Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

FISIP UB Turunkan 1.147 Mahasiswa Bangun Living Laboratory Desa, Libatkan Mahasiswa Asing hingga Korporasi

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

26 - Jun - 2026, 16:53

Placeholder
Kick off Pogram FISIP Bakti Desa Arcapada 2026, sebanyak 1.147 mahasiswa diterjunkan ke berbagai wilayah. (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) mulai menggeser pola pengabdian mahasiswa dari sekadar kegiatan lapangan menjadi model kolaborasi yang dirancang berkelanjutan. Melalui program FISIP Bakti Desa Arcapada 2026, sebanyak 1.147 mahasiswa diterjunkan ke berbagai wilayah untuk mengembangkan potensi desa sekaligus mengurai persoalan yang dihadapi masyarakat melalui pendekatan living laboratory.

Program yang diawali melalui kegiatan kick off, Jumat, (26/6/2026) tersebut tidak hanya melibatkan 1.120 lebih mahasiswa FISIP UB, tetapi juga sekitar 28 mahasiswa internasional yang berasal dari Polandia, China, Pakistan, dan Malaysia. Mereka akan bekerja bersama pemerintah, TNI, Polri, korporasi, organisasi nonpemerintah, hingga pemerintah desa selama satu bulan, dengan sejumlah program yang disiapkan agar tetap berlanjut hingga lima sampai enam bulan ke depan.

1

Dekan FISIP UB Dr Ahmad Imron Rozuli SE MSi menjelaskan bahwa orientasi utama program ini bukan sekadar menjalankan pengabdian masyarakat, melainkan membangun ekosistem kolaborasi yang menghasilkan dampak jangka panjang.

Baca Juga : Gerbong Mutasi Kembali Bergulir, Wali Kota Eri Rotasi 57 Pejabat Pemkot Surabaya  

"Ini sebetulnya adalah kick off untuk kegiatan kita selama satu bulan ke depan. Kami memberangkatkan kurang lebih 1.147 mahasiswa, termasuk sekitar 28 mahasiswa asing dari Polandia, China, Pakistan, dan Malaysia. Tujuannya membangun kolaborasi multipihak untuk mengembangkan potensi desa sekaligus membantu mengurai berbagai persoalan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, hingga pengembangan kawasan tematik," ujarnya.

Menurut Ahmad Imron, sejumlah titik telah dipersiapkan sebagai shelter living laboratory. Konsep tersebut diharapkan menjadi laboratorium lapangan yang tidak berhenti setelah mahasiswa selesai menjalankan tugasnya, tetapi terus berkembang sebagai ruang pembelajaran sekaligus pusat pengembangan desa.

2

Karena itu, program tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai TNI, Polri, pemerintah daerah dari tingkat provinsi hingga desa, organisasi nonpemerintah, serta perusahaan seperti PT HM Sampoerna, Pelindo, PT Asuransi Umum Bumiputera, dan Yayasan Salam Sejahtera Amanah Nusantara.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung pembangunan fasilitas maupun pengembangan potensi ekonomi masyarakat, termasuk kawasan wisata edukasi, konservasi, hingga pemberdayaan masyarakat rentan.

Wilayah pengabdian mahasiswa tersebar di Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, serta Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Khusus di Lombok Utara, fokus program diarahkan pada persoalan pendidikan yang dinilai masih menjadi tantangan, terutama keberlanjutan siswa dari jenjang SMP menuju SMA hingga perguruan tinggi.

3

"Di Lombok lebih kepada upaya mendorong pendidikan. Kami ingin memberikan motivasi bahwa pendidikan tinggi itu penting, sekaligus menjadi daya dukung bagi pengembangan sumber daya yang ada di sana. Bersamaan dengan itu, potensi kawasan juga akan didorong bersama korporasi agar memberi manfaat bagi masyarakat, terutama kelompok rentan," kata Ahmad Imron.

Sementara itu, di Kabupaten Malang setiap wilayah memperoleh tema pengembangan yang berbeda sesuai karakter lokalnya. Kawasan yang dilalui aliran sungai difokuskan pada ketahanan irigasi, pengelolaan sumber daya air, hingga rehabilitasi kawasan sempadan sungai. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan berkolaborasi dengan TNI dan Polri, termasuk dalam kegiatan pengerukan sedimen di sejumlah lokasi.

FISIP UB juga menyiapkan kawasan Pandansari di Kecamatan Jabung dan Desa Sumberdem di Kecamatan Wonosari sebagai lokasi pengembangan living laboratory yang dipadukan dengan wisata edukasi dan konservasi. Sementara wilayah selatan Kabupaten Malang diarahkan pada program migrant care yang berkaitan dengan perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran.

Baca Juga : Alarm Jurnalisme Era AI: Dari Ketergantungan Pers Mahasiswa Hingga Jebakan Halusinasi di Media Arus Utama

Pelaksanaan program tersebut didampingi 57 dosen pembimbing lapangan. Selain itu, mahasiswa juga akan memperoleh pendampingan dari pemerintah desa, pemerintah daerah, maupun instansi yang menjadi mitra program sehingga proses implementasi di lapangan dapat berjalan lebih terintegrasi.

Rektor Universitas Brawijaya Prof Widodo menilai pengalaman terjun langsung ke desa merupakan ruang belajar yang tidak dapat digantikan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, perkembangan AI justru menuntut mahasiswa menguasai kemampuan yang bersifat manusiawi.

"Generasi ke depan membutuhkan lima kompetensi utama, yaitu kemampuan analisis sosial, komunikasi dan empati, kerja sama serta kepemimpinan kolaboratif, kemampuan beradaptasi dan memecahkan masalah, serta integritas dan etika. AI tidak memahami persoalan sosial dan tidak memiliki empati. Karena itu, kemampuan tersebut harus dimiliki mahasiswa," tegasnya.

Ia menilai desa merupakan living lab yang sesungguhnya, tempat mahasiswa belajar memahami budaya, mendengarkan persoalan masyarakat, sekaligus mencari solusi bersama. "Saya titip kepada adik-adik semua, masuklah ke laboratorium hidup. Dengarkan masyarakat, pahami persoalannya, hormati adat dan kearifan lokal, jaga nama baik almamater, serta bangun jejaring kemitraan dengan masyarakat untuk jangka panjang. Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain," ujar Widodo.

Ahmad Imron juga mengingatkan bahwa keberhasilan mahasiswa selama menjalankan Bakti Desa bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, melainkan dari kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru.

"Mahasiswa harus mampu beradaptasi dan membangun kekompakan tim. Dari proses membaur dengan masyarakat itulah sebenarnya mereka belajar memahami kehidupan sehari-hari masyarakat. Pengalaman itu yang menjadi inti dari proses pembelajaran," katanya.

Melalui model living laboratory yang dibangun lintas sektor tersebut, FISIP UB berupaya menjadikan pengabdian mahasiswa bukan sekadar agenda akademik tahunan, tetapi sebagai fondasi kolaborasi jangka panjang yang mampu menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan desa dan pemberdayaan masyarakat.


Topik

Pendidikan FISIP UB Universitas Brawijaya Living Laboratory Desa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan