JATIMTIMES - Berbicara tentang gangguan kesehatan pada anak-anak, salah satu yang sering dialami adalah diare. Diare pada anak adalah kondisi di mana frekuensi buang air besar (BAB) anak meningkat menjadi tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tekstur tinja yang lebih cair atau berair dari biasanya. Kondisi ini merupakan gangguan pencernaan yang umum terjadi pada anak-anak dan bisa berlangsung lama, sehingga membutuhkan pengobatan dengan segera.
PAFI dengan alamat website https://pafigresikbaru.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berupaya dalam meningkatkan profesionalisme anggotanya. Hal ini bertujuan agar dapat selalu memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
Baca Juga : Tanaman Obat untuk Cacingan pada Anak yang Terbukti Ampuh Menurut Penelitian
Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab diare pada anak yang tak kunjung sembuh, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.
Apa saja faktor penyebab terjadinya diare pada anak yang tak kunjung sembuh?
Pada umumnya, diare pada anak dapat bersifat akut jika berlangsung kurang dari 14 hari, dan kronis jika berlangsung lebih dari 14 hari. Gejala diare pada anak juga dapat disertai dengan tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, mulut kering, lesu, dan penurunan aktivitas. Kondisi ini perlu diwaspadai karena jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius. Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya diare pada anak tak kunjung sembuh yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Adanya infeksi saluran pencernaan yang berulang
Ada berbagai penyebab diare pada anak, salah satunya adalah infeksi virus. Adapun virus seperti rotavirus, adenovirus, dan norovirus merupakan penyebab diare akut yang paling umum pada anak. Namun, pada beberapa kasus, infeksi virus ini dapat menyebabkan diare berkepanjangan jika sistem imun anak lemah atau terdapat komplikasi. Selain itu, bakteri seperti salmonella, shigella, campylobacter, dan escherichia coli dapat menyebabkan infeksi usus yang parah dan berulang. Bila tidak ditangani dengan tepat, infeksi ini dapat merusak lapisan usus sehingga memperpanjang durasi diare.
2. Adanya penyakit radang usus
Penyakit radang usus, termasuk penyakit crohn dan kolitis ulseratif, adalah kondisi kronis yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Peradangan ini mengganggu fungsi usus dalam menyerap air dan nutrisi, sehingga menimbulkan diare yang berlangsung lama, sering disertai darah dan lendir dalam tinja, nyeri perut, dan penurunan berat badan.
3. Alergi dan intoleransi makanan
Faktor selanjutnya penyebab diare pada anak seperti alergi dan intoleransi makanan. Reaksi alergi terhadap protein susu sapi atau makanan lain dapat menyebabkan diare kronis pada bayi dan anak kecil. Sistem imun bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu sehingga menimbulkan peradangan di usus. Kemudian, ketidakmampuan mencerna laktosa (gula dalam susu) karena kekurangan enzim laktase menyebabkan fermentasi laktosa di usus besar, menghasilkan gas dan diare.
4. Faktor lingkungan dan kebersihan
Faktor lingkungan juga dapat mengakibatkan diare seperti sanitasi yang buruk. Air minum yang mungkin terkontaminasi, lingkungan yang kotor, dan kurangnya kebersihan tangan dapat menyebabkan infeksi berulang yang memperparah diare.
Apa saja obat yang tepat untuk mengobati diare pada anak yang tak kunjung sembuh?
PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari diare pada anak yang tak kunjung sembuh. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala diare pada anak serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
Baca Juga : Kenali Penyebab Demam pada Bayi, PAFI Berikan Informasi Pengobatan
1. Oralit
Oralit adalah cairan yang mengandung elektrolit (natrium, kalium, klorida, bikarbonat) dan glukosa yang membantu penyerapan air dan elektrolit di usus. Ini adalah terapi utama untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi akibat diare. Untuk dosisnya, apoteker akan meresepkan dengan dosis disesuaikan dengan usia dan tingkat keparahan diare. Misalnya, anak usia 1-5 tahun diberikan 50-100 ml oralit setiap kali diare, dan lebih banyak saat muntah atau demam.
2. Suplemen zinc
Zinc berperan penting dalam memperbaiki sistem imun dan mempercepat penyembuhan mukosa usus. Penelitian menunjukkan suplementasi zinc dapat mengurangi durasi dan keparahan diare serta mencegah kekambuhan. Untuk dosis yang diberikan oleh apoteker yaitu anak usia 6 bulan sampai 5 tahun, dosis yang direkomendasikan adalah 20 mg per hari selama 10-14 hari. Untuk bayi di bawah 6 bulan, dosisnya 10 mg per hari.
Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi gejala diare yang tak kunjung sembuh pada anak seperti lebih banyak minum air putih serta memberikan makanan yang mudah dicerna dan menghindari makanan yang memicu diare seperti makanan berlemak, pedas, atau susu sapi bagi anak intoleran laktosa. Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.
Dapatkan informasi kesehatan serta layanan farmasi gratis dengan mengunjungi pafigresikbaru.org melalui smartphone Anda.
