Nenek Tua Digugat di Pengadilan, di Tengah Kesibukannya Merawat Anak Cacat Permanen | Madiun TIMES

Nenek Tua Digugat di Pengadilan, di Tengah Kesibukannya Merawat Anak Cacat Permanen

Aug 17, 2022 15:50
Mbah Tini bersama Dr. Lia Istifhama, M.E.I., Aktivis Perempuan 
Mbah Tini bersama Dr. Lia Istifhama, M.E.I., Aktivis Perempuan 

JATIMTIMES - Nama panggilannya Mbah Tini. Janda lanjut usia yang harus berjalan tertatih dengan tubuh yang membungkuknya. Usianya menginjak 77 tahun, membuat matanya kian sayu Namun bukan berarti Mbah Tini kemudian sendu dan berpangku tangan atas apa saja yang dihadapinya. 

Melainkan, di usia senja tersebut, Mbah Tini harus merawat dua anaknya yang mengalami cacat permanen. Satunya adalah korban tabrak lari yang mengalami pembukaan kepala, dan satu lagi penderita multiple sclerosis.

Baca Juga : Momentum HUT Ri ke-77, AHY Ajak Rawat Persatuan, Demokrasi dan Kebangkitan Ekonomi

Tak pelak, janda yang tinggal di rumah warisan keluarga di tengah gang sempit dan jauh dari kesan mewah tersebut, setiap harinya harus telaten menyuapi hingga mengurusi segala kebutuhan hajat kedua anak yang usianya menginjak di atas 40 tahun tersebut.

Perjuangan selama hampir lima tahun untuk merawat kedua anaknya, ternyata masih harus berlanjut pada perjuangan lainnya. Dalam hal ini, perjuangan menyelamatkan tempat tinggal warisan keluarga yang ditinggalinya bersama anak-anaknya.

Mbah Tini, perempuan tua yang saat itu datang bersama salah satu anaknya yang lain, yaitu sebut saja Bu Asih, berjalan tertatih dengan baju dan kerudung yang lusuh dan sandal jepit yang semakin melengkapi lusuhnya penampilannya, di salah satu Pengadilan Negeri Surabaya pada akhir Juli lalu dengan nomor perkara : 46/Pdt.G.S/2022/PN.Sby.

Bu Asih yang berjalan dengan membopong lengan Mbah Tini yang tidak kuat berjalan sendiri, juga tak kalah memprihatinkan. Usianya memang masih 40-an, tapi postur tubuhnya jauh dari kata sehat. Badannya yang besar dan kakinya yang berjalan terseret, praktis membuat keduanya seharusnya menarik simpati orang lain.

Terlebih, Bu Asih pun seorang janda yang hidupnya menjadi tulang punggung keluarga melalui profesinya sebagai penjual makanan. Setelah keluar dari ruang sidang, keduanya kemudian duduk sejenak di depan ruang sidang. Terlihat keduanya membawa beberapa kertas yang terlihat telah berlipat-lipat, lusuh dan tidak rapi. Terlihat jelas sebuah logo sebuah wadah pinjam meminjam.

"Ibu datang sebagai tergugat, nggih? Digugat karena utang piutang, Bu?" tanyaku yang kemudian terkuaklah kisah pahitnya.

Wanita yang seharusnya banyak di rumah untuk menikmati usia tua dengan cucu-cucunya tersebut ternyata terbebani utang dari almarhum anaknya. Anaknya tersebut, sebut saja Tikno, telah meninggal dan istrinya pun harus berjuang merawat dua anak yatim.

Baca Juga : Bahagianya Ibu di Jombang Lahirkan Anak Tepat di Momen HUT RI

Kini, lembaga yang meminjamkan uang tersebut, menggugat Mbah Tini untuk membayar uang senilai Rp 100 jutaan dan sekaligus aset rumahnya. Jika tidak membayar sesuai gugatan, maka akan dibebankan denda harian hingga Rp 345 ribu. Jumlah yang tidak sedikit, terlebih untuk mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. 

Apalagi, pinjaman pak Tikno hanyalah Rp 49 juta dan telah diangsur sekitar Rp 10 juta. Sebuah kondisi yang sangat memprihatikan, bukan? Dan kini, sang nenek tersebut tengah menanti putusan hakim. Dan tentu, kita berharap adanya putusan seadil-adilnya dan mengedepankan sisi kemanusiaan.

 

Penulis : Dr. Lia Istifhama, M.E.I., Aktivis Perempuan 

Topik
Berita opini

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya