Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ruang Sastra

Giri Kedaton 1581: Saat Sultan Hadiwijaya Meminta Legitimasi Suci dari Sang Raja Pendeta

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

19 - May - 2025, 11:01

Placeholder
Ilustrasi Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang bersimpuh dengan penuh hormat di hadapan Sunan Giri Prapen di Pendapa Giri Kedaton, tahun 1581. (Foto: Ilustrasi AI dibuat oleh JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam lembaran sejarah Jawa, perjalanan seorang raja ke Tanah Suci para wali bukan sekadar tindakan seremonial. Melainkan, sebuah ziarah politis yang menyimpan legitimasi spiritual, pesan kenegaraan, serta pertarungan simbolik antara kekuasaan profan dan sakral. 

Di antara fragmen-fragmen sejarah yang berserak, satu peristiwa menonjol dalam kisah besar perubahan kekuasaan di tanah Jawa pasca runtuhnya Kesultanan Demak: perjalanan Raden Jaka Tingkir, atau Sultan Hadiwijaya, dari Pajang ke Giri pada tahun 1581 M (1503 Jawa). Di tempat itulah, raja pertama Pajang berziarah ke pusat keulamaan Islam tertinggi di Jawa Timur, yakni Giri, yang saat itu dipimpin oleh Susuhunan Giri Prapen.

Baca Juga : Balita Sanankulon Diduga Hanyut di Selokan, Pencarian Lanjut Hari Kedua

Pada tahun 1503 Jawa atau sekitar 1581 Masehi, Sultan Hadiwijaya dari Pajang melakukan perjalanan ziarah politik ke Giri Kedaton untuk memohon legitimasi dari Sunan Giri Parapen, raja pendeta yang dianggap sebagai pemegang otoritas spiritual tertinggi di Jawa saat itu. Perjalanan ini tercatat dalam berbagai sumber seperti Babad Tanah Djawi, Serat Kandha, serta catatan Eropa dari Raffles dan Hageman. Setiap versi memuat nuansa naratif berbeda, namun seluruhnya menggarisbawahi arti penting Giri sebagai poros spiritual yang tak bisa dilepaskan dari politik kekuasaan di pedalaman Jawa. Ini bukan hanya soal pengukuhan formal atas gelar sultan, melainkan juga soal persekutuan sunyi antara dinasti baru dan otoritas lama yang bersemayam dalam sosok raja-wali di Giri.

Setelah keruntuhan Kesultanan Demak menyusul perang suksesi berdarah antara Arya Penangsang dan Hadiwijaya, pusat kekuasaan Jawa beralih ke Pajang. Meski Hadiwijaya telah memenangkan pertempuran dan menundukkan para pesaingnya, legitimasinya sebagai sultan belum sepenuhnya kokoh. 

Dalam tradisi Jawa-Islam, penobatan seorang raja tak hanya bersandar pada kemenangan militer, namun juga pada restu ruhani dari otoritas ulama, terlebih lagi dari Giri—poros keagamaan yang memiliki silsilah langsung dari Sunan Giri, cucu Maulana Ishaq dan garis keturunan Walisongo.

Giri, di bawah kepemimpinan Susuhunan Giri Prapen (putra Sunan Giri III), memiliki kedudukan simbolik sebagai mahkamah tertinggi dalam urusan agama dan legitimasi politik. Maka, keputusan Hadiwijaya untuk menghadap Giri adalah pengakuan terhadap kekuasaan spiritual yang mengungguli kekuasaan duniawi. Ia datang bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk disahkan.

Babad Tanah Djawi menggambarkan perjalanan Hadiwijaya ke Giri sebagai iring-iringan besar: sang raja naik gajah, diiringi para prajurit dan bangsawan penting dari barat dan pedalaman. Di antara mereka terdapat Ki Ageng Pamanahan, tokoh penting Mataram, dan para bupati dari daerah timur seperti Surabaya, Kediri, Pasuruan, Tuban, Lasem, Pati, dan Madiun. Para bupati ini turut hadir bukan semata karena kehormatan, namun juga untuk menyaksikan langsung prosesi pengukuhan yang akan mengikat mereka dalam jaringan kekuasaan baru.

Perjalanan ini bukan tanpa maksud diplomatik. Kehadiran para bupati timur menunjukkan bahwa Pajang tengah mengukuhkan hegemoninya, dan Giri menjadi panggung utama dalam ritual politik ini. Mereka bermalam di penginapan-penginapan darurat, menunggu saat sakral ketika sang Susuhunan keluar dari istananya.

Ketika akhirnya Sunan Giri Prapen muncul dari dalam istana, semua hadirin berdiri dan menyembah dengan hormat. Di sinilah kontras paling mencolok tampak antara raja dunia dan raja ruhani. Hadiwijaya dipanggil mendekat, duduk di permadani sebelah kanan sang raja pendeta, dan kemudian diumumkan secara resmi sebagai Sultan Adiwijaya dari Pajang. Di hadapan para bupati dan ulama, berlangsunglah penobatan spiritual yang mengukuhkan kekuasaan Pajang.

Namun peristiwa paling penting justru terjadi ketika Pamanahan, tokoh Mataram, mendapat perhatian dari Giri karena kerendahan hatinya. Sang raja pendeta menyampaikan ramalan yang kelak menjadi penentu arah sejarah Jawa: bahwa keturunan Ki Gede Mataram akan memerintah seluruh tanah Jawa, bahkan Giri pun akan tunduk kepadanya.

Ramalan itu mengguncang tatanan kekuasaan yang baru saja ditata. Putra Hadiwijaya di Pajang dikisahkan terkejut dan ingin segera melenyapkan “bunga api” dari Mataram, yakni potensi bangkitnya kekuasaan baru dari trah Pamanahan. Namun Hadiwijaya menolak melawan takdir yang dikukuhkan oleh raja pendeta, sebuah sikap pasrah terhadap kehendak spiritual yang melampaui kehendak politik.

Ramalan ini menjadi justifikasi spiritual bagi dinasti Mataram untuk mengambil alih kekuasaan di kemudian hari. Maka tak heran, seiring waktu, Mataram tumbuh menjadi kekuatan dominan yang akhirnya menaklukkan Giri dan seluruh Jawa pada masa Panembahan Senapati dan Sultan Agung.

Serat Kandha memberikan narasi lebih rinci namun dengan gaya bahasa yang lebih puitis. Dalam versi ini, Hadiwijaya tampil sebagai raja revolusioner yang dipilih rakyat Demak. Penobatan di Giri digambarkan lebih sebagai pengesahan ketimbang inisiasi. Yang menarik, dalam versi ini pula Pamanahan membawa 100 orang, sementara putranya membawa 1.000 pasukan bersenjata. Ini menegaskan bahwa misi ini bukan hanya ziarah, melainkan juga ekspedisi kekuasaan.

Sikap hormat Pamanahan digambarkan dalam gestur kecil namun simbolik: melipat daun pisang bekas nasi dan membersihkan tempat makannya, mencerminkan kerendahan hati yang kelak menjadi kekuatan utama Mataram dalam menaklukkan hati rakyat dan elite politik Jawa.

Catatan Thomas Stamford Raffles dan Hageman menunjukkan pendekatan berbeda. Mereka mencatat rentetan peristiwa di Kediri yang mungkin berkaitan dengan ekspansi Giri ke wilayah pedalaman. Tahun 1548-1554, Kediri disebut terbakar dan penguasanya hilang setelah memeluk Islam. Tahun 1579, Kediri menjadi pengikut Muhammad. Tafsir mereka menunjukkan adanya penyebaran Islam yang dibarengi operasi militer oleh Giri.

Namun tidak ada catatan eksplisit tentang penobatan Hadiwijaya atau ramalan Giri terhadap Mataram. Hal ini menunjukkan bias rasionalistik dan mungkin pula keterbatasan akses mereka terhadap narasi lokal. Namun yang menarik, dalam versi Hageman, pengganti Giri Prapen hanya disebut sebagai panembahan, bukan lagi susuhunan. Ini mengindikasikan bahwa setelah pertemuan monumental itu, Giri mulai meredup pengaruhnya, digantikan oleh kekuasaan baru dari Mataram.

Beberapa sejarawan menduga bahwa perjalanan ke Giri ini bukan semata peristiwa damai. Ada indikasi bahwa rombongan dari Pajang yang besar itu memiliki maksud tersembunyi: demonstrasi kekuatan. Bahkan menurut tafsir yang lebih tajam, bisa jadi ini adalah bagian dari rangkaian ekspedisi militer ke timur yang dipoles menjadi ritual penobatan. Hal ini tampak dari catatan Hageman, yang lebih menyoroti tokoh Hadiwijaya dan keberhasilan Pajang dalam menata tatanan politik baru.

Baca Juga : Bak Mahkota Raja, Ini Makna Cincin Nelayan Paus Leo XIV Saat Pelantikan

Jika demikian, maka prosesi ke Giri adalah bagian dari politik simbolik yang cerdik: kekerasan yang diselubungi ritual, dominasi yang dibungkus restu spiritual.

