JATIMTIMES - Pergantian dinasti di tanah Jawa pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17 kerap menjadi arena benturan dua arus besar: kekuatan pesisir, yang diwarisi Demak, Jepara, Giri, Tuban, hingga Surabaya, berhadapan dengan pusat-pusat baru di pedalaman, semacam Pajang dan cikal bakal Mataram. Dalam pusaran pusaka, darah, dan legitimasi spiritual, nama Arya Pangiri atau Adipati Demak muncul sebagai percikan terakhir kebesaran Demak yang berupaya merebut kembali kepemimpinan Jawa dari istana Pajang.
Dalam catatan Babad Tanah Jawi maupun Serat Kandha, Arya Pangiri berdiri sebagai simbol jembatan sejarah. Ia anak keturunan Sunan Prawata—pewaris sah Sultan Trenggana yang terbunuh dalam konspirasi Aria Penangsang. Sejak kematian ayahnya, Arya Pangiri diungsikan dan diasuh Ratu Kalinyamat—ratu perkasa Jepara yang sejak wafat suaminya dikenal memimpin armada laut untuk membendung hegemoni Portugis. Darah maritim Demak mengalir deras dalam nadi Arya Pangiri, tetapi takdir menuntunnya meniti tangga takhta Pajang, kerajaan pedalaman.
Baca Juga : Sekelompok Simpatisan PSHT Ricuh di Pakis Malang, hingga Diamuk Warga
Pusaran ambisi, restu spiritual, intrik ulama pesisir, dan perseteruan elite bangsawan pedalaman membentuk drama politik ini. Kisahnya menyingkap tabir betapa darah, pusaka, restu ulama, hingga dendam sejarah membentuk watak politik Jawa masa transisi dari Demak ke Pajang dan kemudian Mataram.
Kematian Sultan Hadiwijaya: Kericuhan Suksesi
Sultan Hadiwijaya, atau lebih dikenal dengan Jaka Tingkir, pendiri Pajang, mangkat dan dimakamkan di Butuh. Seketika istana Pajang menjadi panggung ketegangan. Dalam Babad Tanah Jawi (Meinsma, 93–94) diceritakan, sanak saudara, para bupati, dan para pemuka ulama berkumpul di ruang dalam keraton. Sunan Kudus hadir dengan kewibawaan spiritualnya, disertai Senapati, putra Ki Ageng Pamanahan yang perlahan membangun basis di Mataram.
Para bupati cenderung memilih Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya, sebagai raja Pajang. Namun, Sunan Kudus, dengan suara rohaninya yang tak terbantah, justru mengajukan Arya Pangiri, menantu Sultan. Dalam tafsir Serat Kandha, Sunan Kudus bertindak bak diktator spiritual. Keputusan diumumkan di depan rakyat: Pajang diwariskan kepada menantu tertua Sri Baginda, Adipati Demak, sedangkan Benawa hanya berhak atas Jipang, satu wilayah perbatasan.
Pangeran Benawa dipaksa menahan jengkel di Jipang, sedang Senapati, yang sempat hendak membantah, ditenangkan Ki Juru Martani agar menahan diri. Gerak cepat justru akan menjerumuskan Mataram pada perlawanan terbuka dengan jaringan pesisir. Sejarah mencatat: dalam sengkarut ini, pengaruh Demak kembali menjalar ke jantung Pajang melalui restu Kudus. Keturunan Demak, di bawah naungan spiritual pesisir, berupaya merengkuh kembali singgasana yang pernah direbut Pajang.
Ideologi Pesisir: Sunan Kudus dan Bayang-bayang Demak
Menurut Serat Kandha, Sunan Kudus, ulama terkemuka dari pesisir, menjadi penopang utama gerakan ini. Ia tidak sekadar ulama, tetapi figur ideologis yang membawa semangat maritim Demak. Dalam narasi historiografi Jawa, Kudus menjadi simbol perlawanan pesisir terhadap dominasi pedalaman. Ketika Sultan Hadiwijaya mangkat, Kudus dipanggil ke Pajang, tiba tepat sebelum ajal menjemput sang raja. Ia membisikkan restu—atau kutukan—yang akan merobek kesatuan Pajang.
Pertanyaan mengemuka: apakah Sunan Kalijaga—lawan ideologis Kudus yang berpihak pada harmoni lintas pesisir-pedalaman—masih hidup kala itu? Tak ada keterangan pasti. Tetapi simbolnya jelas: Kudus mewakili ortodoksi pesisir, dan Arya Pangiri menjadi pion perlawanan, membawa misi spiritual membangkitkan kembali dominasi Demak, meski bukan melalui Demak yang keramat, melainkan lewat Pajang.
Kepindahan Arya Pangiri ke Pajang: Politik Tanah dan Pengungsian Rakyat
Arya Pangiri resmi bertahta sebagai Raja Pajang. Ia pindah bersama pengikut Demak, membawa keluarga, prajurit, hingga budak-budak pelabuhan. Menurut Babad Tanah Jawi (Meinsma, 94–95), untuk menopang logistik, sepertiga tanah penduduk Pajang disita sebagai tanah permukiman Demak. Tanah itu jadi sumber pangan bagi orang-orang pesisir yang diboyong Arya Pangiri. Pengikut Demak pun dinaikkan pangkatnya satu tingkat, menciptakan stratifikasi baru yang menyalakan bara protes penduduk asli Pajang.
Kemarahan tumbuh. Penduduk Pajang kehilangan tanah, kehilangan kehormatan, lalu merapat ke Mataram. Sementara itu, mantri pangalasan Pajang melaporkan situasi kacau ini pada Senapati. Desakan muncul agar Senapati bertindak, tetapi sang raja muda Mataram menolak, menunggu “perintah dari Allah”. Dalam narasi ini, Senapati digambarkan sebagai pewaris politik Jawa yang lihai membaca tanda zaman: menahan sabar sambil menunggu peluang ketika musuh di Pajang terisolasi.
Benawa dan Senapati: Persaudaraan di Tengah Ambisi
Dalam kondisi terjepit di Jipang, Benawa—putra sah Sultan Hadiwijaya—hidup menderita. Ia tidur di bawah teriris, lapar, cemas, dan merasa dibuang. Dalam mimpi, ia melihat sang ayah memerintahkannya meminta bantuan Senapati di Mataram. Utusan dikirimkan, tetapi Senapati menolak, menolak “urusan keluarga”. Hanya ketika Benawa menawarkan tahta Pajang sepenuhnya sebagai ganti dukungan, Senapati—dalam tafsir Babad Tanah Jawi—merasa “gembira sekali”.
Pertemuan bersejarah terjadi di Weru, Gunung Kidul. Benawa dan Senapati, berpelukan dalam sebuah pondok, merumuskan persekutuan. Kesepakatan di Weru menjadi awal senjakala Arya Pangiri. Dari Gunung Kidul, Benawa membawa dukungan orang-orang Pajang yang muak pada penguasa pesisir. Senapati membawa pasukan Mataram yang lapar legitimasi.
Perebutan Pajang: Peluru Perak dan Budak Pesisir
Kisah perebutan Pajang menampilkan detail menarik: pasukan Arya Pangiri campuran. Ada orang Demak, budak Makassar, Bugis, Bali, hingga peranakan Cina. Para budak dijanjikan kebebasan jika menang. Mereka diberi peluru emas dan perak, simbol kekuatan ekonomi uang pesisir yang membedakan diri dari petani pedalaman.
Tetapi janji kebebasan justru menjadi bumerang. Dalam pertempuran, Senapati yang menunggang kuda emas Bratayuda menembus tembok Pajang. Para budak pesisir membelot setelah dijanjikan kemerdekaan oleh Senapati. Kiai Gedong, mantri Pajang yang berpihak pada Mataram, mendobrak pintu barat. Arya Pangiri, yang hanya bergantung pada orang-orang Demak, terjepit.
Dalam tafsir mistik Jawa, Senapati digambarkan tetap khusyuk berdoa di tengah pertempuran. Kemenangan jatuh “bak karunia dari langit”. Para prajurit Arya Pangiri tersisa di alun-alun, terbungkam oleh siasat spiritual dan politik Senapati.
Kejatuhan Arya Pangiri: Pusaka, Pengampunan, dan Perpindahan Pusat Kuasa
Dalam adegan dramatis di sitinggil Pajang, Arya Pangiri tertunduk, mengakui kesalahannya “merebut Pajang yang bukan haknya”. Istrinya—putri Sultan Pajang—menangis sambil memohon pengampunan pada Senapati. Dengan syarat menyerah, Arya Pangiri diampuni, diikat dengan kain sutra, lalu diarak kembali ke Demak. Dalam tradisi Jawa, penawanan ini bukan sekadar simbol kekalahan militer, tetapi ritual simbolik peralihan pusaka, darah, dan legitimasi spiritual.
Senapati hanya meminta pusaka-pusaka warisan: Gong Kiai Sekar Delima, kendali Kiai Macan Guguh, pelana Kiai Jatayu. Dalam pusaka itulah, kekuatan simbolis berpindah tangan. Sejak itu, titik berat politik Jawa berpindah dari pesisir Demak ke pedalaman Mataram.
Hilangnya Benawa: Dendam, Tapabrata, dan Lenyapnya Jejak
Setelah Pajang jatuh, Pangeran Benawa dinobatkan Senapati sebagai Sultan Pajang, meski singkat. Babad Tanah Jawi memberitakan Benawa wafat hanya setahun kemudian. Namun Serat Kandha memberi versi mistik: Benawa, sang pewaris sah, memilih menghilang. Ia menepi, berpuasa di Gua Kukulan Parakan, lalu menetap sebagai Susuhunan Parakan—wali yang membebaskan diri dari pusaran dendam.
Hilangan Benawa menegaskan watak sejarah Jawa: takhta, darah, dan spiritualitas terikat dalam labirin keramat. Dalam kepergiannya, Benawa menutup lembaran Pajang. Mataram, di bawah Senapati, menyusun fondasi baru: kerajaan pedalaman berlandas pusaka Pajang, darah Demak, tetapi dijiwai visi spiritual baru yang membentuk Dinasti Mataram kelak.
Warisan Arya Pangiri
Baca Juga : Aksi Simpatisan PSHT Tutup Jalan di Karangkates Ganggu Lalu Lintas, Polres Malang Kerahkan 482 Personel
Kegagalan Arya Pangiri sering ditafsirkan sekadar kegagalan militer. Namun, di baliknya membayang sebuah pelajaran: betapa darah pesisir Demak—dengan restu ulama Kudus—berupaya memelihara supremasi maritim di tengah arus kebangkitan pedalaman. Arya Pangiri bukan hanya raja yang gagal mempertahankan tahta. Ia simbol pergeseran poros kuasa Jawa: dari pelabuhan Demak ke pesisir Pajang, lalu terkonsentrasi di Mataram.
Di satu sisi, Arya Pangiri memperlihatkan kegetiran jaringan pesisir ketika berhadapan dengan birokrasi agraris pedalaman. Di sisi lain, kejatuhannya mempermulus jalan Senapati, sang pewaris Pajang, untuk membangun Mataram di atas tumpukan dendam, pusaka, dan legitimasi spiritual.
Arya Pangiri, sang Raja Pajang dari Darah Demak, menjadi simpul sejarah yang menandai akhir supremasi maritim Demak dan menyalakan percik kebangkitan kerajaan agraris yang kelak menumbuhkan legenda Mataram. Di antara lorong keraton, pusaka berpindah tangan, tetapi dendam sejarah terus mengalir dalam darah para pewarisnya—menjadi narasi yang akan dikenang para sejarawan lintas abad.
Asal Usul Arya Pangiri dan Hubungannya dengan Panembahan Senapati
Dalam pusaran sejarah Jawa akhir abad ke-16, nama Arya Pangiri muncul sebagai salah satu figur kunci yang menandai pergeseran hegemoni dari Demak ke Pajang, lalu Mataram. Ia bukan hanya pewaris takhta Demak melalui Sunan Prawata, tetapi juga menantu Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Jejaknya menyingkap jalinan rumit antara ikatan darah, dendam politik, dan transformasi spiritualitas kekuasaan Jawa.
Arya Pangiri lahir sebagai putra Sunan Prawata, Sultan Demak keempat, yang wafat tragis pada 1549 akibat dendam keluarga. Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Prawata dibunuh oleh Rangkud, budak suruhan Arya Penangsang, keponakannya sendiri, sebagai pembalasan atas kematian Pangeran Seda Lepen—ayah Penangsang. Kisah tragis itu mengukuhkan pola dendam turun-temurun dalam sirkulasi elite Demak.
Setelah Sunan Prawata wafat, Pangiri yang masih bocah diasuh oleh bibinya, Ratu Kalinyamat dari Jepara. Ratu Kalinyamat dikenal sebagai simbol perlawanan maritim, melawan Portugis di laut Jawa. Dari asuhan inilah Pangiri mewarisi semangat kepemimpinan pesisir yang kental dengan ideologi jihad Islam, diplomasi dagang, dan jaringan internasional.
Melalui perkawinan politik, Pangiri menikah dengan putri Sultan Hadiwijaya, raja Pajang. Ikatan ini menjadikannya bukan sekadar bupati Demak, tetapi juga bagian dari lingkaran utama Pajang. Namun, saat Hadiwijaya wafat, Pangiri justru menyalahi wasiat mertuanya untuk tidak memusuhi Sutawijaya, panglima Pajang yang kemudian mendirikan Mataram.
Sumber sejarah menegaskan betapa rumitnya relasi antara Arya Pangiri dengan Panembahan Senapati, nama lain Sutawijaya. Di permukaan, keduanya bermusuhan sengit. Pangiri, dengan ambisi mewarisi kejayaan Demak, merasa Pajang layak menjadi miliknya. Ia merekrut prajurit bayaran Bugis, Makassar, bahkan Bali untuk memperkuat pasukannya.
Namun di balik ketegangan itu, darah keluarga justru mengikat mereka. Pangiri bukan orang asing bagi Senapati. Adiknya sendiri, Roro Ayu Mas Semangkin, menjadi istri Panembahan Senapati. Sama seperti Pangiri, Roro Semangkin, sejak kecil diasuh Ratu Kalinyamat, dididik dalam ilmu kanuragan, kebatinan, dan keprajuritan Kalinyamat. Ia kemudian diangkat sebagai senopati wanita, salah satu panglima perang perempuan langka di Jawa abad itu.
Ikatan inilah yang melahirkan paradoks: di satu sisi, Senapati berperang melawan iparnya; di sisi lain, ia dilindungi kehormatan keluarga besar Dinasti Trenggana. Dalam budaya Jawa, darah kerabat masih lebih sakral ketimbang kepentingan politik praktis.
Pangiri, meski menantu Sultan Hadiwijaya, justru mengundang konflik di Pajang. Ia menggeser pejabat asli Pajang dengan loyalis Demak, memicu ketegangan sosial. Penduduk Pajang yang terusir kehilangan mata pencaharian, sebagian berubah menjadi perampok, sebagian lari ke Jipang bergabung dengan Pangeran Benawa, putra Hadiwijaya yang terpinggirkan.
Situasi memuncak pada 1586. Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya. Dua saudara angkat itu berunding di Weru, sepakat menumbangkan Pangiri. Gabungan pasukan Jipang–Mataram bergerak ke Pajang. Pasukan Pangiri, meski didukung ribuan prajurit Demak dan seberang, runtuh. Pangiri tertangkap. Namun di sinilah ikatan kekerabatan berbicara: nyawanya diampuni berkat permintaan istrinya, Ratu Pembayun. Ia dipulangkan ke Demak; Pajang jatuh ke tangan Pangeran Benawa.
Peristiwa ini menandai kematian simbolik Demak sebagai pusat kekuasaan Islam pesisir. Legitimasi spiritual Demak berpindah ke pedalaman lewat Mataram di bawah Senapati. Di sinilah dendam, perkawinan, dan konsolidasi mistik membentuk jalur baru sejarah Jawa: Pajang habis, Mataram bangkit.
Hubungan Arya Pangiri dan Panembahan Senapati menunjukkan bagaimana ideologi Islam pesisir dan spiritualitas kebatinan pedalaman bertemu dalam satu panggung. Pangiri mewakili semangat kosmopolitan Demak–Jepara–Kalinyamat; Senapati mewakili sinkretisme agraris yang menata ulang tatanan Jawa di Kotagede.
Dalam konteks ini, perkawinan Roro Ayu Mas Semangkin menjadi jembatan. Ia bukan sekadar permaisuri, melainkan simbol bagaimana perempuan elite membentuk politik, bukan hanya melalui rahim pewaris, tetapi juga melalui pedang di medan laga. Tercatat, Roro Semangkin memimpin pasukan menumpas Pragola I di Pati — ekspedisi yang menegaskan loyalitasnya pada Mataram, meski darahnya adalah darah Demak.
Dengan begitu, riwayat Arya Pangiri bukan sekadar kisah penguasa kalah. Ia membuka tabir rumit bagaimana warisan Sultan Trenggana larut ke Mataram. Seperti diungkap Babad Tanah Jawi, dendam membunuh raja-raja Demak, tetapi perkawinan dan spiritualitas melebur sisa-sisanya ke poros baru.
Demak pun runtuh, Pajang tersingkir, tetapi warisan darah Trenggana hidup di Mataram — di balik nama Panembahan Senapati yang kelak membangun imperium agraris terbesar di Jawa hingga abad ke-17.
