JATIMTIMES - Umat Islam di seluruh dunia kini menyambut datangnya bulan Rabiul Awal 1447 Hijriah, bulan mulia yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Pada bulan inilah Nabi Muhammad SAW, nabi terakhir yang diutus oleh Allah kepada umat manusia telah lahir.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2025 terbitan Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), bulan Safar 1447 H berakhir pada 24 Agustus 2025 yang bertepatan dengan hari Minggu. Artinya, bulan Rabiul Awal akan dimulai pada Senin, 25 Agustus 2025, menjadi penanda masuknya bulan kelahiran Rasulullah SAW.
Baca Juga : Fenomena Black Moon 23 Agustus 2025, Saat Bulan Hilang dari Langit Malam
Menurut riwayat yang masyhur, Rasulullah SAW lahir di Makkah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Malam kelahiran Nabi digambarkan para ulama sebagai malam penuh cahaya, pertanda hadirnya sosok yang kelak membawa risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Kehadiran Nabi Muhammad SAW menjadi anugerah bagi umat manusia. Tak heran jika bulan Rabiul Awal setiap tahunnya selalu dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat Islam, termasuk di Indonesia.
Tradisi Peringatan Maulid Nabi di Indonesia
Di tanah air, momentum kelahiran Rasulullah biasanya diperingati dengan beragam kegiatan keagamaan. Mulai dari tablig akbar, pembacaan sholawat, pengajian, hingga perlombaan bernuansa Islami. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi dan upaya meneladani akhlak mulianya.
Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitab Mafahim Yajib an Tushahhah menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah ibadah yang dipersoalkan, melainkan tradisi baik yang layak dilestarikan.
Dalil Al-Qur’an dan Pandangan Ulama
Perayaan Maulid Nabi juga sejalan dengan firman Allah dalam QS Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58).
Menurut tafsir Ibnu Abbas RA, yang dimaksud karunia Allah adalah ilmu, sementara rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad SAW. Hal ini dipertegas dalam QS Al-Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Imam as-Suyuthi juga meriwayatkan bahwa memperingati kelahiran Nabi adalah bentuk ekspresi kegembiraan yang bernilai pahala.
Cara Memperingati Maulid Nabi
Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam al-Hawi lil Fatawi menyebut setidaknya ada empat cara utama memperingati Maulid Nabi, yaitu:
• Membaca Al-Qur’an.
• Memberi makan orang lain.
• Bersedekah.
• Membacakan pujian kepada Nabi, seperti melalui Maulid al-Barzanji, Maulid Diba’, atau Simtuth Durar.
Amalan-amalan tersebut diyakini dapat memperkuat cinta kepada Rasulullah sekaligus mendorong umat agar lebih giat beramal saleh.
Keutamaan Peringatan Maulid Nabi
Menurut Imam as-Suyuthi, Maulid Nabi termasuk dalam kategori “bid’ah hasanah” atau inovasi baik yang berpahala.
هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا
Artinya: “Perayaan Maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat pengagungan kepada Nabi SAW serta ungkapan rasa gembira atas kelahirannya.”
Peringatan ini juga sarat manfaat, mulai dari meneladani akhlak Nabi, mempererat ukhuwah, hingga menumbuhkan semangat ibadah.
Sayyid Muhammad ibn Alawi Al Maliki menegaskan, kemuliaan bulan Rabiul Awal bukan karena waktunya semata, melainkan karena di dalamnya lahir manusia termulia, Nabi Muhammad SAW.
Batasan dalam Merayakan Maulid
Meski demikian, para ulama juga mengingatkan agar peringatan Maulid tidak dilakukan secara berlebihan.
Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menegaskan, segala bentuk kemaksiatan, perbuatan haram, maupun amalan yang bertentangan dengan syariat harus dihindari.
وما كان حراما أو مكروها فيمنع وكذا ما كان خلاف الأولى
Artinya: “Perbuatan yang haram atau makruh, hendaknya dicegah. Demikian pula perbuatan yang bertentangan dengan keutamaan.” (al-Hawi lil Fatawi, juz I, hlm. 282).
Dengan datangnya Rabiul Awal 1447 H yang dimulai pada 25 Agustus 2025, umat Islam diingatkan kembali akan besarnya nikmat Allah melalui kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Memperingati Maulid Nabi menjadi salah satu wujud cinta, syukur, dan penghormatan kepada Rasulullah yang membawa cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia. Semoga informasi ini bermanfaat.