Perjalanan Sultan Hadiwijaya ke Giri bukan sekadar kisah ziarah, melainkan simbol pertemuan dua kutub kekuasaan: duniawi dan ukhrawi. Ia menunjukkan bagaimana politik di Jawa bukan hanya tentang perang dan wilayah, tetapi juga tentang simbol, ramalan, dan restu dari dunia gaib. Ramalan Giri tentang Mataram bukan ramalan kosong. Ia menjadi kenyataan sejarah. Dari rahim ramalan itulah lahir dinasti Mataram yang kelak mengguncang tanah Jawa.

Peristiwa ini juga menjadi titik transisi dari era wali ke era raja-raja baru. Giri kehilangan taringnya, Mataram menanjak. Tapi dalam setiap pendakian kekuasaan, selalu ada jejak suci yang mengawali. Dalam hal ini, Giri adalah altar tempat seorang raja meminta restu—dan sejarah pun mengabadikannya.

Sunan Prapen dan Giri Kedaton: Episentrum Dakwah Islam Maritim Nusantara

Dalam sejarah Islam Nusantara, Sunan Prapen dari Giri Kedaton adalah figur sentral yang menjembatani warisan Wali Songo dan perubahan politik Jawa serta kawasan maritim Indonesia pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Ia adalah cucu Sunan Giri (Raden Paku atau Prabu Satmata) dan penerus Giri Kedaton—pusat dakwah yang bertransformasi menjadi kekuatan religio-politik utama di Jawa Timur.

Sunan Prapen muncul sebagai pemimpin spiritual dan juga penentu legitimasi politik. Menurut naskah Uit de overlevering van het geheiligde Grissee dan tulisan Wiselius, ia mulai memerintah sekitar 1553 hingga 1587. Namun, sejarawan GP Rouffaer dan catatan pelaut Belanda Olivier van Noort memperkirakan masa aktivitasnya berlangsung hingga 1605. Van Noort menyebut bertemu seorang "pendeta tertinggi" berusia 120 tahun di dekat Gresik pada 1601, yang kemungkinan adalah Sunan Prapen.

Salah satu peristiwa penting yang menandai pengaruhnya adalah ziarah politik Sultan Hadiwijaya (Pajang) ke Giri sekitar 1581. Dalam rombongan hadir para tokoh penting Jawa, termasuk Ki Ageng Pamanahan dari Mataram. Peristiwa ini mencerminkan bahwa restu Giri, di bawah Sunan Prapen, dianggap sebagai pengesahan spiritual tertinggi terhadap kekuasaan duniawi.

Sunan Prapen juga memainkan peran penting dalam proses Islamisasi di luar Jawa. Babad Lombok mencatat perjalanannya ke Lombok yang memicu konflik antara dakwah Islam dan otoritas lokal Hindu. Sebagian penduduk disebut "dipaksa" masuk Islam, hingga Raja Lombok memindahkan istana ke Selaparang. Tradisi Bali bahkan merekam dalam Kidung Pamancangah bagaimana Islamisasi ditolak secara simbolik melalui metafora gunting dan pisau cukur.

Dari sisi jaringan dakwah, Giri menjalin koneksi luas. Babad Lombok menyebut Dato ri Bandang, penyebar Islam di Sulawesi, sebagai murid Giri. Artinya, dakwah Giri terhubung secara trans-regional, mengandalkan jalur laut yang menghubungkan komunitas pesisir dari Jawa ke Sulawesi.

Kontribusi Giri juga terlihat dalam keterlibatannya di Ambon. Tahun 1565, penduduk Hitu membuat perjanjian pertahanan dengan Giri untuk melawan Portugis. Giri mengirim pasukan yang menetap tiga tahun dan mendirikan basis pertahanan Cotta Java. Meskipun gagal secara militer, ini membuktikan bahwa Giri bukan hanya pusat keilmuan, tetapi juga aktor militer dan diplomatik dalam geopolitik maritim.

Dalam historiografi kolonial, peran Sunan Prapen dan Giri kerap dikesampingkan oleh narasi besar Mataram. Namun, secara kultural dan spiritual, Giri membangun hegemoni yang lebih tahan lama. Sejarawan seperti Peter Carey menunjukkan bahwa kekuatan simbolik semacam ini kerap lebih menentukan arah sejarah ketimbang kekuasaan formal kerajaan.

Dengan demikian, Sunan Prapen bukan hanya seorang ulama, tetapi juga arsitek Islam maritim yang menghubungkan pesisir Jawa dengan proses Islamisasi di luar Jawa. Giri Kedaton di bawah kepemimpinannya menjadi mercusuar dakwah yang berpengaruh hingga Nusa Tenggara dan Sulawesi, menjadikannya episentrum spiritual Nusantara dalam era transisi antara era Wali Songo dan kerajaan-kerajaan Islam baru.


Topik

Ruang Sastra Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya Pajang Giri



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri