free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Ruang Sastra

Menantu Kajoran, Musuh Mataram: Raden Trunojoyo dan Revolusi Pinggiran

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

27 - May - 2025, 16:02

Placeholder
Pertemuan bersejarah dua tokoh utama perlawanan abad ke-17: Raden Trunojoyo dan Raden Kajoran, digambarkan dalam lukisan realis bergaya cat minyak di atas kanvas. (Foto: Ilustrasi AI dibuat oleh JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di jantung sejarah Jawa abad ke-17, terukir sebuah episode penuh konflik, pengkhianatan, dan ambisi politik yang melibatkan tiga pusat kekuasaan besar: Mataram, Madura, dan para elite ulama-pemimpin karismatik seperti Raden Kajoran. Dari antara mereka, berdiri seorang tokoh yang mengguncang jagat politik Jawa—Raden Trunojoyo, yang juga dikenal sebagai Trunajaya. 

Bukan sekadar bangsawan Madura, Trunojoyo adalah menantu spiritual dan politik Raden Kajoran, tokoh tarekat yang disegani dan sangat kritis terhadap dekadensi istana Mataram. Artikel yang merangkum berbagai sumber ini menyajikan sebuah narasi historiografi mendalam tentang latar belakang, jaringan kekuasaan, serta posisi Raden Trunojoyo dalam peta politik Jawa menjelang dan selama pecahnya pemberontakan besar tahun 1670-an.

Baca Juga : 8 Hotel Staycation Terbaik di Malang untuk Liburan Singkat yang Berkualitas

 

Raden Trunojoyo lahir dari trah bangsawan Madura. Ayahandanya, Raden Demang Melaya—juga dikenal sebagai Raden Damang Malayakusuma—adalah putra dari Pangeran Magiri atau Pangeran Cakraningrat I, seorang tokoh yang wafat dalam pertempuran melawan Pangeran Alit dan dimakamkan di Imogiri. Menurut keterangan Trunojoyo sendiri kepada utusan Belanda, Piero, pada 10 Februari 1667. Silsilah ini ia sampaikan secara langsung, kemungkinan besar tanpa distorsi berarti karena masih dekat dengan peristiwa dan figur yang disebut.Namun, Raden Demang Malayakusuma, sang ayah, bukanlah penguasa Madura. Kekuasaan atas Madura jatuh ke tangan paman Trunojoyo, Adipati Cakraningrat II. 

Pada awalnya, Raden Trunojoyo, putra dari bangsawan Madura yang tersisih, berupaya membangun karier politiknya melalui jalur resmi. Ia mencoba mengabdi kepada sang matahari yang tengah naik, Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Mataram. Namun niatnya ini kandas. Upayanya diremuk bukan oleh kekuatan terang-terangan, melainkan oleh intrik kelam dari Adipati Sampang, seorang bangsawan Madura yang lebih dahulu bersarang di pusat kekuasaan Mataram.

Menurut catatan dari majalah Djawa (Djawa XX, hlm. 160), Trunojoyo menulis langsung kepada sang putra mahkota, mengutarakan niat tulusnya untuk menjadi abdi dan prajurit. Namun, seperti keluhnya, “jalan hamba ke sana dipotong oleh Adipati Sampang, karena ia telah menyuap semua mantri Mataram, bahkan putra-putra Sunan.” Intrik Adipati Sampang yang “ahli licik” berhasil menutup semua akses politik bagi Trunojoyo. Ia bukan saja dihalangi untuk bertemu sang putra mahkota, tetapi juga dijauhkan dari ruang lingkup kekuasaan secara sistematis.

Kecewa dan terpinggirkan, Trunojoyo memilih jalur oposisi. Ia menjadi seorang buangan politik yang tidak mempunyai tempat tinggal pasti dan mengembara tanpa tujuan. Namun masa gelap ini tidak berlangsung lama. Ia menemukan perlindungan, dan lebih dari itu, kekuatan simbolik, melalui ikatan kekerabatan dengan keluarga Kajoran.

Raden Kajoran, yang dalam sumber Belanda disebut juga sebagai Panembahan Rama, adalah tokoh mistik dan ulama karismatik dari wilayah Kajoran di pesisir utara Jawa Tengah. Ia memelihara sikap ambivalen terhadap kekuasaan Mataram, dan memiliki pengaruh luas di kalangan elite keagamaan dan pesantren. Dalam suatu peristiwa penting yang dikukuhkan oleh surat resmi dari pejabat istana (Japara, 15 Maret 1677, KA. No. 1218, hlm. 1634), disebutkan bahwa “Kiai Kajoran beberapa tahun yang lalu memberikan salah seorang putrinya sebagai istri kepada Trunojoyo.” Perkawinan ini disahkan secara resmi pada 15 Maret 1677 oleh pejabat istana, Jagapati Japara (KA No. 1218, hlm. 1634). 

Perkawinan ini bukan sekadar peristiwa keluarga, tetapi aliansi politis yang bermakna strategis. Dengan menjadi menantu Raden Kajoran, Trunojoyo tak hanya memperoleh legitimasi spiritual dan sosial, tetapi juga akses kepada jaringan pendukung keagamaan dan politik yang tidak puas terhadap Mataram. Meski kemudian ia bercerai dengan putri Kajoran, tali persekutuan itu tidak terputus. Bahkan dalam dokumen Belanda bertanggal 23 Maret 1678 (Instruksi untuk Saint Martin, dalam Jonge. Opkomst, jilid VII, hlm. 198), Trunojoyo dan Raden Kajoran digambarkan masih sebagai “sekutu yang setia”.

Cerita tutur lokal pun sejalan dengan dokumentasi kolonial: hubungan mereka tetap erat. Panembahan Rama melihat Trunojoyo bukan sebagai sekadar menantu atau bekas keluarga, melainkan sebagai “pahlawan besar” yang akan mengguncangkan tatanan Jawa. Dalam imajinasi sang mertua, keruntuhan Mataram bukanlah bencana, melainkan bagian dari purifikasi kekuasaan yang telah menyimpang. Maka ketika Trunojoyo mulai menyusun kekuatan, menyerang wilayah Mataram, dan kelak merebut Plered pada 1677, Panembahan Kajoran berada di belakangnya, sebagai penasihat, pengarah spiritual, dan sekutu ideologis.

Aliansi ini pada akhirnya melampaui batas keluarga. Ia menjelma menjadi poros oposisi yang menyatukan elemen Madura, pesisir utara Jawa, dan kelompok keagamaan yang memandang Mataram sebagai pusat kekuasaan korup dan menyimpang dari nilai Islam. Gerakan Trunojoyo menjadi lebih dari pemberontakan. Ia adalah jihad politik yang digerakkan oleh kekecewaan personal, intrik istana, dan ideologi keagamaan yang dibentuk oleh para elite seperti Raden Kajoran.

Dari perspektif historiografi, kisah Trunojoyo dan Raden Kajoran mengilustrasikan bagaimana relasi personal dalam masyarakat aristokrasi Jawa mampu membentuk gerakan politik besar. Pernikahan, yang dalam budaya Jawa kerap dijadikan alat diplomasi, di sini menjadi poros perlawanan terhadap kekuasaan hegemonik. Ketika struktur kekuasaan menolak integrasi, mereka yang tersisih membangun poros kekuatan baru di pinggiran—dari pesisir dan tanah-tanah pesantren.

Trunojoyo bukan hanya pemberontak yang marah, tetapi figur yang lahir dari kekecewaan sistemik dan didukung oleh aliansi strategis. Ia adalah contoh sempurna dari bagaimana marginalisasi dalam struktur feodal Jawa bisa melahirkan revolusi. Dalam hal ini, peran Panembahan Kajoran sebagai mertua dan pendukung ideologis menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar orang tua, tetapi sang guru politik yang membekali Trunojoyo dengan legitimasi, visi, dan arah perjuangan.

Dengan demikian, kisah Trunojoyo dan Raden Kajoran adalah bukti bahwa sejarah Jawa bukan hanya disusun dari perang dan istana, tetapi juga dari relasi afektif dan kultural yang menyulut api perubahan. Dalam bayang-bayang pernikahan yang gagal, lahirlah sebuah gerakan yang mengubah arah sejarah.

Persekutuan Rahasia dengan Putra Mahkota: Bukti Dokumen dan Surat Menyurat

Keterlibatan langsung Pangeran Adipati Anom dalam pemberontakan Trunojoyo telah lama menjadi isu kontroversial dalam historiografi Mataram. Meskipun sumber Belanda pada awalnya tidak mengungkap secara eksplisit hubungan ini, dokumen-dokumen Kompeni mulai mengindikasikan adanya koalisi rahasia.

Laporan resmi Kompeni pada 5 Juli 1677 menyebutkan bahwa putra mahkota secara diam-diam merencanakan kejahatan dan menjalin korespondensi dengan Pangeran Madura (Trunojoyo), memberikan kesempatan untuk menyerang pemerintah pusat (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 167). Surat terakhir Trunojoyo kepada para komplotannya juga mengonfirmasi adanya perjanjian rahasia tersebut (Djawa XX 1940, hlm. 160).

Pada 12 Juni 1671, Daghregister memuat berita desas-desus di Jepara yang menuding Pangeran Madura (Trunojoyo) dan tokoh istana lainnya, termasuk Pangeran Purbaya, telah melakukan komplotan untuk menjatuhkan Raja dari tahtanya dengan kekuatan senjata (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 194-195). Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan pemberontak dengan putra mahkota bukan sekadar hubungan personal, tetapi berbentuk persekongkolan politik strategis yang dirancang untuk merebut kekuasaan.

Pada masa itu, ketegangan antara putra mahkota dan ayahnya, Amangkurat I, telah mencapai puncak. Pengangkatan Pangeran Singasari sebagai penguasa Surabaya (1670) dapat dipandang sebagai bagian dari strategi politik Pangeran Adipati Anom untuk memperkuat pengaruhnya di Jawa Timur. Dengan adanya wakil di Surabaya, hubungan Adipati Anom dengan Trunojoyo yang berkuasa di Madura menjadi lebih mudah terjalin.

Dalam keterangan Belanda disebutkan bahwa ada dugaan "perjanjian rahasia" yang dibuat beberapa waktu sebelum Juni 1671, kemungkinan tahun 1670, saat konflik internal keraton memanas (Laporan Umum 15 Juli 1671, Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 167). Perjanjian ini bertujuan menyiapkan pemberontakan bersenjata sebagai alat untuk menggulingkan Amangkurat I.

Dokumen Kompeni dan cerita tutur mengindikasikan bahwa dalam perjanjian rahasia ini, Trunojoyo mendapat janji kekuasaan atas daerah-daerah tertentu, terutama wilayah pantai timur Lasem dan pedalaman timur Majapahit (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 198). Penjanjian pembagian wilayah ini mencerminkan bahwa pemberontakan Trunojoyo bukan hanya aksi separatis, tetapi bagian dari strategi lebih besar yang didukung oleh faksi internal keraton.

Konflik mulai terbuka pasca pertempuran di Gegodog pada 13 Oktober 1676. Trunojoyo, yang sebelumnya memohon agar diizinkan memerintah Madura sesuai hak leluhurnya, mulai menunjukkan taring militernya. Ia menulis surat kepada Tumenggung Suranata (9 Januari 1679), menegaskan keinginannya memegang kekuasaan di Madura (Opkomst VII, hlm. 255). Surat ini bisa ditafsirkan sebagai upaya mengingatkan perjanjian lama dengan Adipati Anom.

Trunojoyo juga menulis surat kepada sekutu lamanya, yang telah diangkat menjadi sunan Amangkurat II, dari persembunyian di Malang, menyatakan bahwa ia tidak dapat kembali ke Madura karena "ada sesuatu yang sedang diusahakan" di hadapan Sri Baginda (Djawa XX, hlm. 30). Ini menunjukkan bahwa rencana pemberontakan melibatkan taktik politik yang kompleks, dengan memperhitungkan dinamika kekuasaan di istana.

Jalan Berdarah Menuju Takhta Amangkurat II

Kudeta politik yang akhirnya menumbangkan Sunan Amangkurat I tidak bisa dilepaskan dari peran konspiratif Adipati Anom bersama Raden Trunojoyo dan Raden Kajoran. Dari upaya diplomatik yang digagalkan oleh Adipati Sampang, hingga persekutuan rahasia yang terjalin dalam kegelapan istana, episode ini menggambarkan pergolakan internal Mataram yang nyaris epik.

Adipati Anom memainkan politik dua muka: ia membiarkan Trunojoyo mengguncang takhta ayahandanya, sembari menunggu saat tepat untuk merebut kekuasaan. Setelah kematian Amangkurat I pada 1677, ia naik takhta sebagai Amangkurat II dengan dukungan VOC, menghapus jejak konspirasi yang membawanya ke puncak. Sementara itu, Trunojoyo yang telah berjasa dalam mengguncang istana, akhirnya dianggap musuh dan diburu.

Baca Juga : Penjaga Perlintasan Kereta Api di Magetan jadi Tersangka Kecelakaan Maut KA Malioboro Ekspres

 

Sejarah mencatat bahwa dalam pusaran kekuasaan, tidak ada loyalitas abadi. Trunojoyo, dari seorang pengabdi yang ditolak, menjadi pemberontak yang mengguncang Jawa, dan akhirnya menjadi korban politik yang ia bantu bangun. Dan Adipati Anom, dari sang putra mahkota yang tersingkir, menjadi penguasa yang mengamankan kekuasaan dengan darah dan intrik.

Raden Trunojoyo bukan hanya nama dalam sejarah, melainkan representasi dari krisis besar dalam tubuh Mataram: konflik antara dinasti, pertarungan otoritas pusat dan daerah, serta pengkhianatan yang menyelimuti relasi kekuasaan. Melalui persekutuannya dengan Raden Kajoran, ia membangun basis kekuatan alternatif yang hampir menggulingkan pusat kekuasaan Jawa. Tetapi seperti banyak pemberontakan bangsawan lainnya, akhir kisahnya tragis.

Ketika istana Mataram di Plered jatuh pada pertengahan 1677, Amangkurat I melarikan diri ke arah barat, dikawal kecil pasukan setia. Ia wafat dalam pelarian di Tegal, Jawa Tengah, pada bulan Juli tahun yang sama. Jenazahnya dikuburkan secara diam-diam di Tegal Arum, tanpa upacara kenegaraan, pertanda keruntuhan simbolis kekuasaan absolut Mataram lama.

Kini, sang putra mahkota dihadapkan pada paradoks sejarah: pemuda yang pernah menjadi sponsor revolusi rakyat kini harus menjadi algojo yang menumpasnya. Dalam upaya membangun kembali legitimasi kekuasaan, Amangkurat II memilih berpaling pada kekuatan kolonial yang sebelumnya menjadi musuh utama leluhurnya. Pada 10 Oktober 1677, ia menandatangani Perjanjian Jepara dengan VOC: memberikan konsesi besar atas wilayah pesisir utara Jawa—termasuk Jepara, Semarang, Tuban, dan Gresik—sebagai ganti bantuan militer Belanda untuk memadamkan pemberontakan Trunojoyo.

Meski nama Trunojoyo sering disebut sebagai tokoh utama pemberontakan terhadap Mataram, perhatian Belanda justru tertuju pada sosok lain yang dianggap lebih berbahaya: Raden Kajoran. Bagi Cornelis Speelman dan para petinggi VOC, otak di balik serangan dahsyat ke pusat kekuasaan Mataram pada 1677 bukanlah Trunojoyo semata, melainkan Kajoran—ulama kharismatik sekaligus penggerak utama yang mendorong pasukan pemberontak untuk berpencar, mengepung, dan mengguncang jantung kerajaan.

Setelah Kediri jatuh ke tangan pasukan gabungan VOC-Mataram pada November 1678, Kajoran tak menyerah. Ia mundur ke pedalaman Jawa Tengah dan membangun pangkalan baru di Mlambang—sebuah wilayah yang kini termasuk Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Di sana, ia menjalin persekutuan strategis dengan Raja Namrud, seorang panglima perang asal Makassar yang aktif di kawasan tersebut. Aliansi itu terbukti solid; antara April hingga Agustus 1679, mereka berhasil mencatat sejumlah kemenangan di berbagai titik di Jawa Tengah.

Namun, masa kejayaan itu tak berlangsung lama. Pada 14 September 1679, pasukan gabungan VOC dan Mataram yang dipimpin Kapten Jan Albert Sloot bersama tokoh Mataram, Sindu Reja, melancarkan serangan besar-besaran ke benteng pertahanan Kajoran di Mlambang. Pertempuran itu berakhir dengan kekalahan pihak Kajoran. Ia ditangkap dan akhirnya menyerah.

Namun, penyerahan itu tak menjamin keselamatan. Speelman, melalui Sloot, memerintahkan eksekusi atas diri Raden Kajoran. Karena wibawanya yang besar dan dihormati luas di kalangan bangsawan dan ulama Jawa, tak ada satu pun pemimpin lokal yang berani menjalankan hukuman itu. Maka, perintah terakhir pun jatuh kepada pasukan Bugis—yang dengan berat hati menjalankan tugas tersebut, menandai akhir dari satu babak penting dalam perlawanan terhadap kekuasaan Mataram yang didukung VOC.

Pasukan gabungan Mataram–VOC bergerak cepat. Di bawah komando Kapitein Francois Tack, ekspedisi militer menargetkan basis-basis pertahanan Trunajaya di wilayah pedalaman Jawa Timur. Mojokerto dan Kediri menjadi arena pertempuran sengit. Medan lereng Gunung Kelud, dengan kabut tebal dan jalur sempit, menjadi medan tempur berdarah antara pasukan bayaran Belanda dan laskar pribumi Madura yang bersumpah setia kepada Trunojoyo.

Setelah hampir dua tahun bergerilya, basis terakhir Trunojoyo di Bukit Selokurung, wilayah Blitar–Kediri, akhirnya jatuh. Pada 27 Desember 1679, Trunojoyo ditangkap dalam keadaan lelah dan terkepung. Tidak ada laporan perlawanan. Ia ditawan hidup-hidup dan dibawa ke istana bayangan Mataram di Payak, Bantul—markas baru Amangkurat II setelah jatuhnya Plered.

Pada pagi hari 2 Januari 1680, di aula istana darurat Payak yang dibangun dari bambu dan ilalang, dilangsungkan peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan sejarah Jawa. Trunajaya dihadapkan kepada raja yang dulu menjadi sekutunya. Namun tak ada pengadilan. Tak ada proses hukum. Yang terjadi adalah sebuah ritual kekuasaan.

Amangkurat II, dalam balutan busana kebesaran, mengambil keris pusaka Kyai Balabar. Di hadapan para punggawa, bangsawan, dan utusan VOC, ia menusukkan keris itu ke dada Trunojoyo—sebuah tindakan simbolik penaklukan total. Namun kekerasan tidak berhenti di situ. Tubuh Trunajaya dipenggal. Kepalanya ditumbuk hingga remuk. Dalam versi narasi rakyat Madura, jantungnya dipotong dan dimakan mentah oleh abdi dalem istana sebagai simbol peralihan kekuatan, dominasi mutlak, dan peneguhan kekuasaan.

Tindakan ini bukan hanya pembunuhan. Ia adalah mise en scène, pertunjukan kekuasaan di tengah krisis legitimasi, baik terhadap rakyat Mataram sendiri maupun terhadap VOC yang menuntut balas dendam atas penghinaan Trunajaya terhadap benteng dan perwira mereka di Surabaya, Pasuruan, dan Gresik.

Meski Trunojoyo telah dieliminasi secara brutal, kemenangan itu terasa hampa. Perjanjian dengan VOC telah mengubah wajah kekuasaan Jawa. Wilayah-wilayah pesisir, yang sejak era Majapahit menjadi urat nadi perdagangan dan kekuatan ekonomi kerajaan, kini sepenuhnya dikendalikan oleh Belanda. Istana Mataram menjadi istana bayangan yang terikat utang militer dan politik kepada kekuatan kolonial.

Tak ada catatan resmi mengenai di mana Trunajaya dimakamkan. VOC sendiri tidak mencatat penguburan tubuhnya. Beberapa tradisi rakyat menyebutkan bahwa jasadnya diam-diam diselamatkan oleh pengikut setianya dan dikubur di suatu tempat yang dirahasiakan. Versi lain menyatakan bahwa tubuhnya dibuang ke sungai sebagai penghinaan terakhir—penghapusan simbol dari tubuh sejarah.

Namun justru dalam ketidakhadiran makam, dalam senyapnya jejak fisik, Trunojoyo hidup dalam memori kolektif masyarakat Jawa dan Madura. Ia bukan sekadar pemberontak. Ia adalah simbol penolakan terhadap tirani istana dan kolonialisme asing. Ia adalah suara yang lahir dari luka sosial dan kehancuran tatanan lama.

Trunojoyo mungkin telah mati di tangan penguasa yang dulu menjadi sekutunya. Tetapi semangat perlawanan yang ia nyalakan terus menjalar. Setiap denting gamelan Madura, setiap kisah rakyat di lereng Kelud, dan setiap desir angin di pesisir utara menyebut namanya dalam bisikan tak terlihat sejarah.

Ia tak memiliki makam, tetapi ia memiliki tempat dalam ingatan. Dan sejarah, seperti laut di pantai Sampang yang tak pernah diam, akan terus mengingatnya. Dalam kabut Payak, dalam desir Jepara, dan dalam setiap babak sejarah perlawanan terhadap kekuasaan yang lalim—Trunajaya tidak pernah benar-benar mati.


Topik

Ruang Sastra musuh mataram raden trunojoyo sejarah raden kajoran



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri