JATIMTIMES - Memasuki usia ke-21 tahun, manajemen Malang Town Square (Matos) menunjukkan komitmennya untuk terus berbenah dan beradaptasi dengan kebutuhan pengunjung. Sejumlah pembaruan dilakukan untuk memperkuat daya saing sekaligus mempertahankan citra sebagai destinasi belanja dan hiburan keluarga di Kota Malang.
Dalam kegiatan media gathering yang digelar Kamis malam (26/02/2026), Mall Manager Matos Agus Saputra mengatakan bahwa pembenahan tidak hanya menyasar tampilan visual, tetapi juga aspek teknis bangunan. Peremajaan plafon, penataan ulang dekorasi, hingga peningkatan fasilitas umum dilakukan agar suasana pusat perbelanjaan terasa lebih modern dan nyaman.
Baca Juga : Mudik Gratis Kemenhub 2026 Dibuka: Cek Jadwal, 34 Kota Tujuan, dan Cara Daftar
“Kami ingin momentum 21 tahun ini menjadi titik penyegaran. Tidak hanya secara tampilan, tetapi juga dari sisi infrastruktur agar pengunjung merasa lebih nyaman,” kata Agus.
Menurut dia, tahun ini Matos telah menyiapkan sejumlah pembaruan yang akan dilakukan secara bertahap. Konsep pembenahan tersebut difokuskan pada pengalaman pengunjung, terutama menjelang periode peningkatan trafik seperti Ramadan dan Lebaran.
Menanggapi kabar yang sempat beredar mengenai eskalator yang disebut rusak, Agus menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari jadwal perawatan rutin. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi menghadapi lonjakan kunjungan saat musim libur mendatang.
“Itu bukan kerusakan, melainkan maintenance berkala. Justru kami lakukan lebih awal agar saat Lebaran nanti semua fasilitas siap dan aman digunakan,” jelasnya.
Selain eskalator, lift di beberapa titik juga menjalani pengecekan dan perawatan teknis untuk memastikan standar keselamatan tetap terjaga.
Di tengah anggapan bahwa pusat perbelanjaan terlihat lengang, manajemen beberkan data berbeda. Agus menyebut pola kunjungan saat ini memang cenderung langsung menuju tenant tujuan, sehingga area koridor tampak lebih sepi dibandingkan sebelumnya.
Salah satu contoh yang dibeberkan, yakni tenant bioskop Cinépolis, yang mampu mencatat hingga 2.000 penonton per hari pada momen tertentu.
Baca Juga : Perang Lawan Narkoba Tak Boleh Ternoda, Semeru Institute Desak Kapolri Bersihkan Oknum Nakal
“Sekarang pola belanja berubah. Pengunjung datang sudah punya tujuan. Jadi, langsung masuk ke tenant. Dari luar terlihat tidak ramai, padahal aktivitas di dalam cukup tinggi,” terang Agus.
Agus juga menanggapi isu mengenai lantai atas yang disebut terasa bergoyang. Ia memastikan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari desain konstruksi gedung yang dirancang fleksibel mengikuti beban.
“Struktur bangunan memang dirancang memiliki fleksibilitas. Lantai harus bisa menyesuaikan beban. Kalau terlalu kaku, justru berisiko retak. Jadi, itu bagian dari sistem keamanan,” ungkap Agus.
Dengan berbagai langkah pembenahan tersebut, manajemen optimistis Matos tetap menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat Malang. Tidak hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga ruang berkumpul dan rekreasi keluarga.
