JATIMTIMES – Di balik riuhnya ribuan santri yang mendaras kitab di Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, Karas, Kabupaten Magetan, terselip kisah pengabdian yang melampaui sekat ruang kelas.
Salah satunya datang dari Zidni Ilma (19), seorang pemuda asal Purwakarta, Jawa Barat, yang memilih jalan sunyi di antara debu dan kawanan unta sebagai bentuk khidmah.
Baca Juga : 5 Drakor Aman Ditonton saat Puasa, Ceritanya Bikin Haru Tanpa Adegan Berlebihan
Bagi Zidni, ini bukan sekadar tugas teknis. Ini adalah khidmah, sebuah istilah bahasa Arab yang berarti pengabdian tulus yang ia jalani demi mengharap keberkahan ilmu dan rida sang guru.
Anak ketujuh dari delapan bersaudara asal Purwakarta, Jawa Barat, ini telah dua tahun menimba ilmu sebagai santri di Temboro. Di pesantren ini, terdapat tradisi unik, yakni santri bisa menuntut ilmu secara gratis dengan syarat mendedikasikan diri dalam jalur khidmah.
Dengan mengabdikan diri merawat unta, Zidni dibebaskan dari biaya SPP bulanan. Baginya, ini adalah solusi mulia untuk tetap bisa belajar agama tanpa membebani ekonomi keluarga yang ditinggalkannya di Jawa Barat.
"Di Temboro, istilahnya kita bisa bebas menuntut ilmu sebagai santri. Tapi sebagai gantinya saya harus menjalani khidmah. Saya memilih merawat unta ini sebagai wujud bakti dan pengganti biaya pendidikan saya," jelas Zidni.
Zidni tidak sendirian dalam menjalani tugas mulia ini. Di kandang unta Pesantren Al-Fatah, ia tergabung dalam satu tim khusus yang terdiri dari delapan orang santri.
Bersama tujuh rekan lainnya, Zidni berbagi tugas menjaga kesehatan dan kenyamanan hewan-hewan tersebut. Kerja sama tim menjadi kunci, mengingat merawat unta memerlukan tenaga dan kesabaran ekstra yang tidak bisa dilakukan sendirian di tengah iklim tropis.
Menjadi santri khidmah di unit peternakan menuntut komitmen waktu yang besar. Berbeda dengan santri reguler, Zidni hanya diizinkan pulang ke kampung halaman setiap dua tahun sekali. Tahun ini, penantian itu berbuah manis. Zidni dijadwalkan pulang ke Purwakarta pada pertengahan Ramadan nanti untuk merayakan Lebaran.
"Alhamdulillah, tahun ini saya sangat senang karena akhirnya diizinkan pulang ke rumah untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Rencananya pertengahan Ramadan nanti saya pulang," ujar Zidni dengan binar mata bahagia.
Baca Juga : Mendikdasmen RI Resmikan Revitalisasi Sekolah, Gus Fawait: Jember Mendapat Program Terbesar se Indonesia
Namun, kepulangannya ini bukanlah perpisahan. "Setelah Lebaran nanti, saya tetap balik lagi ke Temboro untuk melanjutkan khidmah dan belajar," ungkapnya.
Kisah Zidni Ilma hanyalah satu kepingan dari potret besar dedikasi di "Madinah-nya Indonesia" tersebur. Ia merupakan salah satu dari ratusan santri di Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro yang memilih menempuh jalur khidmah untuk menjemput rida Illahi.
Di saat ribuan santri lain berfokus di dalam madrasah, para pejuang khidmah ini tersebar di berbagai lini, mulai dari dapur umum, kebersihan, hingga peternakan.
Pola pendidikan berbasis kemandirian di Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro ini pun mendapat perhatian positif dari Pemerintah Kabupaten Magetan. Tradisi khidmah yang dijalani Zidni dan rekan-rekannya merupakan representasi konkret dari penguatan pendidikan karakter.
Melalui aktivitas tersebut, santri tidak sekadar menyerap teori dari kitab suci, namun langsung mengimplementasikan nilai-nilai tanggung jawab serta welas asih terhadap sesama makhluk Tuhan di dunia nyata.
