JATIMTIMES - Berdasarkan penelitian internasional yang dilakukan oleh RAND Corporation pada tahun 2022, profesi guru di Indonesia terbukti sangat rentan terhadap stres.
Dari hasil survei tersebut, 73 persen guru SMA melaporkan mengalami stres. Dari jumlah itu, 59 persen di antaranya mengaku mengalami burnout, dan 28 persen lainnya menghadapi gejala depresi.
Baca Juga : Workshop Asistensi Mengajar: Kontribusi MIN 1 Kota Malang dalam Mencetak Pendidik Berkualitas
Temuan ini menunjukkan bahwa profesi guru sangat rentan terhadap masalah kesehatan mental yang dapat berdampak pada kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
Menurut psikolog Yafi Ahmad MPsi., tekanan yang dihadapi oleh guru bukan hanya karena beban pekerjaan, tetapi juga dari interaksi mereka dengan siswa yang berada pada usia remaja. "Guru sering harus berhadapan dengan siswa yang memiliki idealisme kuat dan pandangan hidup yang berbeda. Konflik semacam ini menjadi salah satu pemicu utama stres dan burnout di kalangan pengajar," ujar Yafi.
Dalam proses mendidik, ketegangan antara pandangan guru dan siswa dapat menambah tekanan mental yang dirasakan oleh guru.
Selain itu, sekitar 28 persen burnout yang dialami guru terjadi di tempat kerja, menunjukkan betapa besar beban mental yang mereka tanggung selama proses mengajar.
Yafi juga menekankan bahwa pencegahan jauh lebih efektif daripada penanganan setelah burnout terjadi. Salah satu pendekatan yang disarankan untuk mencegah burnout adalah dengan menerapkan teknik mindfulness, yang membantu guru untuk lebih fokus pada momen saat ini dan mengurangi tekanan mental.
Mindfulness, menurut Yafi, bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk guru. Salah satu teknik dalam mindfulness yang dapat digunakan adalah teknik grounding 5-4-3-2-1, yang melibatkan perhatian terhadap lima indera untuk menenangkan diri dan mengurangi stres. Yafi menegaskan bahwa jika burnout sudah terjadi, dampaknya sangat serius, mulai dari hilangnya motivasi hingga kelelahan fisik yang mengganggu kinerja guru. Oleh karena itu, penting untuk memberi perhatian lebih pada kesehatan mental para pendidik untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung mereka.
Baca Juga : Dokter Ungkap Penyebab Ileran saat Tidur, Bukan Karena Kelelahan
Fenomena burnout tidak hanya dialami oleh guru, tetapi juga merambah ke berbagai profesi lainnya. Dewi Suryaningtyas MPsi, seorang psikolog yang sering menangani kasus burnout di berbagai kantor, menyoroti masalah yang serupa terjadi pada karyawan profesional.
"Sering kita merekrut seseorang dengan keterampilan yang sangat baik, tetapi di tengah jalan, performa mereka menurun drastis. Kita tidak tahu apa yang menyebabkan penurunan tersebut," jelas Dewi.
Menurut Dewi, masalah ini sering kali baru terdeteksi setelah dilakukan evaluasi melalui skala dan diagnosis lebih lanjut, yang mengarah pada temuan burnout. "Ternyata, penyebab penurunan kinerja ini berhubungan dengan burnout yang muncul karena tekanan yang terus-menerus," tambah Dewi. Burnout dalam konteks ini tidak hanya mengganggu kinerja profesional, tetapi juga mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu yang mengalaminya.
Hal ini semakin menunjukkan bahwa burnout adalah masalah yang lebih luas daripada sekadar profesi pengajaran. Profesional dari berbagai bidang bisa mengalami masalah serupa jika tidak ada penanganan yang tepat terhadap tekanan dan stres yang mereka hadapi. Oleh karena itu, pendekatan preventif seperti mindfulness dan kesadaran terhadap kondisi mental individu sangat penting untuk mencegah terjadinya burnout yang lebih parah.
