JATIMTIMES - Dalam beberapa hari terakhir, segmen sejarah kita membahas Raden Mas Sudomo atau Pangeran Arya Blitar, raja Mataram Kartasekar pada masa Pakubuwana I hingga Amangkurat IV, yang wafat pada 1721 di Lumajang. Ia adalah putra Pakubuwana I dan Ratu Mas Blitar, bangsawan berdarah biru dari Madiun.
Namun jauh sebelum masa itu, lebih dari dua abad sebelumnya, tanah Blitar pernah dipimpin oleh tokoh lain yang juga bergelar Arya Blitar. Dialah Adipati Arya Blitar, penguasa Kadipaten Blitar atau Balitar pada masa peralihan Majapahit ke Demak, setelah Raden Patah naik takhta sebagai Sultan pertama Demak.
Pada penghujung riwayat Majapahit yang penuh gejolak, Adipati Arya Blitar bersama Ki Ageng Sengguruh tampil sebagai simbol transisi kekuasaan dari tatanan Hindu Buddha menuju Islam di Jawa. Keduanya merupakan cucu Arya Damar atau Ario Abdillah, Adipati Palembang sekaligus putra Prabu Brawijaya V yang menjadi penguasa terakhir Majapahit.
Tulisan ini hendak meluruskan bahwa Adipati Arya Blitar pada masa awal Kesultanan Demak adalah keturunan langsung Majapahit, bukan Raden Mas Sudomo yang hidup di era Kartasura. Pemisahan identitas ini penting agar sejarah tidak tercampur, sehingga garis keturunan, peran, dan zamannya tetap jelas terbaca dalam perjalanan panjang sejarah Jawa.
Latar Sosio-Politik Majapahit Menjelang Runtuh

Runtuhnya Majapahit tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akibat akumulatif dari konflik suksesi, desentralisasi kekuasaan, dan pergeseran ideologi. Menurut Hasan Djafar, Majapahit mulai terpecah setelah serangan Dyah Ranawijaya ke ibu kota, menyebabkan pusat kekuasaan berpindah ke Daha.
Pada masa Sri Prabu Kertawijaya (1447–1451), Majapahit masih menguasai lebih dari 20 wilayah vasal, tetapi pada abad ke-16 muncul banyak kadipaten baru yang memproklamirkan diri sebagai pewaris legitimasi Majapahit, termasuk Demak, Giri, Sengguruh, dan Balitar.
Sore itu, langit barat Majapahit mulai redup. Panji-panji kerajaan yang pernah berkibar gagah di alun-alun Trowulan perlahan lusuh diterpa angin kemarau. Dentang gamelan istana tak lagi memanggil prajurit, hanya suara seruling gembala di kejauhan yang memecah senyap.
Di balik tembok istana yang retak, para bangsawan dan panglima mulai memandang ke arah baru. Sebagian memilih setia pada bayang-bayang kejayaan lama, sebagian lain bersiap menyambut matahari yang terbit dari arah pesisir utara.
Pada masa peralihan itulah muncul seorang tokoh yang kelak memimpin Blitar di bawah panji Kesultanan Demak. Namanya Adipati Arya Blitar, cucu Arya Damar atau Ario Abdillah, Adipati Palembang yang juga putra Prabu Brawijaya V, penguasa terakhir Majapahit. Bersama Ki Ageng Sengguruh, ia menjadi simbol pergantian zaman, dari tatanan Hindu Buddha menuju Islam, dari istana Majapahit yang meredup ke kesultanan baru yang mulai bersinar.
Arya Damar dan Dakwah Islam di Palembang
Arya Damar, atau Ario Abdillah, memainkan peran penting dalam proses Islamisasi Palembang dan wilayah selatan Sumatra. Ia adalah putra Sri Kertawijaya, atau Brawijaya V, dari seorang wanita denawa penganut ajaran Bhairawa Tantra yang kemudian diusir dari keraton Majapahit karena keyakinannya dianggap menyimpang.
Sejak kecil, Ki Dilah, nama kecil Arya Damar, tidak dibesarkan di lingkungan istana, melainkan tumbuh di luar tembok kekuasaan Majapahit. Ia dididik oleh pamannya, Ki Kumbarawa, seorang tokoh spiritual yang menguasai ajaran Bhairawa dan ilmu kanuragan tingkat tinggi. Pola pendidikan keras bercorak tantrik ini membentuk karakter Arya Damar sebagai prajurit sakti sekaligus negarawan tangguh.
Setelah menumpas pemberontakan di Pasunggiri dan Bhre Daha, Arya Damar dikirim ke Palembang, wilayah yang dilanda kekacauan akibat pemberontakan Parameswara dan serangan bajak laut Cina. Ia kemudian memeluk Islam setelah bertemu Sunan Ampel dan mengganti namanya menjadi Ario Abdillah.
Dari pernikahannya dengan Nyai Sahilan, putri Syarif Husin Hidayatullah yang dikenal pula dengan nama Rio Minak Usang Sekampung, seorang tokoh Arab keturunan Rasulullah, Arya Damar memperoleh seorang putra bernama Raden Sahun. Kelak, Raden Sahun diangkat sebagai Adipati Semarang dengan gelar Pangeran Pandanarang.
Dari keturunan inilah lahir seorang tokoh sufi besar bernama Sunan Tembayat, yang kemudian menjadi bagian penting dalam jaringan Walisanga gelombang kedua serta pelopor Islamisasi pedalaman Jawa bagian tengah.
Di dalam Babad Ratu Tabanan ditegaskan bahwa tokoh Bhatara Arya Damar, putra Sri Maharaja Brawijaya Raja Majapahit yang menjadi penguasa Palembang, adalah leluhur Raja-Raja Tabanan melalui keturunannya yang bernama Arya Yasan.
Sebagai penanda bahwa keturunan Raja-Raja Tabanan berasal dari garis Arya Damar, pada prasasti di kompleks makam Tumenggung Pusponegoro, ditemukan gelar-gelar yang digunakan oleh para tokoh bangsawan seperti Kyai Nengah, Kyai Nyoman, Kyai Ketut, Kyai Lod, Kyai Dangin, Kyai Arya, Kyai Agung, dan Kyai Gede. Gelar-gelar tersebut serupa dengan gelar yang digunakan oleh keturunan Arya Damar di wilayah Palembang, Jawa, dan Madura.
Dalam Silsilah Raja-Raja Madura, Arya Damar juga ditempatkan sebagai leluhur yang menurunkan tokoh Arya Menak Sunaya, kakek dari tokoh-tokoh penting seperti Kyai Demang Pelakaran, Kyai Adipati Pramono, Kyai Pratali, Kyai Pratolo, Kyai Panangkan, dan Kyai Pragalbo. Para tokoh ini merupakan leluhur dari para Raja Madura, termasuk Cakraningrat dan Ario Adikoro.
Sementara itu, dalam naskah Tedhak Poespanegara, Arya Damar disebut sebagai leluhur para bupati di Jawa melalui putranya, Raden Kusen Adipati Terung. Sebagaimana keturunan Arya Damar di Bali dan Madura, keturunan Raden Kusen pun memakai gelar kyai, sebagaimana terlihat pada para bupati Gresik, Lamongan, Pasuruan, dan Bangil.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain Kyai Tumenggung Pusponegoro, Kyai Tumenggung Joyonegoro, Kyai Tumenggung Puspodirono, Kyai Tumenggung Puspodirjo, Kyai Tumenggung Mangunadirjo, dan Kyai Ngabehi Yudhonegora.

Silsilah Politik: Dari Arya Damar ke Raden Kusen
Dari jalur Arya Damar lahir Raden Kusen, Adipati Terung, tokoh yang secara historis menempati posisi ambigu dalam sejarah Demak-Majapahit. Ia adalah adik seibu dari Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak.
Dalam perang antara Demak dan Majapahit, Raden Kusen berada di pihak Majapahit dan bahkan membunuh Sunan Ngudung dalam pertempuran. Namun, setelah kekalahan Majapahit, ia menyerah kepada Raden Patah dan tetap diberi Kadipaten Terung.
Dari pernikahannya dengan Nyai Wilis, cucu Sunan Ampel, Raden Kusen memiliki dua putra: Arya Blitar dan Adipati Sengguruh. Dengan demikian, kedua tokoh ini merupakan cucu Arya Damar dari pihak ayah dan cicit Sunan Ampel dari pihak ibu. Mereka adalah simbol persilangan dua garis kekuasaan besar: Majapahit dan Islam.
Karena Raden Kusen adalah saudara seayah Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak, maka Arya Blitar dan Ki Ageng Sengguruh juga merupakan keponakan langsung dari pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Mereka mencerminkan persilangan strategis antara dua garis kekuasaan besar yaitu warisan Majapahit dan misi Islamisasi Walisanga.
Pemerintahan Arya Blitar dan Ki Ageng Sengguruh
Kadipaten Balitar yang dikuasai oleh Arya Blitar terletak di wilayah yang kini mencakup daerah Blitar dan Tulungagung. Adapun Kadipaten Sengguruh berada di wilayah selatan Malang, yang pada masa itu menjadi salah satu pusat kekuasaan lokal penting di wilayah pesisir selatan Jawa Timur.
Arya Blitar dikenal sebagai seorang adipati yang telah memeluk Islam dan mendukung perluasan pengaruh Kesultanan Demak di wilayah Jawa Timur. Sementara itu, Ki Ageng Sengguruh digambarkan sebagai penguasa Kadipaten Sengguruh yang berada di bawah kekuasaan Demak, sekaligus sebagai penyebar agama Islam di wilayah Malang, Panjer, dan sekitarnya.
Namun, dalam upaya dakwah dan konsolidasi kekuasaan Islam di wilayah selatan Jawa Timur, Arya Blitar dan Ki Ageng Sengguruh menghadapi perlawanan keras dari Adipati Srengat, Nila Suwarna. Sebagai penguasa yang masih menganut agama Hindu dan setia pada tatanan lama peninggalan Majapahit, Nila Suwarna menolak tunduk pada pengaruh Kesultanan Demak.
Baca Juga : Transisi ke SD, Psikolog MIN 1 Kota Malang Ungkap 5 Aspek Kunci Kesiapan Anak
Ketegangan antara kekuatan lama dan kekuatan baru ini akhirnya memuncak dalam benturan terbuka yang bernuansa politis sekaligus religius.

Pembantaian di Sungai Brantas: Kematian Dua Pewaris Majapahit
Kisah tragis terjadi saat Arya Blitar dan Ki Ageng Sengguruh pulang dari ziarah ke makam Sunan Giri. Dalam perjalanan pulang melalui Sungai Brantas, rombongan mereka yang hanya dijaga oleh 30 pengawal disergap oleh pasukan gabungan dari Srengat dan Panjer yang berjumlah 1000 orang.
Pertempuran tidak seimbang itu berakhir dengan kematian Arya Blitar dan Ki Ageng Sengguruh. Mereka wafat dalam pertempuran yang digambarkan sebagai adilaga, sebuah kematian ksatria di medan perang.
Menurut "Babad Pusponegoro," tubuh Arya Balitar dimakamkan di utara Kali Brantas, di wilayah yang kini menjadi Kota Blitar. Sementara jasad Ki Ageng Sengguruh disemayamkan di selatan sungai, di wilayah Rejotangan, Tulungagung. Kisah ini memperlihatkan bahwa Islamisasi Jawa bukanlah proses damai sepenuhnya, melainkan juga medan perjuangan, darah, dan pengorbanan.
Setelah kematian kedua adipati, Kadipaten Sengguruh diserang oleh Raden Pramana, anak Patih Mahodara, dengan bantuan pasukan dari Dengkol dan Menak Supethak dari Garuda.
Dalam waktu singkat, Sengguruh hancur total. Lima anak Ki Ageng Sengguruh berhasil melarikan diri: Pangeran Arya Jeding, Arya Kandung, Pangeran Macanbang, Arya Banding (kelak Ki Ageng Terung), dan Nyimas Ayu Kembang Sri, yang dinikahkan ke Bupati Ponorogo. Mereka menjadi penyintas dari sebuah tragedi politik dan spiritual.
Sunan Kudus, yang ayahnya (Sunan Ngudung) gugur di tangan Raden Kusen, justru memperkuat rekonsiliasi melalui pernikahan. Ia menikahi Dyah Ayu, putri Raden Kusen dan saudari kandung Arya Blitar serta Ki Ageng Sengguruh.
Dari pernikahan ini lahir tokoh-tokoh penting seperti Panembahan Palembang dan Nyi Ageng Pembayun. Hal ini menandakan bahwa kekuatan baru Islam tidak hanya menghancurkan struktur lama, tapi juga mengintegrasikannya melalui jaringan kekerabatan.
Makna Sejarah dan Warisan Politik
Kisah Arya Blitar dan Ki Ageng Sengguruh mencerminkan dinamika transisi yang kompleks dari Majapahit menuju Demak. Mereka bukan sekadar penguasa lokal, melainkan simpul dari jejaring ideologis, genealogis, dan spiritual yang membentuk ulang lanskap politik Jawa. Proses Islamisasi tidak datang sebagai kekuatan luar melainkan tumbuh dari dalam tubuh aristokrasi Majapahit itu sendiri.
Jejak historis kedua tokoh ini masih dapat ditelusuri melalui situs makam mereka. Makam Adipati Arya Blitar terletak di Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Wilayah ini dahulu merupakan pusat kekuasaan Kadipaten Balitar yang menjadi basis kekuatan strategis di bawah pengaruh Demak.
Sementara itu, makam Ki Ageng Sengguruh berada di Desa Pundensari, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Kawasan ini dulunya merupakan bagian dari Kadipaten Sengguruh yang menguasai wilayah selatan lereng Gunung Kawi dan menjadi pelindung spiritual serta politik Islam awal di Jawa Timur bagian selatan.
Kedua situs tersebut bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir para bangsawan besar. Keduanya merupakan saksi diam dari perjalanan panjang peralihan kekuasaan antara Majapahit dan Demak yang dipenuhi intrik, persekutuan, dan transformasi nilai.
Keberadaan mereka patut dilestarikan sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat. Di sanalah identitas lama dan baru bertemu. Islam bukan datang untuk menggantikan Majapahit, melainkan untuk merangkul dan melanjutkannya dalam format baru yang lebih sesuai dengan semangat zaman.
Dengan mengenang dan merawat situs-situs ini, masyarakat diajak menyadari bahwa sejarah tidak pernah bergerak dalam garis lurus. Ia berliku melalui darah, strategi, keyakinan, dan pergolakan batin.
Sebagaimana aliran Sungai Brantas yang menghubungkan Blitar dan Tulungagung, arus sejarah mengalir melewati generasi dan peradaban. Ia meninggalkan warisan yang terus hidup dalam ingatan dan keberanian untuk menafsirkan kembali masa silam sebagai pijakan masa depan.

Catatan Penutup
Sejarah Blitar selama ini kerap diwarnai kerancuan antara figur Pangeran Arya Blitar pada masa Kartasura yang bernama asli Raden Mas Sudomo putra Pakubuwana I dan Ratu Mas Blitar dengan tokoh Arya Balitar dari era Majapahit akhir putra Raden Kusen Adipati Terung cucu Arya Damar Palembang.
Raden Mas Sudomo adalah tokoh awal abad ke delapan belas yang memimpin perlawanan anti VOC dari Kartasekar membangun koalisi bersama Pangeran Purbaya dan menolak legitimasi raja Kartasura yang ditopang kekuatan bayonet Kompeni. Ia gugur pada tahun seribu tujuh ratus dua puluh satu di Lumajang tetapi namanya terpatri dalam babad perlawanan Jawa
Sementara itu Arya Blitar dari masa Majapahit adalah figur abad kelima belas yang jauh lebih awal berakar pada trah Demak Palembang yang memainkan peran penting dalam islamisasi dan konsolidasi kekuasaan di Jawa Timur. Genealogi ini menghubungkan Blitar dengan tradisi politik Majapahit Demak jauh sebelum intrik VOC hadir di Jawa
Bila mengacu pada prinsip historiografi yang menuntut ketepatan konteks dan periodisasi, penyamaan atau pencampuran kedua figur ini akan menimbulkan distorsi sejarah.
Pangeran Arya Blitar Raden Mas Sudomo adalah tokoh perlawanan Kartasura yang sebagai pangeran putra raja menerima apanage berupa wilayah Grobogan dan Pati, bukan Blitar. Sementara itu Adipati Arya Blitar dari era Majapahit adalah bangsawan bergelar adipati yang membawa pengaruh Demak di Blitar.
Penelusuran arsip, babad, kronik, dan catatan VOC memperlihatkan bahwa keduanya hidup pada zaman, latar, dan jejaring politik yang sepenuhnya berbeda.
Sudah saatnya narasi sejarah Blitar baik di ruang publik media lokal maupun kajian akademis menghapus kekeliruan identifikasi Sudomo sebagai tokoh Majapahit dan penguasa Blitar. Fokus perlu diarahkan pada Adipati Arya Blitar era Majapahit putra Raden Kusen Adipati Terung cucu Arya Damar sebagai figur kunci yang mengikat Blitar pada sejarah besar Majapahit Demak.
Dengan pemurnian ini rekonstruksi sejarah Blitar akan lebih kokoh secara metodologis terjaga kesinambungan periodisasinya dan terhindar dari bias yang lahir dari legenda yang tercampur
