free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Opini

Fakta Gajah Mada Lahir di Gunung Ratu Ngimbang Lamongan Jawa Timur

Penulis : Rudi Hariono - Editor : Redaksi

20 - Feb - 2026, 09:35

Placeholder
Situs Sejarah di Gunung Ratu Ngimbang dan Rudi Hariono.

Oleh: Rudi Hariono

Gunung Ratu Ngimbang di Lamongan merupakan situs yang memperlihatkan sintesis antara catatan sejarah resmi Majapahit, pakem cerita rakyat PB Wilwatikta Nusantara, dan bukti arkeologis lokal. 

Catatan resmi seperti Nagarakretagama dan Pararaton menegaskan legitimasi politik Majapahit melalui pernikahan Raden Wijaya dengan putri Kertanegara serta munculnya Gajah Mada sebagai mahapatih. Namun, legenda rakyat menambahkan dimensi emosional: Tribhuwaneswari, permaisuri utama, difitnah dan diasingkan ke Gunung Ratu dengan nama Dewi Andongsari dan ia melahirkan Gajah Mada. Narasi ini menjelaskan asal-usul Gajah Mada sebagai cucu Kertanegara yang memberi legitimasi atas kiprahnya mendirikan catya untuk Kartanegara pada 1351.  

Baca Juga : TSK Terkait Dugaan Penganiayaan di Festival Adat Budaya di Lamongan Belum Ditahan

Bukti fisik di Gunung Ratu, seperti makam purba, pecahan keramik, hamparan bata merah khas Majapahit, serta sumber Sendang Tujuh, memperkuat tradisi lisan masyarakat Lamongan. Arkeolog Wicaksono Dwi Nugroho menambahkan bahwa Gunung Ratu kemungkinan besar merupakan perkampungan bangsawan Singosari–Majapahit, sehingga memperkuat keterhubungan antara legenda dan sejarah resmi. 

Dengan demikian, Gunung Ratu bukan sekadar situs legenda, melainkan prasasti hidup yang memperlihatkan bagaimana prasasti, cerita rakyat, dan bukti arkeologis saling melengkapi. Sintesis ini menjadikan narasi bahwa Gajah Mada adalah putra Tribhuwaneswari dan cucu Kertanegara semakin rasional dan masuk akal, sekaligus menegaskan Gunung Ratu sebagai Tunggak Wilwatikta dalam memahami kejayaan Majapahit.  

Gunung Ratu Ngimbang di Lamongan bukan sekadar situs lokal yang dikaitkan dengan legenda rakyat, melainkan simpul sejarah yang memperlihatkan bagaimana catatan resmi Majapahit, pakem cerita rakyat PB Wilwatikta Nusantara, dan bukti arkeologis saling melengkapi. Dari sinilah muncul narasi yang lebih rasional tentang asal-usul Gajah Mada dan legitimasi politik Majapahit.  

Dalam Nagarakretagama dan Pararaton, Raden Wijaya (1293–1309) disebut menikahi lima perempuan. Empat di antaranya adalah putri Raja Kertanegara dari Singhasari, yakni Sri Tribhuwaneswari (permaisuri utama), Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Istri kelima adalah Dara Petak dari Dharmasraya, yang kemudian bergelar Indreswari setelah melahirkan Jayanegara (raja Majapahit 1309–1328).  

Untuk tujuan legitimasi politik, Jayanegara disebut sebagai putra Tribhuwaneswari, meski secara biologis ia adalah putra Dara Petak. Gajah Mada kemudian muncul sebagai mahapatih, mengucapkan Sumpah Palapa, dan pada tahun 1351 mendirikan catya untuk Kartanegara serta menorehkan prasasti mewakili tujuh Raja Majapahit. Fakta ini menimbulkan pertanyaan: mengapa seorang pejabat bisa melakukan tindakan yang biasanya hanya dilakukan oleh raja atau keturunan langsung?  

Legenda rakyat memberi jawaban atas celah sejarah tersebut. Tribhuwaneswari dikisahkan difitnah dan diusir dari istana, lalu bersembunyi di Gunung Ratu dengan nama samaran Dewi Andongsari. Di sana ia melahirkan Gajah Mada, cucu Kartanegara dan putra Raden Wijaya.  

Raden Wijaya dikisahkan menyesal, namun Tribhuwaneswari telah wafat di Gunung Ratu. Sejak itu, keluarga besar Singosari dan Majapahit yang tidak sepaham dengan Dara Petak menetap di Gunung Ratu, menjadikannya pemukiman bangsawan. Gajah Mada tumbuh besar, menjadi tokoh besar Majapahit, dan akhirnya kembali ke pangkuan ibunya di akhir hayatnya.  

Legenda ini memberi dimensi emosional sekaligus rasional yang menjelaskan asal-usul Gajah Mada dan legitimasi darah bangsawan yang sulit dijelaskan hanya dengan catatan resmi.  

Baca Juga : Lansia Tewas Tertabrak Kereta Api di Perlintasan tanpa Palang Pintu

Tradisi lokal dan temuan arkeologis memperkuat narasi legenda, antara lain makam obunda Gajah Mada (Dewi Andongsari/Tribhuwaneswari) yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir sang permaisuri. Lalu pecahan keramik dan gerabah yang menunjukkan aktivitas pemukiman kuno, hamparan bata merah dengan ciri khas bangunan era Majapahit, dan sumber Sendang Tujuh sebagai simbol kesakralan, memperkuat fungsi spiritual situs, serta makam umum purba seluas ±1,5 hektare → menandakan kawasan ini sebagai pusat pemukiman besar sejak masa awal Majapahit.  

Arkeolog Wicaksono Dwi Nugroho menegaskan bahwa bukti-bukti tersebut menunjukkan Gunung Ratu kemungkinan besar adalah perkampungan bangsawan Singosari–Majapahit, sehingga memperkuat keterhubungan antara tradisi lisan dan catatan resmi.  

Gunung Ratu bukan sekadar situs arkeologis, melainkan prasasti hidup. Tradisi lisan, ritual budaya, dan jejak material di lokasi ini terus berinteraksi dengan kehidupan masyarakat Lamongan. Gunung Ratu menjadi saksi perjalanan sejarah yang tidak hanya tertulis di lontar atau prasasti batu, melainkan hidup dalam ingatan kolektif, praktik budaya, dan bukti arkeologis yang masih bisa diteliti hingga kini.  

Sejarah resmi memberi kerangka politik, legitimasi Jayanegara, peran Gajah Mada, dan catatan prasasti. Legenda rakyat menjelaskan asal-usul Gajah Mada, hubungan darah dengan Kartanegara, serta drama intrik istana. Arkeologi Wicaksono Dwi Nugroho juga menegaskan Gunung Ratu sebagai perkampungan bangsawan Singosari–Majapahit, dan prasasti hidup memperlihatkan kesinambungan tradisi, menjadikan Gunung Ratu bukan sekadar situs mati, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus berdenyut.  

Kesimpulannya, Gunung Ratu Ngimbang adalah tunggak sejarah Wilwatikta yang memperlihatkan bagaimana prasasti, cerita rakyat, dan bukti arkeologis saling melengkapi. Narasi bahwa Gajah Mada adalah putra Tribhuwaneswari (Dewi Andongsari) dan cucu Kertanegara menjadi masuk akal ketika dikaitkan dengan temuan fisik di Gunung Ratu.  

Dengan tambahan perspektif arkeolog Wicaksono Dwi Nugroho, Gunung Ratu semakin jelas sebagai perkampungan bangsawan Singosari–Majapahit. Lebih jauh, Nama Gunung Ratu sebagai prasasti hidup, Gunung Ratu menegaskan identitas budaya Nusantara sekaligus membuka ruang interpretasi baru tentang legitimasi politik Majapahit.


Topik

Opini Opini



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Rudi Hariono

Editor

Redaksi