free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Perlombaan Ilmu di Abad 10: Ketika Tiga Kekhalifahan Islam Beradu Gagasan

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

24 - Aug - 2025, 11:06

Placeholder
Ilustrasi tiga kekhalifahan besar Islam Abbasiyah di Baghdad, Umayyah di Cordova, dan Fatimiyah di Mesir (istimewa)

JATIMTIMES - Bayangkan sebuah masa ketika kekuasaan bukan hanya diukur dari luas wilayah dan kekuatan militer, tetapi juga dari seberapa besar sebuah kerajaan mampu melahirkan ilmuwan dan karya pengetahuan. Itulah yang terjadi pada abad ke-10, ketika tiga kekhalifahan besar Islam Abbasiyah di Baghdad, Umayyah di Cordova, dan Fatimiyah di Mesir, terlibat dalam sebuah “kompetisi sunyi” untuk menguasai peradaban melalui ilmu.

Sejarawan Dr. H. Syamruddin Nasution dalam karyanya Sejarah Peradaban Islam (2013) menggambarkan periode ini sebagai era keemasan intelektual. Ia menyebut Fatimiyah sebagai “kekuatan ketiga” setelah Abbasiyah dan Umayyah, yang berhasil menempatkan ilmu pengetahuan sebagai pilar kekuasaan. Berbeda dengan perebutan wilayah yang sering menimbulkan peperangan, persaingan di bidang ilmu justru menghasilkan energi kreatif dan mencetak ilmuwan yang namanya melintasi zaman.

Baca Juga : Kalender Jawa Minggu Pon, 24 Agustus 2025: Watak Weton, Rezeki, Jodoh, dan Hari Baik

Di Mesir, Khalifah Al-Aziz Billah melanjutkan warisan ayahnya dengan cara unik: ia membesarkan Universitas Al-Azhar, bukan sekadar sebagai tempat belajar, tetapi juga pusat kehidupan mahasiswa. Negara menanggung makan, pakaian, hingga tempat tinggal, sehingga mahasiswa hanya punya satu tugas: belajar. Di sinilah tampak bagaimana kekuasaan digunakan untuk merawat akal dan pikiran.

Tak kalah menarik adalah peran wazirnya, Ya’qub ibn Keles. Sosok mualaf dari kalangan Yahudi ini menjadi motor penggerak diskusi ilmiah. Setiap Kamis dan Jumat, istananya dipenuhi ulama fikih, qadhi, dan cendekiawan lintas bidang. Ia tidak hanya menyelenggarakan forum, tetapi juga menulis kitab fikih besar yang kemudian dipelajari luas di kalangan Syiah. Dalam catatan Dr. Syamruddin, Ibn Keles bahkan menjadikan masjid sebagai arena ceramah tentang teologi Ismailiyah, memperluas ruang publik bagi ilmu.

Generasi berikutnya, Khalifah Al-Hakim Biamrillah, membawa semangat itu ke level baru. Ia mendirikan Darul Hikmah, perpustakaan megah yang terbuka untuk umum. Di tempat ini, buku-buku dari berbagai disiplin dikaji bersama, lalu didiskusikan dalam forum yang sering dihadiri sang khalifah sendiri. Hadiah pun diberikan kepada para ilmuwan yang berkontribusi. Dari lingkungan inilah lahir tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Yunus, ahli astronomi, dan Ibnu Haitam, fisikawan yang kelak dikenal sebagai bapak optik modern.

Namun, Mesir bukan satu-satunya panggung. Di Baghdad, Khalifah Al-Makmun dari Abbasiyah memanjakan para penerjemah dengan hadiah emas seberat buku yang mereka selesaikan. Sementara di Cordova, Abdurrahman III mengalokasikan sepertiga pendapatan negara untuk pendidikan, seni, dan kebudayaan. Seolah ada lomba tak tertulis: siapa yang paling banyak menumbuhkan ilmu, dialah yang paling berhak mengklaim kejayaan.

Persaingan itu akhirnya menjadi berkah. Bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga bagi dunia. Gagasan dan penemuan yang lahir dari Baghdad, Cordova, dan Kairo menyeberang ke Eropa, menjadi fondasi bagi Renaisans berabad-abad kemudian.

Baca Juga : Gebyar Merdeka Favehotel Malang, Seru-seruan Bareng Karyawan Rayakan HUT Ke-80 RI

Sejarah ini menyimpan pesan kuat: kemajuan ilmu tidak lahir di ruang hampa, melainkan dari keberanian pemimpin untuk berinvestasi pada akal budi. “Jika kepala pemerintahan memberi dukungan penuh, maka ilmu akan berkembang dan melahirkan peradaban,” tulis Dr. Syamruddin.

Kini, seribu tahun lebih sudah berlalu. Namun jejak kompetisi intelektual tiga kekhalifahan itu masih relevan: bahwa sebuah bangsa hanya bisa besar jika menempatkan ilmu pengetahuan di jantung kekuasaannya.


Topik

Agama Syamruddim-nasution khalifah masa Khalifah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya