Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

13 Oktober 1676: Momen Kemenangan Raden Trunajaya dan Karaeng Galesong di Gegodog

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

11 - Aug - 2025, 08:36

Placeholder
Potret realis Raden Trunajaya dan Karaeng Galesong, dua tokoh pejuang abad ke-17. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada tanggal 13 Oktober 1676, sebuah pertempuran besar terjadi di Gegodog, yang menjadi titik balik dalam perjalanan panjang perlawanan terhadap hegemoni Kerajaan Mataram di Jawa. Pertempuran ini, yang tercatat dalam berbagai sumber primernya, termasuk Babad B.P. dan Serat Kandha, menggambarkan dinamika yang rumit antara pasukan Mataram dan pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Raden Trunajaya serta Karaeng Galesong

Kemenangan pasukan pemberontak dalam pertempuran ini bukan hanya menjadi simbol perlawanan terhadap tirani, tetapi juga mencatatkan nama-nama besar yang kelak akan mengukir sejarah di tanah Jawa.

Latar Belakang Perang dan Kedatangan Pasukan Mataram di Jepara

Amangkurat

Pertempuran Gegodog terjadi di tengah-tengah konflik yang berkepanjangan antara Mataram dan kekuatan-kekuatan lokal di pesisir utara Jawa. Mataram, di bawah pimpinan Sunan Amangkurat I, berusaha memadamkan pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Trunajaya, seorang tokoh dari Surabaya yang memiliki pengaruh kuat di wilayah pesisir. Raden Trunajaya, bersama dengan sekutunya Karaeng Galesong, seorang bangsawan dari Makassar, berhasil mengumpulkan kekuatan besar yang terdiri dari pasukan Madura, Makassar, dan Mancanagara. Mereka memulai serangan mereka dengan tujuan untuk menumbangkan kekuatan Mataram di Jawa.

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Lagu Hari Merdeka 17 Agustus: Sejarah, Pencipta, Makna, dan Lirik Lengkap

Sebelum pertempuran di Gegodog, pasukan Mataram sudah bergerak menuju Jepara pada awal bulan Oktober 1676. Berdasarkan catatan Babad B.P., pasukan ini terdiri dari beberapa pangeran besar Mataram, termasuk Pangeran Adipati Anom, Pangeran Singasari, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Blitar. Mereka beristirahat selama tiga hari di Jepara untuk merencanakan strategi dan mengkonsolidasikan pasukan. 

Dalam kesempatan ini, Pangeran Purbaya mengungkapkan kekhawatirannya terkait dengan ketidakpatuhan Raden Trunajaya, yang seharusnya menjadi sekutu mereka namun mulai menunjukkan kecenderungan untuk melawan Mataram.

Pada pagi hari 13 Oktober 1676, pertempuran dimulai dengan serangan mendalam dari pasukan pemberontak yang dipimpin langsung oleh Raden Trunajaya dan Karaeng Galesong. Pasukan pemberontak dibagi dalam tiga barisan: di depan, pasukan Madura yang dipimpin oleh Mangkuyuda dan Dandangwacana, di tengah pasukan Makassar di bawah komando Karaeng Galesong dan Daeng Marewa, serta pasukan Mancanagara yang berada di bagian belakang. Mereka maju dengan penuh keberanian meski menghadapi pasukan Mataram yang lebih besar dan lebih terlatih.

Mula-mula, pasukan pemberontak menggunakan senjata api untuk menghujani pasukan Mataram dengan tembakan bertubi-tubi, menciptakan kepulan asap yang tebal di medan pertempuran. Pasukan Mataram yang semula percaya diri, mulai terombang-ambing, terutama setelah banyak pemimpin mereka tewas atau terluka. 

Kiai Ngabei Wirajaya, Panji Wirabumi, dan Kiai Rangga Sidayu, termasuk di antara mereka yang jatuh di medan laga, mengguncang semangat pasukan Mataram. Kekalahan awal ini menyebabkan kerusakan besar dalam barisan Mataram, dan pasukan pemberontak mulai menunjukkan dominasi.

Salah satu momen dramatis dalam pertempuran ini adalah kematian Pangeran Purbaya. Setelah kudanya tewas, Pangeran Purbaya tetap bertahan dengan senjata keris bernama Panji. Meskipun mengalami kekebalan tubuh yang luar biasa, ia akhirnya dapat ditaklukkan oleh pasukan pemberontak yang memukuli tubuhnya hingga remuk. 

Sebelum ajal menjemputnya, Pangeran Purbaya mengucapkan kata-kata yang menggambarkan keputusasaannya terhadap keadaan Mataram yang mulai runtuh. Ia menyatakan bahwa ia telah berbakti kepada tiga orang raja secara turun-temurun, namun tidak pernah melihat kondisi kerajaan seburuk ini.

Pangeran Blitar, yang masih bertahan, kemudian datang untuk menolongnya dan membawa jenazah Purbaya. Setelah pertempuran tersebut, pasukan Mataram mulai mundur, dan banyak di antara mereka yang melarikan diri ke Jepara.Sebagai catatan sejarah, peristiwa ini menjadi salah satu titik kelam dalam perjalanan Mataram, yang tidak hanya kehilangan pertempuran tetapi juga kehilangan banyak pahlawan mereka.

Dampak Kemenangan Pemberontak dan Kejatuhan Pasukan Mataram

Kemenangan pasukan pemberontak di Gegodog tidak hanya menciptakan ketakutan di kalangan pasukan Mataram, tetapi juga menunjukkan kekuatan baru yang muncul di pesisir utara Jawa. Raden Trunajaya dan Karaeng Galesong, setelah kemenangan ini, semakin diperhitungkan oleh pihak-pihak lain di Jawa, termasuk pihak Belanda yang melihat pertempuran ini sebagai potensi ancaman terhadap stabilitas regional.

Namun, meskipun pasukan pemberontak berhasil mengalahkan Mataram di Gegodog, kemenangan tersebut tidak serta merta memastikan kemenangan mereka dalam jangka panjang. Pertempuran ini menunjukkan bahwa meskipun pasukan pemberontak memiliki keberanian dan strategi yang baik, mereka tetap menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan koalisi mereka, yang terdiri dari berbagai kelompok dengan kepentingan yang berbeda. 

Ketegangan internal dalam pasukan pemberontak, terutama terkait dengan hubungan antara Raden Trunajaya dan Karaeng Galesong, segera menjadi masalah yang harus dihadapi setelah pertempuran tersebut.

Galesong

Pihak Belanda, meskipun terlibat dalam pertempuran dengan memberikan dukungan logistik kepada Mataram, mulai merasa khawatir dengan berkembangnya kekuatan pemberontak ini. Dalam laporan-laporan yang dikirim oleh para residen Belanda, mereka menyatakan bahwa meskipun mereka mendukung Mataram, mereka tidak bisa sepenuhnya mengandalkan kerajaan ini untuk mengendalikan situasi di pesisir utara Jawa. Oleh karena itu, mereka mulai mencari cara untuk berhubungan dengan pihak pemberontak, yang pada saat itu semakin kuat.

Catatan Akhir Perang Gegodog

Pertempuran Gegodog bukan hanya peristiwa militer semata tetapi juga simbol perlawanan rakyat terhadap dominasi kekuasaan Mataram yang otoriter. Dalam historiografi Jawa, kisah ini dipenuhi dengan unsur sastra dan politik yang menggambarkan dinamika koalisi serta kekuasaan lokal yang kompleks. Meskipun pasukan pemberontak berhasil memenangkan pertempuran ini, mereka menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan aliansi yang beragam kepentingan.

Kemenangan di Gegodog menjadi tanda bahwa kekuatan lokal mampu menandingi kekuatan besar melalui keberanian strategi dan solidaritas antar kelompok. Namun setiap kemenangan besar juga membawa ketidakpastian dan ketegangan yang harus dihadapi para penguasa baru. Pertempuran ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya tentang kemenangan dan kekalahan tetapi juga tentang perjuangan panjang membangun dan mempertahankan kekuasaan di tengah perubahan zaman.

Trunajaya galesong

Trunajaya dan Perintah Rahasia Raden Mas Rahmat

Untuk memahami dinamika politik yang melatarbelakangi kemenangan tersebut, penting untuk melihat peran strategis Raden Trunajaya dan hubungannya dengan elite Mataram. Di antara tahun 1670 hingga 1672, Trunajaya kembali ke Madura dengan misi politik yang didukung langsung oleh Raden Mas Rahmat, putra mahkota Mataram. Trunajaya, bangsawan muda keturunan Cakraningrat I, sebelumnya terlibat dalam hubungan dekat dengan lingkungan keraton Mataram berkat peran Raden Kajoran yang menjadikannya menantu dan memperkenalkannya kepada Rahmat.

Baca Juga : 6 Zodiak Paling Beruntung 11 Agustus 2025, Cuan Deras dan Peluang Bisnis Terbuka Lebar

Dalam Serat Kandha, Kajoran meminta Rahmat membekali Trunajaya dengan dana, senjata, dan mandat untuk membujuk rakyat pesisir agar tidak lagi tunduk kepada Cakraningrat. Bahkan dijanjikan posisi tumenggung. Ini bukan sekadar patronase, tapi bagian dari konspirasi elite keraton untuk melemahkan Sunan Amangkurat I.

Trunajaya dipercaya membangun basis di Madura, khususnya di Pamekasan. Di sana, ia menghimpun kekuatan dan membentuk jaringan patronase lokal, termasuk tokoh-tokoh seperti Wiranegara dan Wiradipa. Laporan Belanda mencatat bahwa Trunajaya juga mulai mengendalikan wilayah Sampang, terbukti dari kasus pembunuhan Cornelis Francen di Teluk Sampang (1671), yang melibatkan dirinya langsung.

Laporan rahasia VOC dan arsip Kolonial (Jonge, Speelman, Wangsantaka) mengindikasikan bahwa kekuatan Trunajaya meluas dari Madura hingga pesisir Jawa Timur. Tuduhan perompakan laut terhadap kelompoknya pada 1672 menunjukkan bahwa pemerintah pusat Mataram mulai menyadari ancaman laten dari gerakan ini.

Trunajaya bukan pemberontak liar, tetapi instrumen dari persekutuan Kajoran–Rahmat. Ia diberi mandat untuk melemahkan Cakraningrat dan membangun poros kekuasaan baru. Ini adalah langkah awal dari disintegrasi otoritas Mataram, yang berpuncak pada pemberontakan besar 1674.

Pada 10 Februari 1675, seorang utusan VOC bernama Piero mencatat pernyataan mengejutkan dari Raden Trunajaya, bangsawan Madura yang saat itu telah menyandang gelar Panembahan. Di hadapan utusan Belanda itu, Trunajaya mengaku pernah menjalin sebuah perjanjian rahasia dengan Pangeran Adipati Anom, putra sulung Amangkurat I. 

Perjanjian tersebut, yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1670 atau 1671, ditafsirkan sebagai fondasi awal terbentuknya sebuah koalisi politik yang menentang kekuasaan raja Mataram. Namun, janji itu kandas di tengah jalan. Sang putra mahkota diduga memilih menarik diri dan berdamai kembali dengan ayahandanya, terlebih setelah serangan pertama pasukan eksil Makassar terhadap Gresik dan Surabaya mengalami kegagalan pada awal 1675 (Daghregister, 20 April 1675).

Trunajaya galesong

Dalam situasi ini, Trunajaya bergerak cepat seolah telah memperhitungkan arah angin politik. Ia menikahkan keponakannya, seorang bangsawati Madura, dengan Karaeng Galesong, pemimpin pasukan Makassar yang kala itu mengembara di pesisir Jawa. Pernikahan ini bukan sekadar aliansi kekeluargaan melainkan kontrak militer politik yang sarat strategi. 

Sebagai imbalan atas pengantin dari darah biru itu, Galesong diwajibkan merebut Gresik dan Surabaya untuk kepentingan Trunajaya. Ikatan ini terbukti kokoh. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak pada Januari 1677 yang menandakan bahwa persekutuan ini telah dijalin sejak akhir 1675. 

Dengan demikian jelas bahwa rencana perlawanan terhadap Mataram telah disusun jauh sebelum meletusnya pemberontakan besar pada 1676. Ini bukan konspirasi yang lahir dari amarah sesaat melainkan plot matang yang dipupuk lewat kesepakatan politik, darah, dan senjata.


Topik

Serba Serbi raden trunajaya karaeng galesong mataram gegodog sejarah jawa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana