Sejumlah pedagang di Pasar Wage Tulungagung mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa bulan terakhir. Sepinya pembeli ini berdampak pada penghasilan pedagang yang merosot. Kondisi ini sudah dirasakan setidaknya sejak 2 bulan terakhir.
“Hari-hari terakhir ini suasananya memang sepi, kira-kira sejak 2 bulan ini," ujar salah satu pedagang sepatu di Pasar Wage, Ropi’ah, Kamis (6/2/20).
Masih menurut Ropi’ah, akibat sepinya pembeli ini penghasilannya turun. Meski demikian dirinya enggan mengungkapkan besaran penghasilannya. Ropi’ah sendiri mempunyai 12 kios dengan 7 pegawai. Selain sepatu, dirinya juga menjual sandal dan tas. Pembelinya rata-rata dari luar kota seperti Kediri, Trenggalek dan Blitar.
“Enggeh (iya) pasti (penghasilanya) menurun,” ujar wanita paruh baya itu.
Meski sepi, setiap hari dirinya masih bisa menjual daganganya walaupun tidak seramai biasanya.
Sepinya pembeli ini kata Ropi’ah terjadi secara merata. Pedagang lain juga merasakan hal serupa.
“Jika dari desa sepi maka kota (baca pasar) juga sepi, karena kebanyakan pembeli dari desa,” terang Ropi’ah.
Kondisi serupa juga dikeluhkan oleh Hudi, pedagang grosir baju di Pasar Wage. Hudi menjelaskan sepinya pembeli lantaran saat ini di desa sedang musim tanam. Pasar akan kembali ramai jika memasuki masa panen.
“Jika di kampung baru panen, maka pembeli juga lancar,” terang Hudi.
Selain musim tanam, pasar akan kembali sepi pada awal masuk ajaran baru sekolah dan musim orang menikah.
Hudi biasanya memperoleh barang dagangannya dari wilayah Bandung Jawa Barat, Solo, Pekalongan dan Jakarta.
Sama halnya dengan Ropi’ah, pembeli Hudi juga berasal dari luar kota seperti Kediri, Trenggalek, Blitar, bahkan dari Mojokerto.
“Kadang online juga, grosir online,” katanya.
Meski mengaku penghasilanya menurun, Hudi tidak bisa menjelaskan penurunya itu lantaran uang yang diperolehnya langsung diputar untuk membeli barang dagangan lagi.
“Misal sehari dapat 5 juta, nanti sore sudah untuk membayar sales,” pungkasnya.
