free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Sastra

Segarayasa: Ketika Sunan Amangkurat I Membangun Istana di Atas Air

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

27 - Jun - 2025, 11:56

Placeholder
Lukisan cat minyak bergaya realis menggambarkan Sunan Amangkurat I, Raja Mataram Islam, dalam suasana resmi istana tahun 1647. (Foto: Dibuat dengan AI oleh JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam sejarah panjang Mataram Islam, masa pemerintahan Sunan Amangkurat I (1646–1677) merupakan satu fase yang penuh kontradiksi. Yakni antara modernisasi sentralistik dan represi terhadap bangsawan lokal, antara pembangunan monumental dan keretakan sosial. 

Salah satu proyek raksasa yang menjadi jejak abadi rezim ini adalah pembangunan Segarayasa, istana yang secara harfiah berdiri di atas pulau buatan, dikelilingi kolam dan danau hasil pengerukan dan pengaliran ulang sungai-sungai di sekitar Plered. Segarayasa bukan sekadar tempat tinggal sang raja, tetapi simbol dari kuasa absolut yang ingin menciptakan tatanan baru: istana sebagai pulau, raja sebagai matahari.

Baca Juga : Ribuan Warga Nahdlatul Ulama Banyuwangi Tetap Antusias Ikuti Mujahadah Kubro Meski Diguyur Hujan

Proyek Segarayasa sejatinya tidak terlepas dari visi besar yang telah dirintis Sultan Agung. Dalam Babad Sangkala disebutkan bahwa pada tahun 1565 J (2 Maret 1643 M), sebuah bendungan di Plered telah mulai dibangun. Ini terjadi tiga tahun sebelum wafatnya Sultan Agung. 

Maka dapat diasumsikan bahwa proyek air ini, yang kelak berujung pada Segarayasa, memiliki akar ideologis dan strategis sejak masa pendahulunya. Bendungan ini pada awalnya berfungsi ganda: sebagai pengendali banjir dan sebagai reservoir untuk mendukung pengairan pertanian, serta proteksi alami bagi keraton yang akan dibangun kemudian.

Menurut Babad Momana, pada tahun 1574 J (14 Desember 1651 M), bendungan besar mulai dikerjakan di kawasan yang kelak dinamai Segarayasa. Pada 1658, proyek ini berlanjut dengan pengerahan besar-besaran tenaga kerja dari luar Jawa, termasuk rakyat Karawang, sebagaimana tercatat dalam Daghregister VOC tertanggal 14 Maret 1659. 

Para pekerja dipaksa meninggalkan tanahnya, sehingga mereka tak sempat menanam padi, mengakibatkan kekurangan beras yang signifikan di wilayah barat kerajaan.

Meski membawa penderitaan, proyek ini tetap berjalan. Pada 7 Juli 1659, Daghregister mencatat bahwa Susuhunan dan permaisurinya mengunjungi "kolam yang baru digali," yang beberapa hari kemudian secara resmi dinamakan "Segarayasa". Empat tahun berselang, tepatnya tahun 1661, skala pembangunan meningkat drastis. 

Sunan mengerahkan 300.000 pekerja paksa untuk membangun pulau tempat istana akan berdiri. Pulau itu dikelilingi kolam, kanal, dan tanggul. Para penguasa pesisir dilarang meninggalkan wilayah mereka karena harus turut mengawasi proyek tersebut, sebagaimana tertuang dalam laporan VOC tanggal 12 September 1661.

Namun, proyek ambisius ini tidak lepas dari tantangan alam. Dalam Babad Sangkala tahun 1683 J (6 September 1660 M), disebutkan bahwa pembangunan bendungan baru dilakukan di wilayah Jaha. Para umbul ditugaskan untuk mengawasi tiap bagian pekerjaan.

Sayangnya, banjir besar merusak hasil kerja mereka, memaksa pengerjaan ulang dua tahun kemudian. Sunan merancang kolam besar bernama Desar yang mengelilingi istana, sebagai bagian dari rancangan pertahanan sekaligus estetika istana.

