Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Industri Plastik Mulai Bernapas meski Belum Normal, LYB Sebut Harga Belum Sepenuhnya Pulih

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

24 - May - 2026, 15:51

Placeholder
Senior Manager LYB Asia Pacific sekaligus President Director LYB Indonesia, Rakhma Febriani. (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Harga bahan baku industri plastik di Indonesia mulai menunjukkan penurunan dalam beberapa bulan terakhir setelah sebelumnya melonjak akibat gejolak geopolitik global dan gangguan rantai pasok internasional. Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya kembali normal. 

Industri petrokimia masih menghadapi tekanan harga yang lebih tinggi dibanding tahun lalu, terutama karena ketergantungan pada bahan baku impor.

Baca Juga : Telur Ikan Sapu-Sapu Bisa Jadi Bioplastik Elastis, Begini Hasil Eksperimennya

Situasi itu dirasakan langsung oleh LyondellBasell Industries atau LYB, perusahaan global di sektor plastik, kimia, dan pemurnian yang memiliki pasar besar di Indonesia. Senior Manager LYB Asia Pacific sekaligus President Director LYB Indonesia, Rakhma Febriani, mengatakan kondisi industri saat ini mulai sedikit membaik, tetapi harga bahan baku belum kembali ke level normal sebelum perang dan krisis distribusi global terjadi.

“Bahan baku itu memang banyak yang impor. Jadi, jelas pasti akan terpengaruh dengan situasi perang itu, harganya naik. Kalau bulan-bulan ini memang sudah agak sedikit turun, tapi memang masih lebih tinggi daripada bulan yang sama di tahun kemarin,” ujarnya saat ditemui di Universitas Brawijaya (UB) belum lama ini.

1

Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi industri petrokimia yang masih berada dalam fase pemulihan. Penurunan harga memang mulai terasa dibanding masa puncak kenaikan sebelumnya, tetapi biaya produksi perusahaan masih tinggi akibat fluktuasi energi, logistik, dan distribusi bahan baku global.

LYB mengakui tekanan terbesar muncul ketika jalur perdagangan internasional terganggu akibat konflik di Timur Tengah, terutama saat distribusi melalui Selat Hormuz sempat terdampak. Kondisi itu membuat perusahaan harus mencari pasokan alternatif dari negara lain agar produksi tetap berjalan.

“Waktu Selat Hormuz ditutup itu sempat terganggu pasokan. Kami akhirnya banyak ambil raw material dari Cina dan Thailand yang lebih enggak terganggu,” kata Rakhma.

Meski menghadapi tekanan biaya impor, perusahaan memastikan aktivitas produksi tidak sampai berhenti. Menurut Rakhma, menjaga kontinuitas pasokan menjadi hal paling penting di tengah ketidakpastian global saat ini. “Kalau produksi enggak, produksi kami terus,” ujarnya.

Namun kondisi tersebut tetap berdampak pada harga jual produk. LYB mengakui sebagian kenaikan biaya produksi akhirnya diteruskan kepada pelanggan meski perusahaan berusaha menahan agar kenaikannya tidak terlalu besar.

“Dengan sendirinya pasti kita juga akan pass on ke customer juga. Customer pasti akan naik juga harganya. Cuman kita juga berusaha bagaimana caranya supaya enggak terlalu banyak kenaikannya,” katanya.

Kondisi pasar saat ini memperlihatkan bahwa industri plastik belum mengalami penurunan permintaan secara signifikan. LYB menilai kebutuhan plastik masih kuat karena digunakan di berbagai sektor penting, mulai dari kemasan, kebutuhan rumah tangga, kesehatan, hingga otomotif. “Demand kok kita lihat masih tetap ada,” ujar Rakhma.

Menurutnya, kebutuhan plastik tidak bisa hanya dilihat sebagai produk konsumsi sederhana seperti kantong plastik atau peralatan rumah tangga, melainkan sudah menjadi bagian dari rantai industri modern.

Baca Juga : Jelang Iduladha, Wali Kota Blitar Pantau Perdagangan Hewan Kurban di Pasar Dimoro

“Plastik itu macam-macam. Bukan cuma tas kresek atau gayung mandi. Tapi ini berkaitan dengan packaging secara umum,” katanya.

LYB melihat selama industri kemasan dan konsumsi masyarakat masih tumbuh, kebutuhan bahan baku plastik juga akan tetap tinggi. Perusahaan bahkan mulai melihat peningkatan permintaan dari sektor kendaraan listrik atau electric vehicle yang kini berkembang di Indonesia maupun global.

“Kami sekarang melihat ada banyak naik demand di electric vehicle,” ujar Rakhma.

Saat ini sekitar 70 persen produksi LYB Indonesia diserap pasar domestik, sedangkan sisanya untuk ekspor. Di tengah tekanan ekonomi global, pasar Indonesia dinilai masih cukup kuat menopang industri petrokimia. “Secara market untuk Indonesia itu masih tetap strong,” katanya.

Meski harga mulai turun, LYB menilai kondisi pasar belum sepenuhnya stabil dan harga bahan baku belum kembali normal seperti sebelum konflik global terjadi. Perusahaan kini menunggu titik keseimbangan baru antara harga dan permintaan pasar.

“Kami percaya demand dan harga nanti akan ada suatu titik balance sendiri. Mungkin akan lebih rendah daripada tahun lalu, tapi kayaknya tidak terlalu rendah sekali,” ujar Rakhma.

Selain persoalan harga dan distribusi, LYB juga menghadapi tantangan lingkungan dari meningkatnya konsumsi plastik global. Pertumbuhan kebutuhan industri otomatis akan meningkatkan volume limbah yang harus dikelola. “Waste-nya akan semakin banyak juga, jadi kita bagaimana caranya bisa mengolah waste,” katanya.

Di tengah tekanan perang, fluktuasi harga energi, dan tantangan lingkungan, LYB menegaskan kualitas produk tetap menjadi faktor utama yang dipertahankan perusahaan agar pelanggan tetap loyal meski harga pasar mengalami kenaikan. “Kualitas itu yang tidak bisa dipatahkan,” kata Rakhma.


Topik

Ekonomi Industri plastik plastik krisis global tekanan perang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy