free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Ternyata Begini Sejarah Penamaan Bulan Ramadan

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

23 - Feb - 2025, 10:19

Placeholder
Ilustrasi (pixabay)

JATIMTIMES - Bulan Ramadan yang jatuh pada bulan kesembilan dalam Kalender Hijriyah, memiliki sejarah panjang yang melibatkan aspek budaya dan spiritual umat Islam. Lantas, mengapa bulan ini diberi nama Ramadan? Apa yang melatarbelakangi penamaan tersebut?

Menurut Ustaz Ahmad Zarkasih, Dai dan pengajar di Rumah Fiqih Indonesia, kata "Ramadan" berasal dari kata "Romadh", yang berarti panas yang membakar. Nama ini merujuk pada suhu yang cenderung lebih tinggi pada bulan tersebut, dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Lebih lanjut, Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebut bahwa bulan Ramadan dinamakan demikian karena dapat "membakar" dosa-dosa melalui amal ibadah yang dilakukan umat Islam.

Baca Juga : Adakah Cuti Bersama di Bulan Ramadan 2025? Cek Tanggalnya Disini 

Penamaan Ramadan dimulai pada abad ke-5 Masehi, tepatnya pada Tahun 412 M. Ketika itu, para pemimpin suku Arab yang hadir dalam konvensi di Makkah pada masa Kilab bin Murrah, kakek Nabi Muhammad SAW yang ke-6 sepakat untuk menetapkan nama-nama bulan yang lebih seragam. Keputusan ini bertujuan untuk mempermudah transaksi perdagangan antar suku.

Hasil dari pertemuan itu adalah penetapan 12 nama bulan, yang terdiri dari: Muharram, Shafar, Rabi'al-Awwal, Rabi'al-Tsani, Jumadal Ula, Jumadal Tsaniyah, Rajab, Sya'ban, Ramadan, Syawwal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah. Namun, pada saat itu, urutan bulan masih belum dikenal secara pasti. Penomoran bulan Hijriyah baru diterapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, yang kemudian menetapkan bulan Muharram sebagai bulan pertama, sementara Ramadan berada di urutan kesembilan.

Berdasarkan buku "Essentials of Ramadan, The Fasting Month" karya Tajuddin Shuaib, sistem kalender Hijriyah yang berbasis bulan lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan dengan kalender Masehi yang berbasis matahari. Akibatnya, Ramadan tidak selalu jatuh pada musim panas. Meski demikian, kehangatan Ramadan kini lebih dipahami secara metaforis. Hal ini berkaitan dengan rasa panas yang muncul saat berpuasa, ketika tenggorokan terasa kering dan haus.

Namun, ada juga pandangan lain yang menjelaskan bahwa kata "Ramadan" lebih merujuk pada proses penyucian diri, di mana ibadah di bulan ini diyakini dapat menghapus dosa-dosa, sama halnya seperti matahari yang membakar tanah. Ramadan menjadi bulan yang mengajarkan umat Islam untuk memperbarui fisik, spiritual, dan perilaku mereka, memurnikan hati dan pikiran melalui ibadah dan amal saleh.

Baca Juga : Praktis, Begini Cara Mudah Scan Dokumen di WhatsApp Tanpa Watermark

Hadist riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan kabar gembira terkait Ramadan dalam sabda beliau, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” Dengan begitu, Ramadan bukan hanya bulan yang penuh tantangan fisik, tetapi juga kesempatan besar untuk memperoleh ampunan dari Allah.


Topik

Agama Ramadan asal usul ramadan Ahmad Zarkasih



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya