Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Gaya Hidup

Tretinoin hingga Clindamycin, Ini Skincare Apotek yang Tidak Boleh Dipakai Sembarangan

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

31 - May - 2026, 18:32

Placeholder
Ilustrasu skincare. (Foto: Pinterest)

JATIMTIMES - Banyak masyarakat masih menganggap seluruh produk perawatan kulit yang dijual di apotek aman digunakan tanpa konsultasi dokter. Padahal, tidak sedikit produk yang tampak seperti skincare biasa sebenarnya tergolong obat keras dan berisiko menimbulkan efek samping jika digunakan tanpa indikasi yang tepat.

Skincare expert Yessica Tania mengimbau masyarakat agar lebih cermat membedakan antara produk perawatan kulit yang bisa dibeli bebas dengan obat dermatologi yang memerlukan resep dan pengawasan tenaga medis.

Baca Juga : Mayoritas Warga Pakai Kendaraan Pribadi, Organda Nilai Transportasi Publik Kota Malang Perlu Revolusi Besar

“Skincare apotek itu bukan berarti semuanya boleh dipakai bebas. Ada yang memang bisa dibeli tanpa resep. Biasanya untuk basic skincare atau masalah ringan. Tapi ada juga yang kelihatannya skincare, padahal sebenarnya obat keras dan harus dipakai dengan arahan dokter,” kata perempuan yang akrab disapa dokter Zie ini.

Sejumlah produk yang umumnya busa dibeli tanpa resep dokter, lanjut dokter Zie, yakni pembersih wajah dengan formula lembut, pelembap, sunscreen, acne patch, hingga produk dengan kandungan niacinamide dan eksfolian ringan seperti AHA, PHA, maupun salicylic acid dalam dosis kosmetik. Contoh produk yang masuk kategori tersebut adalah gel niacinamide 4 persen seperti Niacef dan Niaclear. Kandungan niacinamide bisa membantu mengatasi jerawat ringan, mengurangi kemerahan, mengontrol minyak berlebih, memperkuat skin barrier, serta membantu meratakan warna kulit.

“Niacinamide bisa digunakan pagi atau malam hari. Namun bagi kulit yang sensitif atau mudah rewel, sebaiknya mulai satu kali sehari terlebih dahulu dan jangan digunakan saat kulit sedang mengalami luka terbuka atau iritasi berat,” jelasnya.

Selain itu, dokter Zie menyoroti pentingnya penggunaan tabir surya sebagai perlindungan dasar kulit. Salah satu produk yang banyak ditemukan di apotek adalah sunscreen dengan kandungan UV filters yang berfungsi melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet.

“Fungsi sunscreen adalah proteksi kulit dari sinar UV. Penggunaannya perlu cukup dan diulang bila banyak beraktivitas di luar ruangan, berkeringat, atau setelah mencuci wajah,” katanya.

Di sisi lain, terdapat pula sejumlah krim antijamur yang dapat dibeli tanpa resep, seperti produk berbahan aktif miconazole nitrate 2 persen dan clotrimazole 1 persen. Produk ini diperuntukkan bagi infeksi jamur kulit yang ditandai gatal, kemerahan, bersisik, atau muncul pada area lipatan tubuh yang lembap.

“Jangan semua bruntusan langsung dianggap jamur. Penggunaan krim antijamur harus sesuai indikasi. Jika penyebabnya bukan jamur, hasilnya tentu tidak akan efektif,” tegas dokter Zie.

Sementara itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati terhadap produk yang mengandung bahan aktif tertentu karena tergolong obat keras. Salah satunya adalah tretinoin yang banyak digunakan untuk terapi jerawat, komedo, dan perbaikan tekstur kulit.

Menurut Yessica, produk berbahan tretinoin bukan produk yang dapat digunakan sembarangan meskipun mudah ditemukan di apotek. Tretinoin memerlukan resep dokter.

Baca Juga : Ada Blue Moon Malam Ini, Berikut Mitos dan Makna Bulan Purnama dalam Kepercayaan Masyarakat Jawa

“Penggunaannya harus bertahap, wajib disertai sunscreen, dan tidak boleh digunakan saat hamil atau program kehamilan tanpa arahan dokter,” ucap dokter Zie.

Selain tretinoin, antibiotik topikal seperti clindamycin phosphate yang terdapat pada beberapa obat jerawat juga tidak boleh digunakan bebas. Obat ini umumnya diberikan untuk mengatasi jerawat meradang yang melibatkan infeksi bakteri dan harus digunakan sesuai petunjuk dokter.

“Antibiotik jerawat seperti clindamycin bukan spot treatment harian yang bisa dipakai berbulan-bulan tanpa kontrol. Penggunaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik dan membuat terapi menjadi kurang efektif,” terangnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penggunaan bahan aktif lain seperti hydroquinone, steroid cream, erythromycin, hingga isotretinoin oral yang membutuhkan diagnosis, dosis, serta pemantauan medis secara ketat.

“Tapi hati-hati kalau produknya mengandung tretinoin, hydroquinone, steroid cream, antibiotik jerawat seperti clindamycin atau erythromycin, maupun obat minum jerawat seperti isotretinoin. Ini bukan skincare bebas. Pemakaiannya perlu indikasi yang jelas, dosis yang tepat, dan monitoring,” ungkapnya.

Menurut dokter Zie, penggunaan obat kulit tanpa pengawasan berpotensi menyebabkan berbagai masalah, mulai dari iritasi berat, kerusakan skin barrier, jerawat yang semakin reaktif, munculnya hiperpigmentasi atau flek yang sulit dikontrol, hingga efek samping sistemik pada beberapa jenis obat tertentu.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat tidak tergiur menggunakan produk yang sedang viral tanpa memahami kandungan dan fungsinya terlebih dahulu. “Jangan asal pakai active skincare. Kenali dulu kandungannya, pahami manfaat dan risikonya, lalu sesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing,” tutup dokter Zie.


Topik

Gaya Hidup Skincare skincare apotek dokter Zie tretinoin clindamycin



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy