JATIMTIMES - Harga apel di Kota Batu melambung tinggi. Tingginya harga ikon Kota Batu disebabkan hama lalat buah yang menyerang buah apel, sehingga hasil panen tak bisa maksimal.
Saat JatimTIMES berada di Pasar Induk Among Tani, tidak banyak yang menjual apel. Ada pun harganya mencapai Rp 35 ribu per kilogramnya. Dengan harga tersebut, kualitas apel pun tidak tampak bagus.
Baca Juga : Dorong Kemandirian Pangan Warga, Dosen Unisma Beri Tips Pemupukan Cabai agar Panen Optimal
Pedagang buah Pasar Induk Among Tani, Yuningsih mengaku harga apel sedang tinggi. Karena tidak banyak hasil panen dari petani. Buahnya pun tidak begitu bagus.
“Harganya mahal sekarang, karena panennya sedikit. Lalu kualitas barangnya tidak begitu bagus,” ungkap Yuningsih, Selasa (12/8/2025).
Saat harganya tinggi, tidak banyak konsumen melirik buah apel. Alhasil tidak setiap hari ia menjual buah apel.
Sementara itu, petani apel di Desa Tulungrejo, Utomo mengaku harga apel di tingkat petani mulai Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram. Harga ini termasuk tinggi, sebab harga termurah apel bisa Rp 4 ribu per kilogram.
“Harga murahnya sampai Rp 4 ribu, harga Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu termasuk mahal. Karena saat ini hasil panen tidak bisa banyak,” ujar Utomo.
Utomo mengaku hasil apel tidak bisa maksimal lantaran hama lalat buah menyerbu apel yang berada di pohon. Alhasil penampilan apel tidak maksimal, terlihat lingkaran hitam yang membusuk pada buah. Busuk buah paling banyak menyerang apel jenis manalagi.
Baca Juga : Bakal Diganti Baru, DLH Segera Lelang Aset Bianglala Lama Alun-Alun Kota Batu
“Segala upaya sudah kami lakukan demi apel tidak mudah terserang hama. Mulai dari membungkus satu per satu apel yang masih di pohon, setidaknya bisa menolong,” imbuh Utomo.
Dari lahannya 400 meter persegi, hasil panen jika bagus bisa mencapai 1 ton. Sayangnya saat ini ia hanya mampu memanen 7,5 kuintal. “Ya karena hama lalat buah jadi yang bagus 7,5 kuintal,” terang bapak dua anak ini.
Ada empat jenis apel yang dikembangkan Utomo, yakni 4 room beauty, manalagi, anna, dan graanly smith. Untuk menutupi biaya operasional agar tidak terus merugi, Utomo menjalankan wisata petik apel di lahannya. Dengan cara ini, Utomo mampu mempertahankan apel Kota Batu.
“Kalau tidak ada wisata petik dan hanya mengandalkan dijual, sudah gulung tikar. Tapi saat ini harga apel juga naik di kebun petik jadi Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu,” tutup Utomo.
