demikian, baik Yahya Malik maupun Raka menegaskan bahwa harga emas dipengaruhi banyak faktor besar, mulai dari suku bunga, dolar, hingga geopolitik.
Meski wacana emas turun sampai Rp 1 juta ramai dibahas, skenario tersebut masih sangat ekstrem dan bergantung pada perubahan besar di sistem ekonomi global.
Bagi investor, kunci utamanya adalah tetap rasional, memahami risiko, dan tidak mengambil keputusan hanya karena tren viral di media sosial. Semoga informasi ini membantu ya.