Daghregister tertanggal 28 Agustus dan 5 September 1663 mencatat bahwa Raja kembali menggalakkan penggalian batang air, meski ia juga mulai merasa jenuh. Bahkan, laporan tertanggal 1 Oktober 1663 menyatakan bahwa "penggalian laut atau kolam besar Susuhunan, yang dinamakan Segarayasa, dimulai kembali dan diselesaikan." Namun, kali ini sang raja tidak lagi bersemangat untuk berperahu seperti sebelumnya. Aktivitas hiburan berkurang, dan fungsi strategis dari danau menjadi dominan.

Salah satu laporan paling dramatis datang dari pengamatan Abraham Verspreet, utusan VOC, yang pada 16 Oktober 1668 mengunjungi keraton. Ia menyebutkan bahwa sebelum tiba di alun-alun istana, ia harus melewati jembatan di atas parit yang mengelilingi istana. Ini membuktikan bahwa Keraton Plered benar-benar berdiri di atas pulau. Model ini kemudian diteruskan dalam pembangunan Keraton Kartasura.

Penyendiriannya secara simbolik dan fisik ini sesuai dengan watak Amangkurat I, yang dalam banyak catatan dikenal sebagai raja yang tak suka berbagi kuasa dan cenderung menarik diri dari publik. Pulau-keraton menjadi metafora sempurna dari absolutisme dan keterputusan dari rakyat.

Sistem pengairan dan pertahanan Segarayasa, sebagaimana dirancang, sangat kompleks. Bendungan-bendungan tidak hanya menahan air tetapi juga diarahkan untuk membentuk danau buatan di sekitar alun-alun. Pekerjaan ini berlangsung bertahap: dimulai dari sisi selatan dan timur, lalu meluas ke utara dan barat. Semua dikerjakan oleh tenaga kerja paksa. Pada tahun 1661, banjir besar menghantam pada malam hari, merusak bendungan dan menghanyutkan "Lumbung Besar," menyebabkan krisis pangan. Baru dua tahun kemudian proyek bisa dimulai kembali.

Dalam laporan terakhir Babad Sangkala tahun 1589 J (4 Juli 1666), disebutkan bahwa Sungai Winanga telah berhasil dibendung. Ini menandai tahap akhir dari seluruh pembangunan sistem hidrologi istana. Proyek-proyek monumental ini tidak hanya menampilkan kemegahan, tetapi juga menuntut biaya sosial yang mahal. Puluhan ribu rakyat kehilangan musim tanamnya, ratusan tewas dalam kerja paksa, dan tatanan agraris Mataram mengalami guncangan.

Menariknya, pembangunan Segarayasa juga berbarengan dengan proyek mausoleum Ratu Malang di Gunung Kelir. Pada tahun 1588 J (14 Juli 1665), Ratu wafat dan dimakamkan di sana. Tiga tahun kemudian (1668), Antakapura sebagai kompleks pemakaman megah selesai dibangun. Ini adalah bangunan terakhir yang tercatat dalam masa Amangkurat I.

Dengan demikian, Segarayasa bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga representasi politik dari kekuasaan yang ingin menaklukkan alam, mengatur masyarakat secara sentral, dan mewujudkan pengasingan simbolik dari seorang raja terhadap dunia luar. Ia adalah laboratorium kekuasaan absolut, yang dari segi arsitektur pun menegaskan superioritas pusat atas pinggiran.

Proyek Segarayasa mencerminkan pula fase perubahan dalam model urban kerajaan Mataram: dari kota-terbuka berorientasi agraris menjadi kota-tertutup berorientasi simbolik. Model ini kemudian ditiru pada masa Kartasura dan bahkan menjadi rujukan dalam tata letak istana Yogyakarta dan Surakarta.

Dalam analisis penulis, pendekatan pembangunan seperti ini juga memperlihatkan bagaimana kekuasaan Jawa pra-modern tidak hanya mengejawantah dalam militerisme, tetapi juga dalam pengaturan ruang. Segarayasa adalah medan naratif tempat mitos, kekuasaan, dan teknologi bertemu. Sebuah pulau di tengah air bukan hanya untuk perlindungan, tetapi juga untuk mengukuhkan jarak antara raja dan rakyatnya. Ia adalah proklamasi keilahian, penciptaan kembali pusat dunia di tengah dunia yang sedang rapuh.

Jejak Segarayasa hari ini sulit dilacak. Sebagian besar strukturnya telah lenyap, terkubur di bawah endapan sejarah dan perubahan bentang alam. Namun dalam catatan-catatan sejarah, ia tetap berdiri megah sebagai monumen ideologis: upaya seorang raja untuk menguasai bukan hanya rakyat, tetapi juga tanah dan air. Di balik kemegahannya, Segarayasa menyimpan kisah getir tentang ketakutan, pemaksaan, dan pengasingan.

Sebagaimana kita merenungkan peninggalan kerajaan-kerajaan besar lainnya di dunia, Segarayasa adalah refleksi bahwa arsitektur bukan sekadar batu dan bata, tetapi juga struktur kekuasaan. Sunan Amangkurat I, dengan segala kontroversinya, telah meninggalkan warisan yang menuntut kita berpikir ulang tentang makna keagungan dan harga yang harus dibayar untuk mencapainya.

Sunan Amangkurat I dan Kota Bata Plered: Mimpi yang Dibangun dengan Tangan Besi

Setelah menguasai tampuk kekuasaan Mataram pada tahun 1646, Sunan Amangkurat I, yang bernama asli Raden Mas Sayidin, segera memantapkan langkahnya untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Keraton Karta ke sebuah lokasi baru yang kelak dikenal dengan nama Plered. Langkah ini bukanlah sekadar keputusan administratif, melainkan manifestasi dari ambisi kekuasaan yang ingin menghapus jejak-jejak para pendahulunya dan menegaskan supremasi mutlak raja atas bangsawan dan rakyatnya.

Baca Juga : Bebas Lumut, Aman untuk Air Minum: Tandon TD dari Penguin Kini Tersedia di Graha Bangunan Blitar

Menurut Babad Momana, pembangunan Keraton Plered dimulai pada tahun 1570 Jawa, atau bertepatan dengan 26 Januari 1648 M. Keterangan ini dikuatkan oleh laporan Cornelis van Goens, seorang utusan VOC yang pada pertengahan tahun 1648 mengunjungi Mataram. Dalam Gezantschapsreizen, van Goens mencatat bahwa ia sempat melihat keraton lama di Karta dan pembangunan keraton baru di Plered dalam satu hari perjalanan. Hal ini menunjukkan bahwa jarak antara keduanya tidak terlampau jauh. Ketika itu, tembok keliling Plered telah selesai dengan dua pintu gerbang utama di utara dan selatan. Pintu utara menghadap alun-alun tempat pertandingan tombak, sedangkan pintu selatan berada dekat Sungai Opak, tanpa alun-alun pendamping.

Peta yang dilampirkan oleh Louw dalam Java-oorlog memperlihatkan bahwa bentuk kompleks keraton tidak sepenuhnya simetris, melainkan menyerupai belah ketupat. Di dalamnya terdapat lapangan dalam berlapis: Kemandungan, Srimenganti, hingga Prabayeksa—bagian paling sakral yang menjadi istana raja. Van Goens tidak mencatat adanya alun-alun selatan, yang memang mustahil mengingat kondisi geografis di sekitar Sungai Opak yang membatasi perluasan ke arah itu.

Lebih lanjut, G.P. Rouffaer pada tahun 1889 masih bisa menggambarkan reruntuhan Keraton Plered dengan cukup akurat. Ia mencatat bahwa tembok-tembok keraton setinggi lima hingga enam meter dan setebal satu setengah meter, dibangun sepenuhnya dari batu bata yang diselingi batu alam putih. Penutup dinding dibuat dari batu alam berbentuk bata lebar bersegi tiga. Bahkan jejak fondasi masjid keraton masih dapat dilacaknya di sisi utara dan barat alun-alun.

Menurut Babad Sangkala, pembangunan Masjid Agung dimulai pada tahun 1571 Jawa (15 Januari 1649 M), tetapi baru pada tahun 1577 Jawa (11 November 1654 M) istana raja Prabayeksa selesai dibangun. Penundaan yang panjang ini tidak lepas dari otoriterisme Sunan Amangkurat I. Dalam Fruin-Mees, “Kieft”, dikisahkan bahwa pada November 1655, utusan VOC Winrick Kieft tidak diberi kesempatan menghadap raja karena Sunan tengah “sangat sibuk membangun istana bersama permaisuri-permaisurinya.” Para pejabat tinggi yang menolak membantu proyek ini bahkan ditangkap dan dijemur di paseban sebagai bentuk penghukuman dan teror psikologis.

Dari catatan Daghregister VOC tertanggal 13 November 1659, diketahui bahwa tembok keraton setinggi 5 depa dan selebar 1½ depa sedang ditingkatkan dengan tambahan perisai setinggi dada. Setiap hari diadakan musyawarah untuk pengadaan bahan bangunan. Pada tahun 1589 Jawa (4 Juli 1666), tercatat bahwa Prabayeksa sempat terbakar dan segera dibangun ulang.

Sementara itu, bagian keraton lainnya juga mulai dikembangkan. Pada tahun 1572 Jawa (4 Januari 1650), pembangunan Sitinggil bagian bawah dari batu dimulai. Tahun 1574 Jawa (14 Desember 1651), bagian witana atau anjungan di Sitinggil diperbarui. Bahkan kediaman untuk putra mahkota, kemungkinan Raden Mas Kuning, dibangun sebelum tahun 1576 Jawa (22 November 1653) bersamaan dengan pencarian calon permaisuri untuknya. Tahun 1585 Jawa (15 Agustus 1662), dibangun bangsal tambahan di lapangan Srimenganti, yang menunjukkan konsistensi Sunan dalam memperluas dan mempertegas simbol arsitektur kekuasaan mutlaknya.

Perintah awal pembangunan Plered disebutkan terjadi dalam audiensi besar pada hari Senin. Dalam Babad B.P. dan Serat Kandha, Sunan memerintahkan rakyat untuk membuat batu bata sebanyak-banyaknya. Hal ini menyiratkan bahwa Karta, keraton sebelumnya yang lebih banyak menggunakan kayu, dianggap tidak tahan lama dan tidak layak lagi untuk mewakili kekuasaan dinasti. Dugaan ini diperkuat oleh pengamatan Jan Vos tahun 1624 yang menggambarkan Karta sebagai bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu. Tidak heran jika reruntuhannya hampir tak bersisa, berbeda dengan Plered yang reruntuhannya masih bisa dikenali bahkan hingga abad ke-19.

Lebih jauh lagi, Babad Sangkala menyebut bahwa pembangunan bendungan dan bangunan air di sekitar Plered sebenarnya telah dimulai sejak masa Sultan Agung, tahun 1565 Jawa (2 Maret 1643). Hal ini memperkuat anggapan bahwa Plered merupakan kelanjutan dari perencanaan jangka panjang sang ayah yang kemudian diwujudkan secara brutal oleh putranya.

Meski akhirnya Keraton Plered jatuh ke tangan pasukan Trunajaya pada 1677 dan kemudian digunakan sebagai benteng oleh Belanda dan akhirnya menjadi lokasi pabrik gula, fondasi kekuasaan yang dibangun dengan batu bata, kekerasan, dan ambisi absolut dari Sunan Amangkurat I tetap menjadi simbol dari sebuah era ketika kemegahan kerajaan harus dibayar dengan darah dan ketakutan.

Sunan Amangkurat I: Raja Absolut dari Plered yang Menantang Zaman

Dalam pusaran sejarah Jawa abad ke-17, nama Sunan Amangkurat I (1619–1677) berdiri sebagai simbol ambivalensi kekuasaan: seorang raja yang terdidik, progresif, namun juga represif dan penuh intrik. Terlahir sebagai Gusti Raden Mas Sayidin pada 24 Juni 1619 di Kotagede, ia adalah putra Sultan Agung dari permaisuri Ratu Mas Batang, sekaligus cucu Ki Ageng Juru Martani—tokoh spiritual yang meletakkan fondasi ideologis Mataram Islam.

Didikan awal Sayidin tidak hanya berlangsung di lingkungan istana, tetapi juga melalui pesantren dan padepokan yang tersebar dari Pasuruan hingga Kediri, dari Demak ke Grobogan. Bahkan, catatan lokal dan tradisi lisan menyebut ia sempat belajar sosiologi di Istanbul (1634) dan tata kota di Paris (1636), serta berhaji ke Mekkah (1638). Pendidikan luas inilah yang membentuk wawasan universalnya tentang kekuasaan, ruang, dan rakyat.

Namun, semua idealisme itu berubah ketika ia naik takhta pada 1646 dengan gelar: Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I. Penobatan itu menjadi titik balik: dari seorang murid yang haus ilmu, menjadi penguasa absolut yang mencurigai semua pihak, termasuk keluarganya sendiri.

Pada 1647, Amangkurat I memindahkan pusat kerajaan dari Karta ke Plered. “Buatlah batu bata! Aku tak mau tinggal di bekas kediaman ayahku!” sabdanya dalam Babad. Pemindahan ini bukan sekadar administratif, tetapi sebuah pernyataan ideologis: menciptakan kerajaan baru dengan sistem pertahanan alamiah—diapit Sungai Opak dan kanal buatan bernama Segara Yasa, warisan ambisi Sultan Agung yang diperbesar anaknya menjadi istana terapung di tengah danau.

Amangkurat I membangun lebih dari sekadar kraton. Ia mengembangkan industri agraris dan maritim: dari pelabuhan di Tanjung Perak dan Kodok hingga pabrik kopi di Ungaran dan Bangkalan. Ia juga mendirikan rumah sakit dan yayasan sosial. Namun, di balik pembangunan, tersimpan tirani: pembantaian ulama, pembunuhan adik kandung Pangeran Alit, dan penghukuman politik terhadap bangsawan Kajoran.

Dendam dan luka sejarah pun berujung pada tragedi. Pada 1677, pemberontakan Trunajaya, menantu Panembahan Rama dari Kajoran, menaklukkan Plered. Amangkurat I melarikan diri bersama Raden Rahmat, putra yang sempat dimusuhinya. Dalam pelarian ke barat, ia singgah di Panjer, jatuh sakit, lalu wafat di Pasiraman, Wanayasa, 13 Juli 1677. Jenazahnya disemayamkan di Tegalarum (Tegalwangi), dekat makam gurunya Ki Ageng Lembah Manah.

Ironisnya, kematian sang raja di tengah pelarian menandai penutup zaman absolutisme yang ia bangun dengan tangan besi. Namun sejarah tak melupakannya begitu saja. Dalam narasi kerakyatan, ia tetap dikenal sebagai Prabu Amangkurat Agung, penguasa yang memadukan agung dan angkara, pembaharu dan penghancur, warisan dari masa ketika raja dianggap bayangan Tuhan, dan rakyat hanya penonton dalam panggung kuasa.

_______________

Catatan Redaksi: artikel ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber


Topik

Ruang Sastra Segarayasa Sunan Amangkurat I



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri