JATIMTIMES - Belakangan ini, klaim tentang beberapa jenis makanan yang disebut-sebut bisa memicu kanker kembali ramai diperbincangkan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah produk daging olahan seperti sosis dan nugget. Lantas, benarkah konsumsi makanan ini bisa langsung menyebabkan kanker?
Dokter Dion Haryadi, seorang dokter umum sekaligus Certified Nutrition & Health Coach, memberikan penjelasan mengenai klaim ini. Menurutnya, ada beberapa makanan dan minuman yang selama ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, antara lain:
• Daging olahan, seperti sosis, ham, dan nugget
• Alkohol
• Rokok (meskipun bukan makanan atau minuman, tetap menjadi faktor risiko utama)
Baca Juga : Euforia Kemenangan Rijanto-Beky: Kabupaten Blitar Berpesta dengan Tasyakuran dan Bukber Gratis
Namun, ia menegaskan bahwa kanker adalah penyakit multifaktorial yang sangat kompleks. Artinya, ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap risiko terkena kanker, tidak hanya dari makanan tertentu.
"Jadi memang gak cuma karena satu jenis makanan saja lalu langsung bakal kena kanker. Gak sesimpel kamu makan satu gigitan sosis terus langsung kena kanker, enggak. Tapi kalau kamu sering mengonsumsinya dalam jangka panjang, maka risikomu juga akan meningkat," jelas dr. Dion, dikutip dari Instagram pribadinya @dionharyadi, Sabtu (8/3/2025).
Lebih lanjut, dokter Dion menekankan bahwa faktor lain seperti pekerjaan, paparan polutan, gaya hidup, hingga faktor genetik juga memiliki peran besar dalam menentukan risiko kanker seseorang.
Menurutnya, seseorang yang menjalani pola makan sehat dan aktif secara fisik, meskipun sesekali mengonsumsi makanan olahan, tetap memiliki risiko lebih rendah dibandingkan orang yang menghindari makanan ini sama sekali tetapi menjalani gaya hidup tidak sehat.
Baca Juga : Tanamkan Nilai Kepedulian, Kapolresta Malang Kota Libatkan Mahasiswa di Safari Ramadan
"Semuanya tergantung dosisnya. Seberapa banyak dan sering kamu mengonsumsi makanan-makanan ini. Saya juga masih mengonsumsi sosis atau nugget olahan kok, tapi memang dengan jumlah dan frekuensi yang terbatas," ungkapnya.
Jadi, daripada terlalu khawatir berlebihan, masyarakat disarankan untuk lebih memperhatikan keseimbangan dalam pola makan serta gaya hidup sehat. Mengurangi konsumsi makanan olahan memang baik, tetapi menjaga pola makan secara keseluruhan dan tetap aktif secara fisik jauh lebih penting untuk kesehatan jangka panjang.
