Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Pendaki Gunung Diminta Tak Remehkan Fenomena Bediding di Malang Raya

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

14 - Jul - 2026, 18:29

Placeholder
Salah seorang saat mendaki di Gunung Arjuno. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Musim kemarau menjadi waktu favorit bagi banyak orang untuk mendaki gunung. Namun, di balik cuaca yang cenderung cerah, terdapat ancaman yang tidak boleh dianggap sepele. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengmbau pendaki di Malang Raya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko hipotermia akibat fenomena bediding yang diperkirakan mencapai puncaknya pada awal Agustus 2026.

Prakirawan BMKG Karangploso, Linda Fitrotul, mengatakan kondisi langit yang cerah saat musim kemarau memang mendukung aktivitas wisata alam, termasuk pendakian gunung. Namun, kondisi tersebut juga menyebabkan suhu udara pada malam hingga dini hari turun cukup drastis.

Baca Juga : 5 Wilayah Terdingin Di Jatim: Nomor 1 Bromo, Pasuruan hingga Batu Ikut Menggigil

“Cuaca cerah memang membuat banyak pendaki memilih naik gunung pada musim kemarau. Tetapi justru saat itulah suhu udara bisa turun cukup rendah. Pendaki harus menyiapkan perlengkapan yang memadai agar tidak mengalami hipotermia,” kata Linda.

Ia menambahkan, hipotermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal akibat paparan udara dingin dalam waktu tertentu. Risiko tersebut semakin tinggi apabila pendaki tidak mengenakan pakaian yang sesuai, mengalami kelelahan, atau kekurangan asupan makanan dan cairan.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat yang berencana mendaki gunung untuk menggunakan pakaian hangat berlapis, membawa perlengkapan tidur yang sesuai dengan suhu rendah, serta memastikan kondisi fisik tetap prima sebelum melakukan pendakian.

“Jangan hanya fokus membawa perlengkapan untuk siang hari. Saat malam, suhu di pegunungan bisa jauh lebih dingin. Pastikan tubuh tetap hangat, cukup makan, dan jangan lupa memenuhi kebutuhan cairan meskipun tidak merasa haus,” imbuhnya.

Kondisi perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam selama fenomena bediding juga berpotensi menurunkan daya tahan tubuh sehingga lebih rentan terserang flu maupun gangguan kesehatan lainnya.

Fenomena bediding sendiri merupakan kondisi yang lazim terjadi pada musim kemarau. Langit yang minim awan membuat panas permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara menjadi lebih dingin dibandingkan biasanya.

Baca Juga : Viral Kopdes Merah Putih di Gedangan Malang Berdiri di Seberang Sungai, Beli Naik Perahu?

Menurut BMKG, fenomena tersebut telah berlangsung sejak akhir Juni dan diperkirakan masih akan terjadi hingga September 2026, dengan intensitas udara dingin paling terasa sepanjang Juli hingga awal Agustus.

“Fenomena bediding merupakan siklus alam yang terjadi hampir setiap tahun saat musim kemarau. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi perlu beradaptasi dengan perubahan suhu, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan atau mendaki gunung,” jelas Linda.

Data BMKG menunjukkan suhu minimum di wilayah Malang Raya dalam satu dekade terakhir berkisar antara 13 hingga 15 derajat Celsius, bahkan pernah menyentuh 12 derajat Celsius pada September 2006. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa udara dingin di kawasan pegunungan Malang tidak boleh dianggap remeh, terutama bagi pendaki yang belum berpengalaman.


Topik

Peristiwa Bediding musim kemarau hawa dingin pendaki gunung Bromo



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni