Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk ikut memperingati kemerdekaan RI. Di Malang Raya, warga memiliki tradisi barikan. Barikan merupakan acara tasyakuran atau selamatan yang digelar di kampung-kampung atau lingkungan warga pada 16 Agustus malam atau sering disebut malam 17-an.
Di daerah lain, seperti di Yogyakarta atau Semarang tradisi barikan ini memiliki nama lain yakni tirakatan. Di Malang, barikan dilakukan dengan berbagai ragam rangkaian kegiatan. Tetapi secara garis besar, acara wajib yang ada adalah renungan kemerdekaan dan doa bersama. Dilanjutkan dengan makan-makan atau saling tukar-menukar berkat atau kotak nasi.
Seperti yang dilakukan warga RT 10/RW 14 Kelurahan Bunulrejo. Di sebidang tanah kosong di sela-sela perkampungan padat penduduk, warga membuat panggung sederhana. Sebuah banner dengan tulisan Dirgahayu Republik Indonesia bercorak merah putih, ditambah bunga-bunga dan tanaman milik warga menjadi hiasan penyemarak.
Suasana haru terasa saat sesepuh desa dan tokoh masyarakat setempat menyampaikan renungan kemerdekaan dan doa. Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Suasana kembali ceria saat anak-anak membawakan berbagai tari-tarian. Misalnya tari payung yang memakai kostum dan properti dari barang bekas.
"Setiap tahun memang tradisi barikan ini kami lakukan. Tujuannya untuk mengungkapkan rasa syukur, juga bersilahturahmi karena semua warga berkumpul," ujar Nanang, Ketua RT 10/RW 14 Kelurahan Bunulrejo. Menurut Nanang, barikan merupakan puncak peringatan 17-an yanh digelar.
"Sebelumnya sudah ada beberapa kegiatan seperti kerja bakti dan menghias kampung, juga lomba-lomba. Pemberian hadiah lomba juga kami lakukan malam ini," urainya.
Terpisah, pegiat Malang Heritage Community, Agung Bhuwana mengungkapkan bahwa barikan bisa dimaknai sebuah ungkapan syukur rakyat atas kemerdekaan. "Jika dahulu pejuang bahu membahu melawan musuh, maka di era kini, masyarakat gotong royong membuat acara syukur. Dalam bentuk mengenang kebersamaan tersebut dengan berkumpul menikmati aneka makanan bersama tetangga," ujar Agung.
Selain itu, menurut Agung, barikan juga merupakan perwujudan kebersamaan, saling menjaga satu tetangga dengan tetangga lainnya seperti halnya saat revolusi fisik melawan penjajah. "Terinspirasi oleh hal tersebut, wujud syukur malam menjelang 17 Agustus, masyarakat menggelar kebersamaan saat-saat mengisi kemerdekaan," pungkas pria yang juga Kasi Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang itu.
