JATIMTIMES - Waktu Maghrib merupakan saat-saat yang ditunggu oleh umat Islam setelah seharian berpuasa menahan diri dari makan dan minum. Pada saat adzan Maghrib berkumandang, Muslim yang berpuasa dianjurkan untuk segera membatalkan puasa.
Bagi beberapa orang, pertanda datangnya Magrib sangat mudah. Yakni dengan terdengarnya lantunan adzan dari surau dan masjid terdekat.
Baca Juga : Banyuwangi Siagakan Tim Terpadu, Tertibkan Tempat Hiburan Malam
Namun adakalanya, ketika sedang melakukan perjalanan, atau di tempat tertentu yang tidak ada masjid sehingga suara adzan tidak terdengar, maka ini bisa menjadi kendala.
Lantas, bolehkah berbuka puasa tanpa mendengar adzan magrib dan hanya mengandalkan jadwal di Hp?
Penjelasan Buya Yahya
Mengenai kondisi tersebut, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang dikenal dengan Buya Yahya mengatakan, cara berbuka puasa harus bersandarkan pada dugaan waktu Maghrib telah tiba. Jika berbuka tanpa menduga Maghrib sudah tiba, maka puasa yang dikerjakannya batal.
“Anda harus berbuka dalam keadaan menduga bahwasanya Maghrib tiba,” kata Buya Yahya, dikutip dari YouTube Buya Yahya, Minggu (9/3/2025).
Buya Yahya menjelaskan, cara menduga waktu Maghrib telah tiba bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti mendengar suara bedug, mendengar kumandang adzan, atau melihat jadwal imsakiyah sesuai daerahnya yang ada di handphone.
“Harus ada dugaan. Yang gak boleh Anda mengira-ngira kayaknya sudah (Maghrib), makan, gak bisa, gak boleh,” ungkap Buya.
“Anda (berbuka puasa) harus berdasarkan sesuatu yang bisa dipercaya atau imsakiyah. Wah ini sudah Maghrib di HP, bisa diikuti, sah gak ada ada masalah. Puasanya sah dan diterima oleh Allah SWT,” sambung Buya.
Dari penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa jika tidak terdengar suara adzan maka boleh menggunakan jadwal yang tertera di handphone atau jadwal imsakiyah. Jika menurut imsakiyah sudah masuk Maghrib, seseorang boleh berbuka puasa tanpa harus mendengar suara adzan.
5 Adab Berbuka Puasa ala Rasulullah
1. Menyegerakan Berbuka Puasa
Pertama-tama, Rasulullah SAW mengutamakan untuk berbuka puasa segera setelah matahari terbenam. Hal ini dijelaskan dan diperintahkan oleh beliau dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad :
لا يَزَالُ النَّاسُ بِغَيْرِ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Artinya: “Manusia selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Darami, Malik, Baihaqi, Ahmad & Tirmidzi)
2. Membaca Basmalah
Mengucapkan basmalah dengan menyebut nama Allah SWT sebelum makan adalah sunnah yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Umar bin Abi Salamah melaporkan, “Dulu saya berada di rumah Rasulullah SAW, dan saat saya memegang makanan, beliau bersabda kepada saya :
‘Wahai anak! Bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dengan mengambil yang terdekat darimu.” (HR Bukhari & Muslim)
3. Membaca Doa Berbuka Puasa
Tidak lupa juga, sebelum menikmati hidangan berbuka puasa, Nabi SAW selalu mengucapkan doa khusus. Ini disebabkan karena dalam hadisnya dinyatakan bahwa doa seseorang yang sedang berpuasa hingga saat berbuka adalah doa yang sangat diterima oleh Allah.
Beliau SAW menuturkan, “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak; 1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, 2) pemimpin yang adil, 3) dan orang yang terdzalimi.” (HR Ibnu Majah, Ahmad & Tirmidzi)
Baca Juga : Perputaran Uang Pasar Takjil Ramadan Kota Batu Melebihi CFD, Tembus Rp 94 Juta Per Hari
Dalam riwayat shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW melafalkan doa ini ketika berbuka puasa:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّت الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
Latin: Dzahaba azh-zhama`u wa ibtallatil-‘urûqu wa tsabatal-ajru in syâ`allâhu ta’âlâ
Artinya: “Dahaga telah pergi, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.” (HR Abu Dawud & Baihaqi)
Dalam riwayat lain beliau membaca doa berbuka puasa, dengan lafaz berikut ini:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Latin: Allahumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu
Artinya: “Ya Allah, aku berpuasa hanya untuk-Mu dan aku berbuka dengan rezeki-Mu.” (HR Abu Dawud & Baihaqi)
4. Memakan Kurma atau Meminum Air
Kemudian, ketika waktunya berbuka dan sebelum melaksanakan salat Maghrib, Nabi SAW biasanya memakan kurma dalam jumlah ganjil. Jika tidak ada kurma, beliau akan berbuka dengan air. Seperti yang diceritakan oleh Anas bin Malik, ia menyampaikan,
“Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa kurma yang masih basah sebelum salat (Maghrib). Jika tidak ada, beliau berbuka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan meminum air.” (HR Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi & Hakim)
5. Mendirikan Salat Maghrib, Lanjut Menyantap Hidangan
Setelah itu, Nabi SAW melakukan salat Maghrib, dan kemudian menyantap hidangan besar setelah salat. Namun, jika makanan utama sudah tersedia sebelum salat berdasarkan riwayat Anas bin Malik, Rasul SAW menganjurkan umatnya:
“Jika makanan malam telah disediakan, makanlah makanan itu sebelum kamu melaksanakan sholat Maghrib dan janganlah tergesa-gesa dalam menyantapnya.” (HR Bukhari, Muslim & Ahmad).
