JATIMTIMES - Virus nipah kembali menyita sorotan setelah sejumlah kasus baru dilaporkan di India. Otoritas kesehatan setempat mencatat sedikitnya lima orang terkonfirmasi terinfeksi virus mematikan tersebut di wilayah Barasat, Benggala Barat.
Dua kasus pertama diketahui menyerang tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit swasta, sebelum kemudian muncul tiga kasus tambahan dalam waktu singkat.
Baca Juga : Maksimalkan Layanan, RSD Kalisat Luncurkan Inovasi Kamus Medis Madura
Perkembangan ini menjadi pengingat bahwa ancaman virus nipah masih berpotensi menyebar lintas negara. Karena itu, pemahaman soal asal-usul virus, cara penularan, gejala awal, hingga langkah pencegahan menjadi hal penting agar masyarakat bisa melindungi diri sejak dini.
Untuk diketahui, virus nipah pertama dikenali pada akhir 1990-an di Malaysia. Saat itu, wabah terjadi di sebuah peternakan babi. Banyak hewan ternak mengalami demam, gangguan pernapasan, hingga kejang.
Penelitian kemudian mengungkap bahwa virus tersebut berasal dari kelelawar buah yang menularkannya ke babi, sebelum akhirnya menyebar ke manusia.
Kelelawar diketahui sebagai reservoir alami virus nipah. Artinya, virus dapat hidup di dalam tubuh kelelawar tanpa menimbulkan gejala sakit. Masalah muncul ketika virus berpindah ke hewan lain atau manusia, karena pada inang baru inilah virus bisa menyebabkan penyakit serius.
Perubahan lingkungan turut memperbesar risiko penularan. Penebangan hutan dan rusaknya habitat alami membuat kelelawar semakin sering mendekati permukiman warga dan area peternakan. Situasi ini membuka peluang lebih besar bagi virus untuk berpindah dari satwa liar ke hewan ternak, lalu ke manusia.
Penularan virus nipah dapat terjadi melalui berbagai jalur. Kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, atau urine, menjadi salah satu cara utama penyebaran. Hewan ternak, terutama babi, kerap berperan sebagai perantara penularan dari kelelawar ke manusia.
Selain itu, risiko muncul dari makanan. Mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi, terlebih jika dimasak tidak matang, dapat membuka jalan masuknya virus ke dalam tubuh. Buah-buahan atau bahan pangan yang terkontaminasi air liur atau kotoran kelelawar juga berpotensi menularkan virus.
Tak berhenti di situ. Virus nipah juga dapat menyebar antar-manusia. Penularan ini umumnya terjadi melalui kontak dekat dengan pasien, terutama saat terpapar cairan tubuh seperti air liur.
Setelah seseorang terpapar virus nipah, gejala biasanya muncul dalam waktu 4 hingga 14 hari. Pada fase awal, keluhan sering menyerupai flu, sehingga kerap dianggap sepele. Beberapa gejala awal yang umum antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, mual, muntah, hingga sesak napas dan kesulitan menelan.
Pada kondisi yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi peradangan otak atau ensefalitis. Penderitanya bisa mengalami kantuk berlebihan, gangguan konsentrasi, disorientasi, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran. Dalam kasus parah, infeksi virus nipah dapat berujung fatal.
Upaya pencegahan virus nipah pada dasarnya berfokus pada mengurangi paparan sumber penularan dan menjaga kebersihan. Ada sejumlah langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Ingin Liburan ke Pantai di Pacitan? Ini 3 Rekomendasi Hotel yang Nyaman Untuk Menginap!
Menghindari kontak langsung dengan hewan berisiko menjadi langkah utama. Kelelawar dan hewan ternak seperti babi merupakan sumber penularan yang perlu diwaspadai, terutama jika hewan tampak sakit. Jika harus berinteraksi, penggunaan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan sangat dianjurkan.
Kebersihan makanan juga tak kalah penting. Buah dan sayuran sebaiknya dicuci bersih dengan air mengalir dan dikupas sebelum dikonsumsi. Buah yang terlihat rusak atau memiliki bekas gigitan kelelawar sebaiknya dibuang.
Untuk produk hewani, pastikan daging dimasak hingga benar-benar matang dan hindari konsumsi daging mentah atau setengah matang.
Masyarakat juga disarankan tidak mengonsumsi nira atau air aren mentah langsung dari pohon. Cairan tersebut sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum diminum untuk menekan risiko kontaminasi.
Menjaga kebersihan tangan menjadi kebiasaan penting lainnya. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah menyentuh hewan, sebelum makan, atau setelah berinteraksi dengan orang sakit. Jika air tidak tersedia, hand sanitizer bisa menjadi alternatif.
Etika batuk dan bersin, serta penggunaan masker saat sakit, juga perlu diterapkan, khususnya untuk melindungi kelompok rentan.
Saat membersihkan kotoran atau urine hewan, penggunaan alat pelindung seperti sarung tangan, sepatu boots, dan pelindung wajah dianjurkan guna meminimalkan paparan cairan tubuh yang berisiko membawa virus.
Bagi tenaga kesehatan, anggota keluarga yang merawat pasien, serta petugas laboratorium, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi harus dilakukan secara ketat. Penggunaan APD dan prosedur penanganan spesimen yang aman menjadi kunci untuk mencegah penularan lanjutan.
Dengan mengenali gejala sejak dini dan menerapkan langkah pencegahan yang tepat, risiko penularan virus Nipah dapat ditekan. Kewaspadaan, pola hidup bersih, dan perilaku aman menjadi benteng utama menghadapi ancaman penyakit ini.
