JATIMTIMES – Halaman Taman Nusantara Praja di rumah dinas Wali Kota Blitar pada Kamis malam, 21 Agustus 2025, berubah menjadi ruang diskusi yang santai. Kursi berwarna merah marun tersusun rapi di bawah cahaya lampu taman, sementara gemericik air kolam menambah suasana akrab. Di panggung kecil, Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin, yang akrab disapa Mas Ibin, menyapa para tamu. Mereka bukan pejabat tinggi atau tokoh politik, melainkan para kreator konten, influencer, dan pegiat media sosial.
Acara bertajuk “Rembug Blitar: Kreator untuk Masa Depan Kota” itu bukan sekadar silaturahmi. Pemerintah Kota Blitar sedang merancang arah baru dalam membangun citra kota: lewat jembatan digital dan peran aktif generasi muda. “Hari ini kita ngopi dan ngobrol bersama insan media sosial dan influencer. Pemerintah kota punya kepentingan membangun brand image bahwa Blitar adalah kota majemuk, multikultural, dan ramah untuk semua,” kata Mas Ibin dalam sambutannya.
Baca Juga : Pemkab Banyuwangi Hati-Hati dan Perlu Kajian Komprehensif Mengelola Kapal Penyeberangan
City Branding di Era Digital
Menurut sang wali kota, Blitar tidak bisa hanya mengandalkan narasi formal untuk memperkenalkan dirinya. Di era ketika masyarakat lebih gemar melakukan “scroll cepat” ketimbang membaca panjang lebar, strategi komunikasi harus berubah. “Zaman sekarang banyak hal cepat viral. Daya baca masyarakat juga singkat. Karena itu, kita fokus menggandeng pemuda pegiat media sosial agar informasi tentang pembangunan kota bisa lebih cepat tersampaikan,” ujarnya.
Bagi Mas Ibin, city branding bukan sekadar jargon. Pemerintah, kata dia, menargetkan Blitar sebagai kota perdagangan, pariwisata, dan jasa. Seluruh ekosistem kota diarahkan agar mendukung kebersamaan sekaligus menggerakkan perekonomian. “Kami ingin Blitar benar-benar menjadi kota yang layak dikunjungi dan nyaman bagi siapa saja,” imbuhnya.
Keterlibatan kreator digital diharapkan bisa menjadi akselerator. Mereka bukan hanya penyampai informasi, melainkan juga pencipta atmosfer positif yang bisa memperkuat citra kota. Mas Ibin mengajak audiensnya untuk menyebarkan kabar baik tentang Blitar. “Kami butuh pegiat media sosial untuk pembangunan jangka panjang. Blitar berniat menjadi kota kreatif, kotanya anak muda, kota yang sangat nyaman untuk semua orang,” tegasnya.
Diskusi Santai, Gagasan Serius
Acara bertajuk “Rembug Blitar: Kreator untuk Masa Depan Kota” digelar oleh Dinas Kominfo dan Statistik Kota Blitar. Kepala Dinas Kominfo dan Statistik, Mujianto, yang turut hadir malam itu menekankan pentingnya ruang dialog semacam ini. Menurutnya, format santai justru menjadi pemantik lahirnya ide-ide segar.
“Acara ini kita buat tidak kaku. Ke depan, kami ingin tetap melanjutkannya, mungkin terjadwal atau menyesuaikan kondisi. Harapannya selalu ada acara berbeda dengan proses berbeda, dan tentu di tempat berbeda,” ujarnya.

Mujianto menambahkan, pihaknya tengah menyiapkan reward bagi kreator yang berkontribusi dalam membangun narasi positif tentang kota. Ia juga mengingatkan soal etika konten. “Rambu-rambu mereka pasti tahu, hanya saja jangan sampai menyentuh isu SARA. Itu yang bisa menjatuhkan kita. Sebanyak apa pun pengikut, kalau sampai melanggar, bisa berakibat fatal,” pesannya.
Sore itu, hadirin tampak antusias. Beberapa kreator muda mencatat poin penting, sebagian lain merekam jalannya acara untuk kemudian diunggah di akun media sosial mereka.
Menuju Pesta Budaya: BEN Carnival
Rembug kreator ini juga menjadi pemanasan untuk salah satu agenda terbesar Kota Blitar tahun ini: Blitar Ethnic National (BEN) Carnival 2025, yang akan digelar Sabtu, 23 Agustus. Dalam kesempatan tersebut, Mas Ibin menegaskan peran penting influencer dalam menyukseskan acara budaya akbar itu. “Besok, kami mengundang teman-teman kreator untuk ikut ngonten di persiapan BEN Carnival. Harapan kami, semakin banyak orang tahu dan datang, karena nanti juga hadir tokoh nasional, artis, dan pejabat,” jelasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar, Edy Wasono, memaparkan detail hajatan tersebut. BEN Carnival tahun ini akan menampilkan seni budaya dari 38 provinsi di Indonesia. “Setiap peserta diberi waktu tampil 15 menit. Kalau 40 peserta, berarti 600 menit, atau sekitar 10 jam. Mulai dari pukul setengah delapan pagi sampai malam,” terang Edy.
Tak hanya parade budaya, beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga menyiapkan suguhan spektakuler, termasuk menghadirkan bintang tamu lokal maupun dari luar kota. “Kami berharap konten kreator bisa membantu mempromosikan dan membranding acara ini,” tambahnya.

Ruang Ekspresi dan Partisipasi Publik
Baca Juga : Didukung Menteri LH, Bupati Malang Segera Realisasi Bahan Bakar dari Sampah Tahun Ini
BEN Carnival tidak hanya pesta tontonan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Dinas Kominfo dan Statistik menyiapkan lomba fotografi bagi masyarakat. Foto-foto terbaik tentang karnaval dapat diunggah ke Instagram peserta dengan tagar resmi, paling lambat Minggu (24/8/2025) pukul 23.50. “Akan ada dua juara: terbaik pertama dan juara favorit. Keduanya akan mendapat hadiah dan sertifikat,” jelas Edy.
Bagi warga yang hobi fotografi, lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan juga peluang untuk mengabadikan keragaman budaya nusantara yang tampil di Blitar. Dari alun-alun kota hingga depan kantor DPRD, jalanan akan dipenuhi tarian, musik, dan busana tradisional dari Sabang sampai Merauke.
Blitar, Kota Masa Depan

Melihat rangkaian program itu, jelas bahwa pemerintah kota sedang menggarap dua hal sekaligus: penguatan identitas budaya dan modernisasi komunikasi publik. Strategi ini berpijak pada kesadaran bahwa sebuah kota tidak bisa hanya hidup dari beton dan aspal, melainkan juga dari narasi yang hidup dan dibicarakan orang.
Dengan menggandeng kreator digital, Pemkot Blitar tidak hanya merangkul generasi muda, tetapi juga menempatkan mereka sebagai mitra strategis dalam pembangunan kota. Mereka adalah agen city branding yang mampu menjangkau jutaan audiens dalam hitungan detik.
Mas Ibin menutup forum dengan optimisme. Ia menyebut, kerja sama ini bukan sekadar proyek jangka pendek, tetapi visi panjang menuju Blitar sebagai “kota kreatif, kota ramah, kota perdagangan, pariwisata, dan jasa.” “Kami ingin Blitar benar-benar menjadi kota masa depan,” katanya.
