Harlah 1 Abad NU di Mata Gereja: Saat Kota Malang Membuka Komitmen Berbagi Ruang
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Dede Nana
07 - Feb - 2026, 04:43
JATIMTIMES - Bagi gereja-gereja di sekitar Stadion Gajayana, peringatan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama bukan sekadar agenda keagamaan umat lain. Selama dua hari, Sabtu–Minggu (7–8 Februari 2026), perhelatan besar NU itu justru dibaca sebagai momen untuk berbagi ruang dan waktu demi puluhan ribu jemaah yang datang ke Kota Malang.
Sekitar 100 ribu Nahdliyin dari berbagai daerah di Jawa Timur memadati kawasan Stadion Gajayana. Kepadatan jemaah, penutupan jalan, hingga keterbatasan daya tampung stadion membuat sejumlah titik di sekitar lokasi menjadi krusial. Di situ, gereja-gereja yang berada di sekitar stadion mengambil peran dengan membuka fasilitas mereka bagi para jemaah.
Baca Juga : 3 Kanal Resmi Info Seputar Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Malang, Jangan Sampai Nyasar
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi keterlibatan gereja-gereja yang ikut membantu kelancaran pelaksanaan Harlah 1 Abad NU. Menurutnya, dukungan yang diberikan sangat membantu, terutama dalam menyediakan ruang singgah dan fasilitas dasar bagi jemaah.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada beberapa gereja yang telah menyiapkan tempat istirahat, toilet, tempat wudu, tempat salat, serta makanan dan minuman bagi para jemaah,” ujar Wahyu.
Wahyu menyebut, setidaknya ada tujuh hingga delapan gereja di sekitar stadion yang terlibat langsung membantu selama rangkaian kegiatan berlangsung. Keberadaan gereja-gereja tersebut dinilai strategis untuk mengantisipasi keterbatasan kapasitas stadion serta dampak penutupan sejumlah ruas jalan.
“Ini sangat meringankan kami dalam penyelenggaraan kegiatan sebesar ini,” katanya.
Namun, bagi gereja-gereja tersebut, dukungan yang diberikan bukan semata soal teknis. Kepala Paroki Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel atau Gereja Ijen, R.D. Petrus Prihatin, menuturkan bahwa pihaknya secara sadar mengambil keputusan untuk meniadakan beberapa jadwal Misa Kudus pada Sabtu sore dan Minggu pagi.
Langkah itu diambil agar area gereja dan sekitarnya dapat digunakan sebagai tempat transit dan istirahat bagi jemaah NU yang mengikuti rangkaian Harlah di Stadion Gajayana.
“Kami meniadakan beberapa jadwal Misa agar lokasi gereja dan sekitarnya bisa digunakan untuk transit para jemaah yang mengikuti Harlah NU. Gereja juga menyiapkan minuman bagi para jemaah sebagai bentuk dukungan dan toleransi kami,” ujar Romo Petrus.
Ia menegaskan, kebijakan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada umat Islam yang tengah merayakan satu abad Nahdlatul Ulama. Pihak gereja membuka gerbang, menyiapkan area beratap, dan memastikan jemaah yang singgah dapat beristirahat dengan nyaman.
Menurut Romo Petrus, umat paroki menerima kebijakan tersebut dengan baik dan tanpa keberatan. Pasalnya, masih tersedia gereja-gereja lain di Kota Malang yang dapat digunakan umat untuk beribadah.
Baca Juga : Graha Bangunan Blitar Hadirkan Paint Festival, Diskon hingga 50 Persen untuk Renovasi Rumah
“Kami sungguh mendukung dan menghormati saudara-saudara kami yang merayakan Harlah satu abad NU. Semoga kegiatan ini berjalan lancar, tertib, dan membawa kebaikan ke depan,” tambahnya.
Dukungan lintas iman juga datang dari Gereja HKBP Malang di Jalan Bromo. Pendeta HKBP Malang, Pdt. Melva Sitompul, mengatakan pihaknya ikut ambil bagian dalam menyukseskan peringatan Harlah NU dengan menyediakan sekitar 250 paket snack berupa roti dan air mineral bagi jemaah NU yang datang ke Malang.
“Kami menyediakan snack berupa roti dan air mineral sekitar 250 paket untuk tamu NU. Gereja kami juga terbuka untuk tempat istirahat dan menyediakan area parkir bagi para peserta,” jelasnya.
Tak hanya itu, Gereja HKBP Malang juga menyesuaikan jadwal ibadah Minggu. Dari semula lima kali kebaktian, jadwal tersebut dikurangi menjadi dua kali kebaktian pada Minggu sore. Penyesuaian ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan partisipasi dalam perayaan 100 tahun NU.
“Jemaat kami memahami dan mengapresiasi keputusan ini. Toleransi bukan hanya soal ucapan, tetapi juga tindakan. Kiranya perayaan ini berlangsung dengan sukacita, dan kerukunan antarumat beragama semakin terasa di Kota Malang,” pungkas Pdt. Melva.
Bagi gereja-gereja di sekitar Stadion Gajayana, Harlah 1 Abad NU menjadi pengalaman berbagi ruang yang nyata. Bukan sekadar simbol toleransi, melainkan praktik hidup berdampingan yang dijalani bersama.
Di Kota Malang, perayaan satu abad NU pun tercatat bukan hanya sebagai peristiwa keagamaan besar, tetapi juga sebagai cerita tentang kebersamaan lintas iman.
