free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Sastra

Syekh Datuk Kahfi: Guru Para Wali di Puncak Gunung Amparan Jati

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

05 - Jul - 2025, 10:34

Placeholder
Lukisan realis ini menggambarkan Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama penyebar Islam di Cirebon pada abad ke-15. (Foto: AI created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di puncak Gunung Jati, di bawah rindangnya pepohonan tua, berdiri sebuah cungkup makam sederhana yang dindingnya diselubungi keramik Cina berwarna hijau kebiruan. Cungkup itu menampung keheningan panjang, menjadi saksi bisu lintasan riwayat seorang ulama besar yang pada masanya menanamkan benih peradaban Islam di tanah Pasundan pesisir. 

Namanya jarang disebut dalam hikayat besar Wali Songo, namun pada kenyataannya, Syekh Datuk Kahfi adalah guru para wali—seorang pengembara ilmu dari Malaka. Ada jejak ribuan mil dari Baghdad ke Cirebon, membawa bara ajaran Tauhid ke hutan belantara yang kelak menjelma kota pelabuhan terbesar di pesisir utara Jawa.

Baca Juga : Chaeyoung TWICE Siap Debut Solo Musim Gugur 2025, Jadi Member Keempat yang Melangkah Sendiri

Peninggalan fisiknya mungkin sunyi. Namun, riwayatnya terjalin rapat dalam manuskrip kuno seperti Nagarakretabhumi, Carita Purwaka Caruban Nagari, dan Babad Cerbon—tiga naskah yang menyimpan serpihan ingatan kolektif akan masa-masa penaklukan spiritual di antara denyut konflik Pajajaran, Islamisasi pesisir, dan lahirnya Caruban Larang yang kelak bernama Cirebon.

Akar Silsilah: Datuk yang Bernasab ke Bagdad

Naskah Nagarakretabhumi Sarga IV memaparkan asal-usul sang guru. Syekh Datuk Kahfi lahir di Malaka, sebuah bandar dagang yang pada abad ke-15 dikenal sebagai jalur penting penyebaran Islam di Semenanjung. Darah ulama mengalir deras padanya. Gelar Syekh Datuk adalah warisan dari kakeknya, Syekh Datuk Isa Tuwu al-Malaka—seorang ulama yang jejak keilmuannya bersambung dengan Baghdad, jantung intelektual Islam dunia.

Nasab Syekh Datuk Kahfi terhimpun dalam berbagai babad lokal sebagai rantai genealogi yang tetap hidup dalam ingatan para peziarah pesisir Cirebon. Jalur keturunan ini bermula dari Nabi Muhammad Saw., yang kemudian menurunkan Sayyidah Fatimah az-Zahra bersama Ali bin Abi Thalib. Dari pasangan mulia ini lahir Imam Husain, yang kemudian menurunkan Imam Ali Zainal Abidin, diteruskan oleh Muhammad al-Baqir, lalu turun kepada Imam Ja’far ash-Shadiq. Dari Imam Ja’far ash-Shadiq, garis nasab berlanjut kepada Ali al-Uraidhi, yang kemudian menurunkan Muhammad al-Naqib, diteruskan oleh Isa al-Rumi. Dari Isa al-Rumi turun kepada Ahmad al-Muhajir, yang kemudian menurunkan Ubaidillah, lalu diteruskan oleh Alawi, yang menurunkan Muhammad, kemudian diteruskan lagi oleh Alawi berikutnya. Jalur ini berlanjut kepada Ali Khali’ Qosam, yang menurunkan Muhammad Shahib al-Mirbath, lalu diteruskan oleh Sayid Alawi, menurunkan Sayid Abdul Malik al-Gujarati, kemudian turun kepada Sayid Amir Abdullah Khanuddin, dilanjutkan oleh Sayid Abdul Qadir, yang kemudian menurunkan Syekh Datuk Isa Tuwu Malaka. Dari Syekh Datuk Isa Tuwu Malaka jalur diteruskan kepada Syekh Datuk Ahmad, hingga sampai pada Syekh Datuk Kahfi, sosok ulama awal yang dikenal sebagai perintis dakwah Islam di Gunung Amparan Jati, Cirebon.

Silsilah ini juga menempatkan Syekh Siti Jenar — atau Syekh Datuk Abdul Jalil — dalam jalur keturunan yang sama dengan Syekh Datuk Kahfi. Ia disebut sebagai putra Syekh Datuk Shaleh, seorang ulama besar di Malaka yang memiliki hubungan erat dengan Sultan Muhammad Iskandar Syah pada awal abad ke-15.Syekh Datuk Shaleh inilah yang masih bersaudara kandung dengan Syekh Datuk Ahmad, ayah Syekh Datuk Kahfi, sehingga memperkuat bukti bahwa jalur spiritual Syekh Siti Jenar pun bersambung menembus akar darah Rasulullah Saw. Hubungan darah ini menegaskan bagaimana genealogi para penyebar Islam pesisir tidak hanya membentuk jaringan dakwah, tetapi juga menjadi fondasi spiritual sekaligus pusaka perlawanan sosial yang bertahan hingga kini.

Dengan demikian, Syekh Datuk Kahfi berdiri pada simpul keluarga ulama, sekaligus perintis jembatan silsilah antara Malaka–Baghdad–Jawa.

Baghdad: Menimba Ilmu di Jantung Dunia Islam

Sebelum tiba di tanah Jawa, Syekh Datuk Kahfi pernah menempuh pengembaraan ilmu ke Baghdad. Versi Nagarakretabhumi mengisahkan ia muda belia, meninggalkan Malaka untuk menuntut ilmu pada para ulama di tanah Arab. Di Baghdad, ia menikah dengan Syarifah Halimah, seorang perempuan dari keluarga Sultan Sulaiman. Pernikahan itu bukan sekadar ikatan darah, melainkan jalinan simbolik antara pusat kekuasaan Islam di Timur Tengah dengan cita-cita syiar di tanah Nusantara yang masih diwarnai animisme, Hindu-Buddha, dan sisa pengaruh Pajajaran.

Keputusan Syekh Datuk Kahfi meninggalkan Baghdad adalah penanda betapa misi spiritual menaklukkan rimba spiritual Jawa lebih menggoda daripada gemerlap pusat ilmu di Timur Tengah. Ia memilih muara sunyi di Gunung Amparan Jati—sebuah perbukitan di dekat pelabuhan Muara Jati, gerbang laut Kerajaan Pajajaran.

Gunung Amparan Jati: Lumbung Dakwah di Pesisir Utara

Gunung Amparan Jati terletak di kawasan yang strategis. Bersebelahan dengan Gunung Sembung, tempat kelak berdiri makam Sunan Gunung Jati, titik ini menjadi simpul pertemuan pedagang, ulama, dan bangsawan Pajajaran. Kawasan ini masuk wilayah Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan Pajajaran (Bogor), namun pesisir utara memiliki otonomi kultural tersendiri karena percampuran etnik Cina, Arab, Gujarat, dan penduduk Sunda.

Dari puncak bukit Amparan Jati, Syekh Datuk Kahfi mendirikan sebuah pesantren awal. Tidak mewah—hanya pondok-pondok sederhana yang menampung santri dari berbagai kalangan. Di sinilah bibit Wali Songo mulai berkecambah. Tercatat beberapa muridnya kelak dikenal sebagai tokoh penting Islam Jawa: Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, Syekh Siti Jenar, Sunan Drajat, hingga Raden Sahid (Sunan Kalijaga).

Pendekatan dakwahnya terbilang halus dan penuh kebijaksanaan. Seperti dicatat Carita Purwaka Caruban Nagari, metode yang ia pilih menekankan pada nasihat, tauladan, dan pengajaran ilmu kehidupan yang membumi. Syekh Datuk Kahfi tidak serta-merta menumbangkan kepercayaan lama dengan api konflik, tetapi menanamkan Islam melalui jalur persuasif. Persis seperti benih, ajarannya tumbuh perlahan—menerobos rimba adat dengan akar yang dalam.

Pangeran Walangsungsang: Putera Pajajaran Menjadi Raja Muslim

Dari sekian banyak muridnya, Pangeran Walangsungsang—putera Prabu Siliwangi dari Nyai Subanglarang—menjadi figur penanda perubahan zaman. Walangsungsang, dalam riwayat Carita Purwaka Caruban Nagari, berguru pada Syekh Datuk Kahfi selama tiga tahun. Ia, bersama adiknya, Nyai Lara Santang, mewakili pertemuan darah raja Pajajaran dengan spirit Islam.

Saat Pangeran Walangsungsang tuntas menuntut ilmu, Syekh Datuk Kahfi menugaskannya memimpin para santri membuka hutan di pesisir. Kawasan rimba itu kelak disebut Caruban Larang—Caruban berarti campuran, Larang berarti suci. Ia menjadi embrio Cirebon, hunian multietnik yang tumbuh pesat karena posisinya dekat pelabuhan Muara Jati.

Baca Juga : Garis Rezeki Berdasarkan Hari Lahir, Ini Menurut Primbon Jawa

Peran Syekh Datuk Kahfi tidak berhenti di sana. Ia menganugerahkan nama Ki Samadullah pada Walangsungsang, meneguhkan statusnya sebagai pemimpin spiritual sekaligus politik. Bersama Ki Danusela (pejabat Pajajaran setempat), mereka membangun tata pemerintahan baru. Tajug (masjid) didirikan sebagai pusat spiritual, menandai perubahan hutan belantara menjadi perkampungan Muslim. Penduduk dari berbagai pelosok berdatangan, menjadikan Caruban Larang sebagai simpul migrasi penduduk pesisir.

Dari Dusun ke Keraton: Tanda Keprabuan dari Pakuan

Transformasi Caruban Larang tidak lepas dari dinamika politik Pajajaran. Prabu Siliwangi, meski dikenal sebagai raja Hindu Sunda, tidak menolak puteranya yang memeluk Islam. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, setelah Caruban Larang berkembang, Prabu Siliwangi mengirim utusan di bawah Tumenggung Jagabaya. Sang putera, Ki Samadullah, menerima tanda keprabuan: lambang legitimasi kekuasaan yang menempatkannya sebagai Raja Caruban Larang dengan gelar Sri Mangana.

Inilah ironi sejarah: pusat Pajajaran tetap memegang kepercayaan Hindu-Sunda, tetapi di pesisir, sebuah pemerintahan Muslim tumbuh di bawah perlindungan spiritual Syekh Datuk Kahfi. Di sinilah cikal bakal Cirebon berdiri—perpaduan kuasa lama dan kuasa baru, dilatari semangat damai dan dakwah.

Syekh Datuk Kahfi dan Santri-Santri Pembaharu

Karya terbesar Syekh Datuk Kahfi bukan semata mendirikan pesantren di puncak Gunung Amparan Jati, tetapi membentuk jaringan murid yang kelak menjelma pelita dakwah lintas Jawa. Murid-muridnya menempati posisi strategis dalam menembus berbagai lapisan masyarakat: Syekh Siti Jenar, atau Syekh Lemah Abang, yang juga keponakannya sendiri, tumbuh menjadi sufi kontroversial dengan ajaran mistik manunggaling kawula Gusti yang menantang pola dakwah ortodoks Wali Songo; Masaeh Munat, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Drajat, melanjutkan proses Islamisasi di kawasan pesisir timur Jawa dengan pendekatan sosial yang egaliter; sementara Raden Sahid, yang masyhur dengan gelar Sunan Kalijaga, menjembatani dunia seni dan budaya lokal dengan ajaran tauhid, memadukan wayang, gamelan, dan pesan moral Islam sehingga dakwah dapat diterima di hati masyarakat Jawa yang lekat pada simbol dan tradisi.

Dengan demikian, Gunung Amparan Jati tidak sekadar nama geografis. Ia menjadi metafora “puncak pengetahuan” yang menurunkan cabang-cabang perlawanan spiritual ke seluruh Jawa. Dakwah Syekh Datuk Kahfi bersifat inklusif. Ia tidak memutus tradisi, melainkan menanamkan ideologi keadilan spiritual, memberdayakan lapisan rakyat, dan menciptakan “kaum santri” yang mampu memengaruhi struktur politik lokal.

Makna Dinding Keramik: Warisan Ziarah, Warisan Ingatan

Di era modern, pusaka dakwah Syekh Datuk Kahfi barangkali terpinggirkan di antara popularitas Wali Songo. Namun, cungkup makamnya tetap menjadi magnet ziarah. Keramik Cina yang menghiasi dindingnya adalah simbol lintas budaya, mengingatkan bahwa Islam Nusantara tumbuh di simpang jalur perdagangan, migrasi, dan pertukaran gagasan. Di Gunung Amparan Jati, batu nisan bukan sekadar monumen. Ia menjadi pengikat ingatan kolektif tentang guru yang menyalakan obor dakwah dengan akal budi dan kepekaan sosial.

Dalam catatan historiografi, Syekh Datuk Kahfi berdiri di simpul paling awal transformasi politik spiritual di Jawa Barat. Dari pesantren sunyi di puncak bukit, ia mencetak generasi bangsawan-bangsawan baru yang tidak saja membawa Al-Qur’an, tetapi juga membawa konsep keadilan sosial bagi rakyat pesisir. Ia mendidik para santri untuk memimpin, menaklukkan hutan, dan menaklukkan ego kekuasaan raja-raja lama dengan cara damai.

Di hadapan pusara dengan dinding keramik Cina itu, peziarah masa kini sesungguhnya berdiri di batas masa lalu dan masa depan. Nama Syekh Datuk Kahfi barangkali tidak sepopuler Sunan Gunung Jati atau Sunan Kalijaga, tetapi jejaknya menjalar pada siapa saja yang berikhtiar mendalami Islam Nusantara sebagai jalan peradaban. Di puncak Gunung Amparan Jati, suara syahdu syiar masih menggema dalam hembusan angin. Sebuah pelajaran abadi: dakwah adalah laku sunyi, tetapi jejaknya melintasi zaman.

______________ 

Catatan Redaksi: artikel ini merupakan hasil rangkuman dari berbagai sumber


Topik

Ruang Sastra Syekh Datuk Kahfi Gunung Amparan Jati



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri