Kerajinan gerabah bangkit dari keterpurukan. Bahkan kini gerabah terlahir kembali dalam dimensi baru yang memiliki nilai seni. Kerajinan gerabah pada awalnya hanya berfungsi sebagai peralatan rumah tangga biasa, seperti tempayan, tungku, dan perabotan makan. Namun kini kerajinan gerabah lebih didominasi produk-produk interior rumah yang bernilai seni tinggi. Seperti guci, pot hias, dan aneka pernak-pernik lainnya.
Salah satu sentra gerabah di antaranya terletak di Kabupaten Blitar. Tepatnya di Dusun Precet, Desa Plumpung Rejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Dusun yang telah lama dikenal sebagai Kampung Gerabah ini kini semakin berkembang setelah ada Wisata Edukasi Gerabah (WEG) yang membuat perajin setempat kembali bersemangat.
Wisata Edukasi Gerabah tersebut didirikan oleh Sumadi yang kini dilanjutkan oleh anaknya Muhammad Burhanudin (30). Di tangan mereka, gerabah yang bentuknya biasa-biasa saja disulap menjadi kerajinan hiasan interior rumah yang cantik. Guci besar perpaduan tanah liat dengan batu apung bahkan sangat diminati pasar. Di tempat ini, selain membeli gerabah, pengunjung bisa belajar cara membuat dan menghias gerabah.
"Saya belajar sudah sejak SMA pada tahun 2000an. Untuk sementara ini saya fokuskan ke perkembangan wisata edukasi untuk anak-anak sekolah mulai dari PAUD, TK, SMP, SMA. Bahkan ada yang sampai kuliah untuk membuat skripsi. Namun Kebanyakan anak TK sih mas, disini wisata edukasinya juga bisa memilih mewarnai atau membuat gerabah,” kata Burhanudin, Jumat (9/3/2018).
Burhanudin mengaku, usaha gerabah ini awalnya dirintis oleh orang tuanya. Sejak dulu, mayoritas warga desa tempat tinggalnya bekerja sebagai pembuat gerabah karena bahan dasar gerabah di tempat ini sangat melimpah.
"Alasan saya meneruskan usaha ini yang pertama usaha ini sudah dimulai orang tua. Yang kedua bahannya juga melimpah disini. Yang ketiga untuk harga pasar masih bagus dan prospek kedepannya masih sangat bagus dan terbuka lebar terutama dalam dunia pendidikan. kebetulan saya juga bisa dan itu membuat saya untuk lebih bersemangat lagi,” ujarnya.
Untuk bisa menikmati wisata edukasi ini sangat murah. Pengelola mematok harga sangat murah, mulai dari Rp 12 ribu sampai Rp 25 ribu. Harga itu mulai dari proses pewarnaan hingga gerabah bisa dibawa pulang. Sementara untuk praktek membuat gerabah, harus melalui proses pengeringan beberapa hari dulu.
Sementara Sumadi, ayah Burhanudin pada kesempatan ini menjelaskan bahwa di pertengahan tahun 1990 an harga gerabah sempat menurun. Agar tidak gulung tikar, ia membuat inovasi membuat gerabah hias. Usaha yang kini diteruskan anaknya.
"Awalnya di kampung disini banyak yang membuat gerabah seperti alat dapur masak memasak, pada tahun 1994 harga gerabah semakin menurun. Pada tahun itu saya mempunyai gagasan daripada punah saya membuat gerabah hias. Mulai dari 1994 itulah saya belajar membuat gerabah antic,” kata Sumadi kepada BLITARTIMES.
Saat ini produksi gerabahnya memiliki 10 karyawan. Omsetnya pun juga menggiurkan satu bulan sampai 20 juta. Penjualan produksi gerabah ini meliputi Jawa Timur bahkan sampai Kalimantan dan Bali.
"Satu bulan saya menghasilkan sampai 2000 gerabah, harga mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 850 ribu. Setiap hari biasanya malah untuk gerabah kecil saya bisa menghasilkan 100 lebih gerabah. Yang membuat harga agak mahal finisingnya lama serta pengecetannya juga lama,” tuntasnya. (*)
