free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Sastra

Diponegoro, Smissaert, dan Hari Ketika Jawa Meledak

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

29 - Jul - 2025, 13:41

Placeholder
Potret realis Pangeran Diponegoro dalam gaya lukisan kanvas cat minyak. (Foto: AI created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada pertengahan Juli 1825, udara panas di Yogyakarta tidak hanya berasal dari langit musim kemarau. Ia juga datang dari ketegangan yang menggumpal dalam rongga sosial politik Jawa bagian tengah. Sebuah surat dari Residen Surakarta, H. Mac Gillavry, yang dikirim ke Residen Yogyakarta, A.H. Smissaert, menjadi salah satu dokumen paling dini yang mengabarkan bahwa sebuah letusan besar akan segera terjadi.

Di dalam surat itu, Mac Gillavry melaporkan gerakan mencurigakan dari Pangeran Diponegoro. Sang pangeran disebut telah mengutus dua orang kepala bawahannya ke pasar senjata dan memberi mereka sejumlah uang. Tugas mereka jelas: membeli senjata untuk para pengikut. Mereka yang dikirim merasa gentar, bukan kepada kekuasaan kolonial, tetapi kepada api yang mulai menyala dalam dada rakyat pinggiran yang disebut oleh Gillavry sebagai "semangat jiwa rakyat yang buruk".

Baca Juga : Kalender Jawa Selasa Pahing, 29 Juli 2025: Watak Weton, Rezeki, Jodoh dan Pantangan

Namun, Smissaert bersikap santai. Ia yakin ketegangan ini bisa mereda sendiri. Dalam pikirannya, ini hanyalah ledakan emosional sesaat dari seorang pangeran yang kecewa karena merasa dilecehkan dalam urusan suksesi, hak waris, dan intervensi kolonial atas urusan batin keraton. Ia menyangka bahwa Diponegoro akan sadar dan patuh kembali ke dalam skema kekuasaan kolonial. Namun ternyata ia keliru.

Awal Ledakan: Antara Yogyakarta dan Pacitan

Pada 19 Juli 1825, sebuah kabar lebih konkret masuk ke tangan Mac Gillavry dan segera diteruskan ke Chevallier, Sekretaris Asisten Residen di Yogyakarta. Dalam surat yang ditulis dengan nada mendesak, Mac Gillavry melaporkan bahwa Demang dari Grojogan, seorang tokoh kunci jaringan Diponegoro, telah diperintahkan untuk membawa 100 orang menuju Yogyakarta. Beberapa mata-mata kolonial menyebut rencana menyerang Pacitan lebih dahulu sebagai siasat pembuka untuk kemudian menggempur Yogyakarta.

Pasar-pasar ramai dengan desas-desus. Rakyat kecil mulai menyembunyikan barang-barang berharganya. Bahkan dikabarkan, para pejabat tinggi kraton telah naik ke Gunung Merapi untuk berkaul sebagai pertanda bahwa mereka telah mencium tanda-tanda perang yang mulai mengendap dalam kabut spiritual.

Kabar ini tidak lagi bisa diabaikan. Bahkan Smissaert yang sebelumnya meremehkan bahaya, mulai menyusun langkah. Ia mengutus Pangeran Mangkubumi, salah satu pangeran keraton yang masih setia, untuk menemui Diponegoro di Tegalrejo dan mengundangnya menghadap ke Residen. Sebuah undangan yang lebih mirip ultimatum.Namun, Diponegoro menolak.

Tegalrejo Membara: Titik Nol Perang Jawa

Penolakan Diponegoro menjadi paku terakhir bagi jalan damai. Mangkubumi kembali dengan tangan hampa, menyimpan kegelisahan dalam hatinya. Ketika ia diutus untuk kedua kalinya disertai ancaman halus bahwa dirinya akan menanggung akibat jika Diponegoro tetap menolak, ia justru berpaling dan memilih bergabung dengan sang pangeran. Simpul kekuasaan di dalam keraton pun mulai terbelah.

Pada 20 Juli 1825, sore hari, pasukan gabungan dari kesultanan, Paku Alam, dan detasemen Eropa mulai bergerak. Komando diberikan kepada Letnan Satu Tierry, seorang veteran Waterloo dari Resimen Huzaren ke-7. Mereka membawa 25 pasukan infanteri (flankeurs), 25 kavaleris (huzaren), dan dua meriam lapangan (veldstuk). Chevallier ikut serta, sebagai penghubung sipil dan penasihat lapangan.

Di depan kediaman Diponegoro di Tegalrejo, pasukan itu dihadang oleh kerumunan rakyat. Mereka bukan prajurit resmi, tetapi barisan yang penuh semangat: petani, bekas abdi dalem, orang-orang desa, serta para ulama yang selama ini menjadi simpul sosial dan spiritual masyarakat pinggiran.

Chevallier mencoba pendekatan lunak. Ia melangkah ke depan, mencoba membujuk kerumunan untuk membubarkan diri. Namun jerit, batu, dan peluru menjawabnya. Massa sudah terlampau marah. Tidak ada lagi ruang untuk diplomasi.

Dua meriam mulai meledak. Artileri kolonial menghantam Tegalrejo. Kavaleri menyerbu dari sayap. Ledakan, jeritan, dan kobaran api mengubah desa yang tenang itu menjadi neraka. Sekitar 1.500 rakyat berkumpul di sana. Dua puluh di antaranya tewas dalam pertempuran awal. Satu sersan kavaleri dan beberapa pasukan kolonial terluka parah.

Diponegoro berhasil meloloskan diri bersama Mangkubumi. Namun rumahnya dibakar habis. Maka dari puing rumah itulah, perang yang mengubah wajah Jawa modern dimulai.

Ideologi, Spiritualitas, dan Dendam Sejarah

Diponegoro bukan sekadar pemimpin militer. Ia adalah simbol dari berbagai luka sejarah yang tak kunjung sembuh. Di dalam dirinya menyatu dendam atas tanah-tanah warisan yang dirampas, spiritualitas Islam-Jawa yang direndahkan oleh campur tangan Belanda, dan kenangan akan leluhur yang pernah memegang kedaulatan atas tanah Mataram.

Sejak masa kecilnya, Diponegoro tumbuh dalam bayang-bayang kakeknya, Sultan Hamengkubuwono I, dan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III. Namun hak warisnya disingkirkan, tanah miliknya diambil alih untuk kepentingan jalan kolonial, dan dia diperlakukan hanya sebagai pangeran rendahan. Ia tidak memiliki gelar resmi, tetapi memiliki legitimasi spiritual di mata rakyat.

Bahkan sebelum perang, Diponegoro telah mengukuhkan dirinya sebagai seorang wali sekaligus pemimpin moral masyarakat tani dan ulama desa. Ia meyakini bahwa perang yang akan ia pimpin bukan semata-mata pemberontakan, tetapi jihad fi sabilillah melawan kekuasaan dzalim.

Strategi Pinggiran: Ketika Pusat Menjadi Sasaran

Menarik untuk mencermati strategi Diponegoro. Ia menyusun gerakan perlawanan dari wilayah pinggiran: Pacitan, Grojogan, dan desa-desa yang jauh dari pusat kekuasaan. Perang tidak dimulai dari keraton, tetapi dari hutan dan desa. Ini mengulang pola perlawanan Trunajaya abad ke-17, yang juga menyerang dari luar pusat kekuasaan Mataram.

Serangan terhadap Yogyakarta, menurut laporan mata-mata Belanda, akan diawali dari Pacitan. Artinya, Diponegoro memahami bahwa kekuasaan kolonial tidak bertumpu pada kekuatan militer semata, tetapi pada legitimasi dan kendali administratif yang menjalar dari pusat. Maka pusat harus diguncang, dan pinggiran harus disatukan.

Kejatuhan Smissaert: Arrogansi yang Dibayar Mahal

Sikap meremehkan Smissaert terbukti fatal. Hanya beberapa bulan setelah peristiwa Tegalrejo, dia akan menemui ajalnya dalam kekacauan perang. Pada 11 November 1825, Smissaert tewas di Yogyakarta. Ironi sejarah ini mencerminkan kegagalan fundamental kolonial dalam membaca dinamika lokal dan dalam menganggap rendah kekuatan semangat rakyat yang marah.

Bagi Diponegoro, kematian Smissaert adalah awal dari kemunduran kekuatan kolonial di pedalaman. Namun, ini juga menandai bahwa perang tidak bisa dimenangkan hanya dengan kekuatan moral. Butuh strategi, logistik, dan jaringan yang kuat—dan itu yang ia bangun dalam lima tahun perang berikutnya.

Ketika Jawa Terbakar

Baca Juga : Pemprov Jatim dan Konjen Jepang Perkuat Peningkatan SDM dan Skill dalam Penanggulangan Bencana

Dari 1825 hingga 1830, perang membakar tanah Jawa. Lebih dari 8.000 pasukan Eropa tewas. Setidaknya 7.000 pribumi yang bekerja untuk pemerintah kolonial kehilangan nyawa. Di pihak Diponegoro, jumlah korban tidak terhitung. Desa-desa rata dengan tanah. Hutan-hutan menjadi pangkalan gerilya. Jalan-jalan berubah menjadi kuburan massal.

Namun lebih dari itu, Perang Jawa adalah titik balik. Ia menunjukkan bahwa Jawa bukan tanah yang pasrah. Ia memiliki api, memiliki kehendak, dan memiliki sejarah yang siap meledak ketika harga diri diinjak-injak. Dan ledakan itu dimulai dari satu sore, di satu desa bernama Tegalrejo.

Ketika Diponegoro menolak tunduk dan Smissaert memilih menyerang, Jawa pun meledak.

Darah Lemah Duwur: Silsilah Perlawanan dari Arosbaya ke Tegalrejo

Pada tubuh Pangeran Diponegoro, darah perlawanan tidak hanya berasal dari keraton Yogyakarta. Ia mewarisi garis keturunan yang lebih tua, lebih luas, dan lebih liar: darah Panembahan Lemah Duwur dari Arosbaya, Madura Barat. Melalui jalur inilah, Diponegoro tak hanya menjadi bangsawan Mataram, melainkan juga pewaris sah dari dinasti maritim Islam Madura yang pernah menantang hegemoni Jawa pedalaman. Ia adalah cucu spiritual dari Raden Trunajaya. Dan Trunajaya adalah cucu biologis dari Panembahan Lemah Duwur.

Pada awal abad ketujuh belas, Panembahan Lemah Duwur memimpin Kerajaan Arosbaya dari tanah tinggi Madura. Ia adalah seorang raja maritim, pemimpin Islam lokal, dan menantu Sultan Pajang. Pusat pemerintahannya berdiri di atas bukit batu kapur yang disebut Lemah Duwur. Dari tempat inilah ia mengendalikan pelayaran, perdagangan, dan jaringan kekuasaan yang terbentang dari Gresik hingga Sumenep. Lemah Duwur memadukan warisan Hindu Jawa peninggalan Majapahit dengan semangat baru Islam. Ia merupakan keturunan Prabu Brawijaya V melalui garis Arya Damar dari Palembang, dan memiliki hubungan langsung dengan Sunan Giri.

Namun, kejayaan ini runtuh pada 1624 ketika Sultan Agung dari Mataram menyerbu Madura. Panembahan Tengah, putra Lemah Duwur, dikalahkan. Cucu Lemah Duwur, Raden Prasena, dibawa ke Mataram dan diangkat sebagai Adipati Madura dengan gelar Cakraningrat I. Dari dinasti inilah lahir Trunajaya, cucu buyut Lemah Duwur yang menjadi pemberontak terbesar abad ke-17.

Trunajaya mewarisi dendam sejarah. Ia tumbuh di bawah bayang-bayang keruntuhan Arosbaya dan tekanan politik Mataram. Pada 1670-an, ia bangkit, memimpin perlawanan luas yang menghancurkan Keraton Plered dan membuat Amangkurat I lari terbirit-birit ke barat. Dalam narasi Jawa, ini adalah peristiwa langka: seorang bangsawan pesisir menggulingkan pusat kekuasaan agraris. Namun sejarah meminggirkan Trunajaya sebagai "pemberontak", bukan sebagai pemulih kehormatan leluhur.

Trunajaya memang kalah dan dibunuh Amangkurat II pada 1680. Namun nyala perlawanan itu tidak padam. Dua generasi berikutnya, darah yang sama mengalir dalam tubuh seorang anak raja dari Tegalrejo: Bendara Raden Mas Antawirya, kelak dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

Silsilah Pangeran Diponegoro tersusun rapi dalam Sadjarah Pangeran Dipanegara yang disalin oleh Raden Tanoyo, seorang juru tulis Keraton Yogyakarta pada abad ke-19. Diponegoro merupakan keturunan dari jalur bangsawan Palembang melalui Arya Menak Sunaya, seorang keturunan Arya Damar yang ditarik ke tanah Jawa untuk memperkuat jaringan kekuasaan Demak dan Pajang di wilayah pesisir selatan. Arya Menak Sunaya menurunkan Arya Pojok dari Sampang, seorang tokoh penting Madura yang menjadi perantara kekuasaan antara Giri dan Mataram pada akhir abad ke-16. 

Dari Arya Pojok, garis itu menurun kepada Ki Demung Palakaran di Arosbaya, tokoh yang kemudian menjadi cikal bakal Panembahan Lemah Duwur, raja di tanah tinggi Madura pada awal abad ketujuh belas. Panembahan Lemah Duwur inilah yang membangun kekuatan Arosbaya sebagai kerajaan Islam lokal dengan akar Majapahit dan visi maritim yang kuat. Darinya, trah diteruskan kepada Cakraningrat I, penguasa Bangkalan yang menjadi sekutu Mataram dalam fase awal ekspansi ke timur.

Keturunan Cakraningrat kemudian tersambung ke Adipati Purwodiningrat di Magetan, seorang bangsawan Mataram era Amangkurat yang menempati wilayah penting di lereng Lawu. Salah satu putri Adipati Purwodiningrat dari Magetan diperistri oleh Sultan Hamengkubuwono II sebagai bagian dari strategi konsolidasi kekuasaan antara keraton dan elite priyayi daerah. Putri itu kemudian dikenal sebagai Ratu Kedaton, permaisuri utama Sultan. Dari rahim pernikahan ini lahirlah Raden Mas Surojo yang kelak dinobatkan sebagai Hamengkubuwono III, ayah kandung Pangeran Diponegoro. Dengan demikian, darah Diponegoro memadukan trah Majapahit, Giri, Madura, Palembang, dan Mataram. Warisan politik dan spiritual itu menyatu dalam tubuh seorang pangeran yang kemudian mengguncang tanah Jawa.

Dengan demikian, Diponegoro bukan sekadar tokoh keraton yang kecewa oleh intrik perebutan tahta. Ia adalah figur yang memanggul warisan panjang perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan pusat, baik dari Mataram maupun dari Belanda. Ia mewarisi kebangsawanan spiritual dari Giri, keberanian maritim dari Arosbaya, dan semangat jihad dari garis leluhur Islam yang mengalir dalam darahnya.

Perang Jawa 1825–1830 yang dipimpin Diponegoro bukan hanya reaksi atas ketidakadilan pajak dan pelanggaran tanah. Itu adalah ledakan genealogis. Dalam dirinya menyatu dendam Lemah Duwur yang kerajaannya dihancurkan, amarah Trunajaya yang dikhianati, dan rasa keadilan seorang anak zaman kolonial yang menyaksikan negerinya dijual kepada VOC.

Sejarah Jawa tidak pernah tunggal. Dari bukit kapur Arosbaya ke reruntuhan Plered dan hutan Selarong, garis darah terus menyambung, membawa pesan bahwa kekuasaan yang tak adil akan selalu dilawan. Diponegoro adalah hasil dari sejarah yang ditulis oleh luka, iman, dan keberanian. Darah Lemah Duwur mengalir dalam perlawanan terakhir kerajaan Jawa. Dan itu tidak akan terlupakan.

________________________

Catatan Redaksi: artikel ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber 


Topik

Ruang Sastra Diponegoro Smissaert perang jawa ruang jawa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri