Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Bayi Tujuh Bulan di Tulungagung Makan Ceker Ayam dan Panjat Tebu

Penulis : Anang Basso - Editor : Lazuardi Firdaus

08 - Oct - 2017, 16:31

Placeholder
Acara pithonan merupakan budaya turun tanah di Tulungagung. / Foto : Tulungagung TIMES

Budaya tedhak siten atau turun tanah masih dipegang teguh oleh masyarakat Tulungagung. Budaya yang juga disebut pithonan itu untuk balita berusia antara tujuh hingga delapan bulan. Pithonan ini menandai kali pertama kaki si anak menyentuh tanah, seperti yang dilakukan di Dusun Pati, Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut. 

"Tedhak artinya turun dan siten berasal dari kata siti yang berarti tanah. Jadi, tedhak siten adalah rangkaian upacara turun tanah yang bertujuan agar si anak tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mampu menghadapi setiap godaan atau rintangan dalam hidupnya," kata Arini, ibu seorang anak yang melakukan upacara pithonan. 

Selain itu, upacara pithonan mempunyai makna kedekatan anak dengan "ibu". Ibu di sini maksudnya adalah ibu pertiwi atau tanah kelahiran. Ritual ini menggambarkan persiapan seorang anak dari kecil sampai dewasa untuk menjalani setiap fase kehidupan dengan baik dan benar sehingga diharapkan sukses di masa depannya.

"Pithonan juga merupakan acara turun-temurun yang dipertahankan untuk memberi kesaksian bagi anak, mulai dari mandi berpakaian hingga diberi doa anak lainnya," kata Jiman, kakek Rania, anak usia tujuh bulan yang di-pithoni. 

Pithonan biasanya diadakan pagi hari dan biasanya hanya terdiri dari keluarga dekat dan anak-anak. Mereka berada di halaman. Sedangkan bapak-bapak di dalam rumah melakukan acara metri atau doa bersama dengan ambengan lengkap berupa nasi yang akan dibagi setelah diberi doa. Sementara bagi anak, ada berkat dengan porsi anak, tumpeng, sangkar ayam, ayam, serta ingkung dan lainnya.

Orang tua dengan dibantu seorang dukun yang dituakan akan melakukan upacara dari memandikan, pupuran, memakai baju baru, dikurung dengan ayam, dan memilih makanan yang biasanya berupa ceker dan sayap. "Anak dimasukkan ke dalam kurungan yang sudah dihias untuk memilih benda-benda yang disukainya, agar anak mulai mampu memilih sendiri mana yang ada dalam pikirannya," kata Mbah Jami, dukun anak yang ikut memimpin acara. 

Terakhir, anak dituntun menaiki tangga yang terbuat dari "tebu". Tebu di sini merupakan singkatan dari antebing kalbu atau mantapnya hati. Sehingga diharapkan anak mempunyai kemantapan hati dalam menjalani kehidupan, mulai anak-anak, remaja, dewasa sampai tua. Setelah turun dari anak tangga, si anak dituntun berjalan menuju onggokan pasir yang sudah disediakan. 

" Anak sudah boleh turun tanah, main di halaman dengan debu dan pasir atau ceker itu artinya jika sudah waktunya dewasa, dia pandai mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya," pungkasnya. (*) 


Topik

Peristiwa Acara-pithonan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anang Basso

Editor

Lazuardi Firdaus