free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Kesultanan Pajang: Jembatan Kekuasaan Demak ke Mataram yang Penuh Intrik dan Perjuangan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

22 - Dec - 2024, 15:05

Placeholder
Makam Jaka Tingkir di Desa Butuh, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah: Tempat peristirahatan terakhir pendiri Kesultanan Pajang, yang menyimpan jejak sejarah peralihan kekuasaan dari Demak ke Mataram. (Foto: Aunur Rofiq/ JatimTIMES)

JATIMTIMES - Sejarah Nusantara tak akan lengkap tanpa mengupas Kesultanan Pajang, entitas politik yang muncul setelah runtuhnya Kesultanan Demak dan menjadi jembatan penting menuju berdirinya Kesultanan Mataram.

Meski hanya bertahan selama 41 tahun (1546–1587), Pajang memegang peranan signifikan dalam mengkonsolidasikan kekuasaan di tanah Jawa. Kesultanan ini didirikan oleh Jaka Tingkir, seorang tokoh ambisius dan cakap, yang kemudian dikenal dengan gelar Sultan Hadiwijaya. 

Baca Juga : Sebabkan Kemacetan, Satpol PP Surabaya Tertibkan Bangli di Jembatan Layang Tambak Mayor

Kisah Pajang adalah narasi tentang kekuasaan, persekutuan, pengkhianatan, dan warisan yang tetap hidup dalam sejarah politik Jawa.

Masa Awal: Lahirnya Pajang di Tengah Gejolak Demak

Kesultanan Pajang lahir di tengah situasi yang penuh kekacauan. Pada 1546, Sultan Trenggono dari Demak wafat, memicu perebutan kekuasaan yang melibatkan keluarga kerajaan dan para adipati. Arya Penangsang, yang menobatkan dirinya sebagai Sultan Demak, memulai era kekerasan dengan membunuh Sunan Prawata, pewaris sah tahta, serta Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat.

Jaka Tingkir, seorang adipati bawahan Demak yang menikah dengan putri Sultan Trenggono, muncul sebagai tokoh sentral perlawanan terhadap Arya Penangsang. Dengan dukungan Ratu Kalinyamat dan para adipati yang setia kepada keluarga Sultan Trenggono, Jaka Tingkir berhasil mempersatukan kekuatan untuk menggulingkan Arya Penangsang. Strategi militer Jaka Tingkir melibatkan Panembahan Senopati, seorang ahli perang yang berhasil menewaskan Arya Penangsang dalam pertempuran yang terkenal.

Setelah Arya Penangsang tewas, Jaka Tingkir dinobatkan sebagai Sultan Pajang dalam perundingan di Giri Kedaton pada 1546. Dengan berdirinya Pajang, kekuasaan Demak beralih secara resmi ke tangan Kesultanan Pajang.

Kejayaan Kesultanan Pajang terwujud di bawah kepemimpinan Sultan Hadiwijaya. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengonsolidasikan wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura. Pajang menghadapi tantangan berat dari adipati-adipati yang ingin melepaskan diri, seperti Surabaya dan Madura. Namun, dengan kecakapan militernya, Jaka Tingkir mampu mengembalikan kedaulatan Pajang atas daerah-daerah tersebut.

Selama masa pemerintahannya, Pajang dikenal sebagai pusat kekuasaan yang stabil, meski tidak seluas Demak. Wilayah kekuasaannya mencerminkan pusat-pusat ekonomi strategis di pesisir utara Jawa dan jalur pedalaman menuju Mataram. Namun, ambisi Jaka Tingkir tidak hanya berhenti pada stabilitas politik. Ia memulai pembentukan tradisi administrasi yang kelak diwarisi oleh Kesultanan Mataram.

Namun, letusan Gunung Merapi pada tahun 1575 menjadi titik balik. Dalam ekspedisi militer melawan Adipati Mataram, yang mulai memberontak, Jaka Tingkir terlempar dari gajahnya dan mengalami luka parah. Peristiwa ini menjadi awal dari akhir masa kejayaan Pajang.

Perebutan Kekuasaan: Arya Panggiri vs Pangeran Benowo

Sepeninggal Jaka Tingkir, Kesultanan Pajang dilanda konflik internal. Perebutan kekuasaan terjadi antara Arya Panggiri, menantu Jaka Tingkir, dan Pangeran Benowo, putra sulungnya. Arya Panggiri berhasil merebut tahta, namun pemerintahannya penuh dengan kecurigaan dan ketidakpuasan. Banyak pejabat Pajang memilih melarikan diri ke Jipang, tempat Pangeran Benowo bersembunyi.

Arya Panggiri melanggar wasiat Jaka Tingkir untuk tidak menyerang Mataram. Ia mengerahkan tentara bayaran dari Bali dalam serangan yang berakhir sia-sia. Kebijakan represif dan perang yang tak kunjung usai membuat rakyat Pajang menderita, memperburuk legitimasi pemerintahannya.

Baca Juga : Air Putih Respon Doa Positif untuk Penyembuhan, Begini Doanya

Di sisi lain, Pangeran Benowo mulai merencanakan langkah strategis. Ia bersekutu dengan Sutawijaya, adipati Mataram yang sebelumnya memberontak terhadap Pajang. Aliansi ini berhasil menggulingkan Arya Panggiri dalam sebuah serangan besar.

Akhir Kesultanan Pajang: Integrasi ke Mataram

Setelah menggulingkan Arya Panggiri, Pangeran Benowo naik tahta. Namun, pemerintahannya berlangsung singkat. Dengan kesadaran bahwa Pajang tidak lagi memiliki kekuatan seperti dulu, Benowo memilih untuk menyerahkan wilayahnya kepada Sutawijaya, yang telah mendirikan Kesultanan Mataram. Pada 1587, Pajang resmi menjadi bagian dari Mataram, menandai berakhirnya eksistensi kesultanan ini.

Pangeran Benowo menghabiskan sisa hidupnya sebagai ulama dan berdakwah berkeliling Jawa. Meski Pajang runtuh, perannya sebagai jembatan antara Demak dan Mataram tetap menjadi bab penting dalam sejarah Jawa.

Warisan Kesultanan Pajang

Kesultanan Pajang adalah representasi transisi kekuasaan yang kompleks di Nusantara. Meski singkat, peran Pajang dalam menghubungkan tradisi politik Demak dengan Mataram sangat penting. Di bawah Jaka Tingkir, Pajang tidak hanya menjadi pusat kekuasaan, tetapi juga laboratorium politik yang membentuk cikal bakal Kesultanan Mataram.

Peninggalan sejarah Pajang juga tetap hidup, meski dalam bentuk yang fragmentaris. Situs-situs seperti bekas keraton Pajang dan makam Jaka Tingkir di daerah Jawa Tengah menjadi saksi bisu kejayaan yang pernah ada.

Melalui kisah Pajang, kita belajar bahwa sejarah bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang manusia, perjuangan, dan keputusan yang membentuk peradaban. Dalam banyak hal, Kesultanan Pajang mengajarkan pentingnya konsolidasi kekuatan di tengah perpecahan, sebuah pelajaran yang relevan hingga kini.

 


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Kesultanan Pajang Kesultanan Demak Demak Mataram Sejarah Nusantara



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni