JATIMTIMES - Pada pertengahan abad ke-16, ketika Kesultanan Pajang berdiri megah di jantung tanah Jawa, dipimpin oleh Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya, ancaman terhadap hegemoni kekuasaannya tak hanya datang dari sisa-sisa pengaruh Demak atau adipati pemberontak di pesisir utara.
Dari seberang Laut Jawa, sebuah kekuatan baru mulai mengkristal: Kerajaan Arosbaya di Madura. Dipimpin oleh seorang panembahan karismatik bergelar Lemah Duwur, kekuasaan Arosbaya menjelma menjadi poros baru dalam politik Jawa-Madura, menyulut api persaingan yang menembus batas selat dan menyusup ke dalam denyut nadi kekuasaan Pajang.
Baca Juga : Osing Kemiren Jaga Erat Ritual Tumpeng Sewu Banyuwangi
Pada perempat ketiga abad ke-16, pulau Madura, yang sebelumnya hanya dianggap sebagai wilayah satelit dalam orbit kekuasaan Majapahit dan kemudian Demak, tiba-tiba muncul sebagai kekuatan mandiri dengan daya cengkeram regional yang cukup menonjol.
Adalah Panembahan Lemah Duwur, sosok aristokrat Madura yang namanya kerap terlewatkan dalam arus utama historiografi Jawa, namun justru memainkan peran krusial dalam kontestasi kekuasaan di kawasan Jawa Timur, melibatkan kerajaan-kerajaan besar seperti Demak, Pajang, dan kekuatan-kekuatan pesisir lainnya. Ia adalah figur yang tidak hanya mencerminkan kemerdekaan politik Madura, tetapi juga representasi dari dinamika kekuasaan lokal yang mampu bersaing dengan pusat kekuasaan Jawa Tengah.
Menurut catatan Hageman dalam "Handleiding," yang meskipun bersumber dari bahan sekunder yang telah keruh namun mengandung nilai historis karena mengakses naskah-naskah Jawa yang kini mungkin telah hilang, Panembahan Lemah Duwur adalah penguasa Madura antara tahun 1531 hingga 1592. Jika benar, maka ia memegang tampuk kekuasaan selama lebih dari enam dekade—sebuah durasi pemerintahan yang jarang dijumpai dalam sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara.
Dari sumber yang sama pula kita memperoleh gambaran bahwa wilayah kekuasaan Panembahan ini mencakup Madura, Sumenep, Sidayu, Gresik, hingga Pasuruan. Artinya, ia berhasil memproyeksikan kekuasaan Madura melintasi Selat Madura hingga ke daratan utama Pulau Jawa, dan menguasai sebagian besar pesisir utara dan timur pulau tersebut.
Penuturan Raffles dalam "History of Java" mengafirmasi informasi dari Hageman. Ia menyebut bahwa penguasa Madura pada masa itu adalah menantu dari Sultan Trenggana, raja besar Demak yang meninggal dalam ekspedisi ke Pasuruan sekitar 1546. Hubungan perkawinan ini, jika benar adanya, memperkuat posisi Panembahan Lemah Duwur dalam kancah kekuasaan regional.
Ia bukan hanya penguasa lokal Madura, tetapi juga bagian dari jaringan aristokrasi tinggi Jawa. Pernikahannya dengan putri Sultan Trenggana membuka kemungkinan bahwa ekspansi Madura ke daratan Jawa bukanlah semata-mata hasil penaklukan militer, melainkan juga buah dari strategi aliansi dinastik yang cermat.
Namun, di tengah pengakuan akan kejayaan Lemah Duwur, kita tidak dapat mengabaikan nuansa keraguan dari sumber-sumber kontemporer lainnya. W. Palmer van den Broek dalam tulisannya mengenai Madura menyatakan bahwa kekuasaan Lemah Duwur bahkan menjangkau Malaya dan Balega.
Akan tetapi, ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai wilayah-wilayah di Jawa yang diklaim berada di bawah kekuasaan Madura. Lebih lanjut, nama Lemah Duwur tidak muncul dalam daftar nenek moyang Trunajaya dalam "Opkomst van het Nederlandsche Gezag in Oost-Indië" karya de Jonge. Hal ini mengindikasikan kemungkinan bahwa kekuasaan Madura di Jawa bersifat temporer dan kemudian direbut kembali oleh kekuatan lain, yakni Pajang.
Hageman sendiri, dalam bagian lain dari "Handleiding," menyebut bahwa Pajang berhasil merebut kembali daerah-daerah di Jawa Timur yang sebelumnya sempat berada di bawah kendali Madura. Perebutan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi menandai peneguhan kembali supremasi kekuasaan pusat atas daerah-daerah pesisir timur yang strategis.
Dalam narasi ini, Madura digambarkan sebagai kekuatan maritim yang agresif, tetapi tidak cukup kuat untuk mempertahankan daerah taklukannya dalam jangka panjang. Pajang, sebagai penerus Demak dan pemegang otoritas politik di pedalaman Jawa Tengah, berhasil melakukan konsolidasi dan ekspansi yang mengembalikan hegemoni Jawa Tengah atas wilayah timur.
Dalam konflik tersembunyi antara Madura dan Pajang ini, kita melihat dinamika kompleks antara kekuatan-kekuatan regional di Jawa abad ke-16. Panembahan Lemah Duwur, dengan segala keunggulannya, menghadapi tantangan dari Pajang yang lebih terstruktur secara politik dan didukung oleh jaringan birokrasi serta militer warisan Demak. Meskipun Madura mampu mempertahankan kemerdekaannya secara internal, wilayah-wilayah taklukan di Jawa tidak sepenuhnya stabil dan dengan cepat berpindah tangan ketika Pajang mengonsolidasikan kekuatannya.
Padmasoesastra, dalam "Sadjarah," memberikan petunjuk lain yang memperkuat relasi dinastik antara Lemah Duwur dan kerajaan-kerajaan besar Jawa. Disebutkan bahwa Lemah Duwur memiliki lima belas anak, dua di antaranya diketahui menikah dengan tokoh-tokoh penting, termasuk salah satunya yang menikah dengan putri Pajang. Hal ini menunjukkan bahwa Lemah Duwur tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga menjalin aliansi kekerabatan untuk mempertahankan pengaruh politiknya di tengah arus kekuasaan yang terus berubah.
Namun, tak dapat dipungkiri bahwa sejarah mencatat Pajang sebagai kekuatan pemenang dalam perebutan wilayah Jawa Timur. Sumber-sumber Eropa seperti Couto dalam "Da Asia" turut menyinggung Madura, namun tidak memberikan rincian yang cukup mengenai nasib akhir Lemah Duwur dalam perseteruannya dengan Pajang.
Yang jelas, meskipun Madura kehilangan beberapa wilayah penting di pesisir Jawa, ia tetap mempertahankan kemerdekaan internalnya. Lemah Duwur, dalam kapasitasnya sebagai penguasa, mungkin kalah dalam ekspansi eksternal, tetapi tetap menjadi lambang otonomi Madura dari intervensi kekuatan luar hingga akhir hayatnya.
Penutup dari Hageman cukup menggugah: "Sebagian besar daerah pesisir tersebut di atas semula dikuasai Madura, yang tetap dapat mempertahankan kemerdekaannya." Pernyataan ini, meski singkat, mengandung makna yang dalam. Ia menegaskan bahwa dalam pergelutan kekuasaan abad ke-16 antara kekuatan lokal seperti Madura dan pusat kekuasaan seperti Pajang, kemenangan bukanlah semata-mata ditentukan oleh perluasan wilayah, tetapi juga oleh kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan internal dari tekanan eksternal.
Dengan demikian, kisah Panembahan Lemah Duwur bukan sekadar kisah tentang penguasa daerah yang mencoba melebarkan sayapnya. Ia adalah cermin dari resistensi lokal, diplomasi dinastik, dan semangat kemerdekaan di tengah badai perebutan kekuasaan yang menyapu tanah Jawa pada abad keenam belas. Dalam gemuruh sejarah besar antara Pajang, Demak, dan kekuatan pesisir lain, Madura berdiri sebagai kekuatan yang menolak tunduk sepenuhnya. Sebuah bab penting yang sering kali terlewatkan dalam narasi besar sejarah Jawa.
Panembahan Lemah Duwur: Raja Madura Barat dan Cikal-Bakal Trunajaya
Madura pada abad ke-15 bukan sekadar pulau garam dan selat penuh pelaut, tetapi juga teater kekuasaan dari sejumlah kerajaan kecil yang saling bersaing. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut, Arosbaya berdiri sebagai pionir dalam menerima Islam, jauh sebelum Sumenep dan Pamekasan menggaungkan azan dari puncak-puncak menara mereka.
Didirikan oleh Kiai Demang Plakaran di Keraton Anyar, Arosbaya menjadi embrio kekuasaan Islam pertama di pulau ini. Sosok Demang Plakaran bukan tokoh sembarangan. Ia adalah keturunan Prabu Brawijaya V dari jalur Ario Damar di Palembang. Dalam silsilah Madura Barat, Demang Plakaran juga disebut sebagai trah dari Sunan Giri I, Sayyid Ainul Yaqin. Dengan demikian, darah Majapahit dan semangat dakwah Walisongo bersatu dalam sosoknya. Dari kedua jalur inilah lahir karakter unik Arosbaya sebagai kerajaan yang berdiri di simpang antara kekuasaan dan keulamaan.
Setelah wafatnya Demang Plakaran, tampuk kekuasaan jatuh ke tangan putranya: Kiai Pragalba alias Pangeran Arosbaya. Ia memerintah dengan tetap menjaga warisan Jawa Kawi Majapahit dalam tata bahasa dan adat istiadat. Namun yang paling monumental terjadi pada masa putranya, Raden Pratanu, yang kelak dikenal dengan gelar Panembahan Lemah Duwur.
Panembahan Lemah Duwur menorehkan prestasi besar dengan memindahkan pusat pemerintahan dari dataran rendah Plakaran ke punggung bukit Arosbaya, sebuah langkah strategis yang memberi nama "Lemah Duwur" (tanah tinggi). Di sinilah berdiri kraton baru sebagai simbol orientasi baru: bukan hanya politik keagamaan, tetapi juga kebangkitan kekuatan maritim dan dagang.
Pemerintahannya bersamaan dengan bangkitnya Jaka Tingkir di Pajang, yang tak lain adalah menantu Sultan Trenggana dari Demak. Aliansi ini bukan hanya simbolik. Menurut catatan silsilah, Lemah Duwur menikah dengan putri Jaka Tingkir. Maka dari itu, Arosbaya menjadi simpul kekerabatan antara Madura, Demak, dan Pajang — sebuah tritunggal politik pasca-Majapahit.
Lemah Duwur bukan hanya raja, tapi pemimpin spiritual. Di bawah kepemimpinannya, Islamisasi meluas dengan cepat dari pesisir barat Madura ke pelabuhan-pelabuhan utama di Jawa Timur, seperti Gresik dan Tuban. Catatan arkeologi dan kajian cagar budaya menyebutkan makam-makam raja Arosbaya, terutama Kiai Pragalba, dihiasi batuan mirip batu candi Jawa — mengisyaratkan persinggungan kuat antara budaya Hindu-Jawa dan Islam.
Pelabuhan Arosbaya menjelma sebagai titik sandar utama perahu-perahu saudagar Muslim dari seluruh pesisir utara Jawa. Dengan kekuatan armada dagang dan jaringan ulama, Arosbaya menciptakan keseimbangan antara spiritualitas dan kapitalisme dagang — sebuah struktur yang menjadi fondasi kekuatan Panembahan Lemah Duwur.
Sepeninggal Panembahan Lemah Duwur, tampuk kekuasaan Kerajaan Arosbaya diteruskan oleh putranya, Raden Koro—yang lebih dikenal dengan gelar Pangeran Tengah (1592–1624). Ia menjadi penguasa terakhir yang mewarisi kejayaan Islam di Madura Barat sebelum gelombang ekspansi Mataram menggulung dari arah barat.
Pada tahun 1624, dalam ambisi besarnya untuk menguasai pesisir utara Jawa dan kawasan timur, Sultan Agung melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Surabaya dan sekitarnya. Dalam gempuran ini, Arosbaya ikut menjadi sasaran. Kota itu dihancurkan. Madura Barat pun ditaklukkan. Maka berakhirlah riwayat kerajaan Islam pertama di tanah Madura.
Baca Juga : Raffi Ahmad Dorong Santri Kediri Viralkan Kebaikan Pondok Pesantren
Namun kisah Arosbaya tidak berakhir begitu saja. Seorang pewaris kerajaan masih hidup—Raden Prasena, putra Pangeran Tengah. Setelah penaklukan, ia tidak dibunuh, melainkan dibawa ke Mataram. Di sana, Sultan Agung mengangkatnya sebagai anak dan sekaligus menjadikannya menantu. Melalui garis keturunannya inilah, kelak lahir seorang pemberontak besar dari timur yang mengguncang tahta Mataram: Raden Trunajaya.
Trunajaya adalah putra Raden Malayakusuma, cucu dari Pangeran Tengah, serta cicit dari Panembahan Lemah Duwur. Ayahnya, Raden Malayakusuma, wafat saat terjadi pemberontakan Pangeran Alit di Kraton Plered.
Lahir di tengah krisis politik pasca-invasi Mataram, Trunajaya tumbuh dalam dunia yang menindas bangsanya. Ia mewarisi trauma kekalahan dan dendam atas kehancuran tanah leluhurnya. Dari garis nasab ini, Trunajaya menyerap bukan hanya darah biru, tetapi juga semangat jihad dan perlawanan.
Antara 1670–1672, Trunajaya memulai fase politiknya dengan membangun kembali basis kekuasaan di Madura. Penulis menyebut periode ini sebagai “Tahun-Tahun Api”, ketika struktur kekuasaan lokal mulai bergeser drastis, dan Trunajaya muncul sebagai pemimpin oposisi paling berbahaya bagi Dinasti Mataram. Dalam lukisan ideologisnya, Trunajaya bukan sekadar pemberontak, tetapi pewaris yang sah dari Arosbaya yang telah dirampas. Ia tidak datang dari kekosongan sejarah, tetapi dari akar dalam — akar yang tertanam dalam dinasti Lemah Duwur dan sejarah Islam awal Madura.
Historiografi Kerajaan Arosbaya menantang dikotomi pusat dan pinggiran dalam sejarah Jawa. Jika selama ini pusat diposisikan di Yogyakarta atau Surakarta, maka Arosbaya membuktikan bahwa pinggiran pun memiliki struktur kekuasaan, silsilah agung, dan strategi politik yang tajam. Arosbaya tidak inferior terhadap Demak maupun Pajang. Bahkan, ia menjalin persekutuan darah dengan keduanya.
Dalam pembacaan pascakolonial, kehancuran Arosbaya oleh Mataram bisa dibaca sebagai bagian dari konsolidasi kekuasaan sentralistik yang mencabut otonomi daerah-daerah Islam lokal. Trunajaya — yang lahir dari luka itu — menjadi simbol oposisi yang muncul dari keturunan kerajaan yang dikalahkan.
Hari ini, reruntuhan makam dan batu merah Arosbaya masih bertengger di Bukit Poteh. Mereka adalah saksi bisu kejayaan masa lalu dan kegagalan narasi pusat dalam merangkul sejarah pinggiran. Dari batu itu pula Trunajaya memungut bara dan menyulut api. Bukan sekadar pemberontakan, tetapi sebuah ikhtiar mengembalikan marwah leluhur: dari Lemah Duwur ke takhta Islam Madura yang berdaulat.
Darah Panembahan Lemah Duwur dalam Tubuh Diponegoro: Jejak Madura dalam Darah Mataram
Ketika nama Trunajaya disebut sebagai ikon perlawanan rakyat Madura terhadap hegemoni Mataram dan kekuasaan VOC pada akhir abad ke-17, sebuah nama lain yang lebih tua kerap luput dari ingatan sejarah: Panembahan Lemah Duwur. Sosok ini bukan hanya penguasa penting di Madura Barat pada awal abad ke-17, tetapi juga leluhur dari para bangsawan utama yang membentuk struktur aristokrasi Madura hingga menjalin ikatan pernikahan dengan keluarga inti Kesultanan Yogyakarta.
Di ujung kisah panjang silsilah inilah lahir Pangeran Diponegoro, pemimpin revolusioner Jawa yang mengguncang kekuasaan kolonial Belanda dalam Perang Jawa (1825–1830). Maka, sejarah sang pangeran tidak semata kisah Mataram, tetapi juga kisah Madura, dan bahkan jejak terakhir Majapahit.
Jejak ini tercatat dalam sebuah buku langka berjudul Sadjarah Pangeran Dipanegara, ditulis dalam bahasa Jawa oleh Raden Tanoyo dan diterbitkan oleh Trimurti, Surabaya, pada dekade 1950-an. Buku ini menyuguhkan narasi silsilah yang jarang disentuh dalam historiografi arus utama: bahwa Diponegoro merupakan keturunan langsung Panembahan Lemah Duwur, tokoh penting dari Madura yang merupakan cucu buyut Arya Damar—putra Prabu Brawijaya V, raja Majapahit yang membuka jalan bagi penyebaran Islam di tanah Jawa.
Di dalam catatan Tanoyo, akar silsilah ini bermula dari Prabu Brawijaya V, raja Majapahit yang dalam tradisi babad Jawa dikenal memiliki banyak keturunan dari berbagai selir dan permaisuri. Salah satu putranya adalah Arya Damar, yang kemudian menjabat sebagai Bupati Palembang. Dari Arya Damar inilah dimulai garis keturunan yang kelak membentuk aristokrasi Islam awal di Madura.
Arya Damar memiliki putra bernama Arya Menak Sunaya, yang bermigrasi dan menetap di Pamekasan, Madura. Ia merupakan bagian dari arus pergeseran pusat-pusat kekuasaan setelah keruntuhan Majapahit dan Islamisasi pesisir utara Jawa. Dari keturunan Menak Sunaya lahirlah Arya Timbul, yang kemudian menurunkan Arya Kedot. Sosok Arya Kedot ini meneruskan garis trah melalui Arya Pojok, seorang tokoh penting yang menancapkan pengaruhnya di Sampang, Madura.
Arya Pojok memiliki putra bernama Ki Demung, yang menetap di Palakaran, salah satu wilayah strategis di Madura. Ki Demung inilah yang kemudian menurunkan Pangeran Ageng, seorang bangsawan Madura yang menetap di Arosbaya—daerah yang pada masa itu menjadi salah satu pusat kekuatan Islam lokal di Madura Barat.
Pangeran Ageng melahirkan Panembahan Lemah Duwur, tokoh sentral dalam narasi ini. Ia bukan hanya penguasa lokal yang berdaulat, tetapi juga merupakan bagian dari elite spiritual dan politik yang merajut transisi antara masa Hindu-Buddha dan Islam. Panembahan Lemah Duwur menjadi simbol aristokrasi Islam yang berakar pada darah Majapahit.
Sepeninggalnya, kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Pangeran Tengah, yang memerintah Arosbaya hingga invasi besar Mataram pada 1624. Dalam ekspedisi militer besar-besaran yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung, Madura Barat berhasil ditaklukkan dan dijadikan bagian dari struktur kekuasaan Mataram. Dalam proses itu, sebagian keluarga Pangeran Tengah dibawa ke Mataram, termasuk seorang anaknya bernama Raden Prasena—yang kelak dikenal sebagai Pangeran Cakraningrat I.
Pangeran Cakraningrat I memegang peranan penting dalam sejarah Madura sebagai pemimpin pertama dinasti Cakraningrat di Sampang. Dari garis inilah lahir Pangeran Cakraningrat II, tokoh yang memainkan peran strategis dalam hubungan politik antara Madura dan Mataram. Ia memiliki seorang putra bernama Arya Purwonegoro, yang mewarisi kedudukan bangsawan tinggi di lingkungan keraton Madura.
Arya Purwonegoro menurunkan Tumenggung Sosrowinoto, seorang pejabat tinggi yang kemudian menjadi ayah dari Adipati Purwodiningrat, Bupati Magetan. Garis ini terus berkelindan dalam jaringan aristokrasi hingga akhirnya berlabuh ke jantung politik Yogyakarta. Adipati Purwodiningrat memiliki seorang putri yang dinikahkan dengan Sultan Hamengkubuwono II. Dalam lingkungan keraton, perempuan ini bergelar Ratu Kedaton, menempati posisi tinggi dalam struktur kekuasaan dan kehormatan Kesultanan Yogyakarta.
Dari pernikahan Ratu Kedaton dan Sultan Hamengkubuwono II, lahirlah Sultan Hamengkubuwono III. Ia adalah ayah kandung dari Pangeran Diponegoro, tokoh utama dalam perlawanan bersenjata paling besar dalam sejarah kolonialisme Belanda di Jawa.
Maka, dalam diri Diponegoro mengalir darah dari dua dunia besar yang sering dianggap terpisah: Mataram dan Madura. Ia bukan hanya cucu Sultan, tetapi juga cicit dari Panembahan Lemah Duwur, bangsawan Madura keturunan Arya Damar, anak Prabu Brawijaya V. Garis ini menunjukkan bahwa perjuangan Diponegoro bukan sekadar warisan Mataram, tetapi juga pancaran semangat leluhur Majapahit dan Madura yang melawan dominasi luar dengan cara dan konteks masing-masing.
Kisah ini memberi dimensi baru dalam memahami latar belakang Pangeran Diponegoro. Ia bukan sekadar pewaris tahta yang kecewa oleh intrik keraton atau koloni, melainkan juga perwujudan dari satu garis panjang darah yang sejak era Majapahit, melalui Palembang, Madura, hingga Yogyakarta, terus mewariskan benih perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap menindas.
Diponegoro adalah simbol dari sintesis dua kekuatan lama: spiritualitas keraton dan keberanian pesisir. Dalam tubuhnya, sejarah Majapahit, Islamisasi Jawa, dan semangat perlawanan Madura bertemu dalam satu nama: Diponegoro.
