JATIMTIMES – Nasib pengayuh becak di tengah maraknya ojek online (ojol) kian memprihatinkan.Hal ini terungkap dari kisah Sinyo, tukang becak yang mangkal di Alun-alun Kota Malang. Sinyo mengungkapkan, saat ini masyarakat lebih senang menggunakan ojol seperti Grab dan Maxim. Karena, tarifnya lebih murah dan nyaman.
“Sekarang sudah sepi, karena sudah ada ojek online, grab mobil dan motor terus maxim. Makanya sekarang penumpang lari ke sana dan sepi jadinya. Ditambah lagi dengan Covid-19 kemarin,” ungkapnya saat diwawancarai di Alun-alun Kota Malang, Rabu (15/2/2023).
Baca Juga : Partai Ummat Minta Maaf Soal Jurnalis yang Alami Pelecehan Saat Liput Rakernas
Sinyo juga menerangkan, saat ini penghasilan yang diperoleh hanya puluhan ribu tiap harinya. Bahkan terkadang dalam sehari tidak mendapatkan penumpang. “Penghasilan kalau sekarang ini tidak tentu. Kalau dulu ramai, tapi sekarang tidak bisa. Kadang satu hari itu saya cuma dapat penumpang sedikit, dan nariknya satu sampai dua kali. Untuk tarifnya tergantung jauh dekatnya, tapi minimal Rp 10 ribu,” terangnya.
Sinyo sudah menjadi tukang becak selama 20 tahun. Dengan kondisi becak yang semakin sepi peminatnya, dirinya ingin beralih ke pekerjaan lain. Akan tetapi, usianya sudah tua dan tidak mampu melakukan pekerjaan lain.
“Saya sudah tua mau kerja apa lagi. Mau kerja di bangunan atau pekerjaan lainnya tetapi saya sudah tidak kuat lagi mbak. Saya satu hari, kalau tidak ada penumpangnya, saya makan dengan uang yang kemarin-kemarin saja,” jelasnya.
Tukang becak lainnya Sarwono juga menyampaikan hal senada. Minat naik becak semakin berkurang karena adanya ojol. “Sekarang minat naik becak berkurang dan saingannya banyak. Saingannya grab, maxim dan tentunya berpengaruh dengan adanya mereka itu. Tetapi, semuanya kembali ke rezekinya kita, dan masyarakat mau yang mana,” tambahnya.
Baca Juga : Viral Belasan Remaja Putri Adu Jotos di Lapangan Tanah Merah Bogor
Disinggung terkait tarif, Sarwono menyampaikan tak menetapkan tarif kepada setiap penumpang. Semuanya tergantung jarak dan kesepakatan antara keduanya. “Tarifnya kalau becak kan tidak bisa pokoknya seadanya saja, tinggal kesepakatan berapa. Kadang-kadang tidak tentu. Kalau lagi rezekinya ada kasih saya Rp 50 ribu walaupun dekat. Tetapi, kadang juga saya tidak ada penumpang sama sekali dan pulang ke rumah tak bawa uang,” ucapnya.
“Beda kalau di ojek online kan memang otomatis ada tarif. Paling jauh saya narik ke Batu dan dikasih Rp 80 ribu. Terus juga pernah ke Lawang saya dikasih Rp 100 ribu. Tapi saya selalu bersyukur namanya juga kita kerja,” ujarnya.
