JATIMTIMES - Desa Wisata Sanankerto terus berinovasi dalam mengoptimalkan potensi wisata. Tidak hanya Boon Pring, Desa Wisata Sanankerto kini juga memiliki paket wisata Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).
Terdapat sekitar 35 kepala keluarga (KK) yang menggarap KRPL di Desa Wisata Sanankerto. Lokasinya ada di daerah ketinggian dan perbukitan. Di mana, masyarakat di sana menggunakan dongki guna memenuhi pasokan air untuk memaksimalkan hasil KRPL.
Baca Juga : Fraksi PDIP DPRD Jatim Tolak Aturan Penyediaan Alat Kontrasepsi untuk Pelajar dan Remaja
"Kami memanfaatkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa pompa hydrant tanpa listrik, jadi manual. Digunakan untuk pengairan KRPL, namanya dongki," ujar Sekretaris Desa Wisata Sanankerto Khafid Muzadi kepada JatimTIMES.
TTG dongki yang ada di Desa Wisata Sanankerto tersebut, disampaikan Khafid, sudah ada sejak jaman peninggalan Belanda. Namun, terus dikembangkan hingga akhirnya mendapat bantuan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada tahun 2022 silam.
"Betul, ada satu dongki yang merupakan peningalan Belanda. Saat ini terus dikembangkan hingga jumlahnya kini ada empat, satu dimanfaatkan untuk sumber tenaga listrik. Sedangkan yang tiga khusus untuk memenuhi pasokan air," ujar Khafid.
Sistem kerja dongki tersebut, disampaikan Khafid, memanfaatkan gaya gravitasi. Di mana, sumber mata air yang ada di kawasan Boon Pring Desa Wisata Sanankerto dialirkan untuk dipompa ke beberapa wilayah, termasuk ke KRPL.
"Sistem kerjanya memanfaatkan dorongan dari air, sedangkan katup pada pipa dongki digunakan untuk mendorong air ke atas. Sehingga pasokan air di sini memanfaatkan gravitasi. Satu dongki ada yang bisa mengairi satu RT untuk KRPL dengan jumlah sekitar 35 KK," jelas Khafid.
Selain untuk menunjang potensi wisata KRPL, dua dongki yang ada di Desa Wisata Sanankerto juga bisa mengairi sejumlah lahan pertanian jeruk dan beberapa warga di sejumlah RT lainnya.
Berkat inovasi dongki tersebut, Desa Wisata Sanankerto menjadi jujukan studi banding sejumlah daerah wisata. Pasalnya, selain bisa untuk memasok kebutuhan air meski ke daerah ketinggian, dongki di Desa Wisata Sanankerto juga irit biaya. Sebab tidak menggunakan tenaga listrik.
Baca Juga : Atasi Kekeringan, BPBD Tuban Genjot Program Mas Lindra Berkibar
"Dengan TTG ini (dongki), sangat memangkas biaya. Satu unit hanya menghabiskan sekitar Rp 25 juta, sudah lengkap sama instalasi dan itu sudah tidak perlu bayar lagi. Jadi cukup satu kali itu saja, kemudian tinggal perawatan biasa," ujarnya.
Khafid menekankan, biaya puluhan juta tersebut bukanlah patokan. Sebab, instalasi pipa untuk mengalirkan air pada setiap daerah berbeda-beda. Sedangkan di KRPL Desa Wisata Sanankerto lokasinya berada di daerah ketinggian, perbukitan. Sehingga lumayan membutuhkan biaya untuk instalasi airnya.
"Jadi dongki ini bisa lebih hemat biaya. Sedangkan kalau hydrant listrik, setiap bulan bayar terus, kemudian kapasitas listriknya harus besar, terus modalnya juga besar," ujar Khafid.
Meski tergolong irit, namun Khafid menyebut tidak semua wilayah bisa menerapkan TTG dongki seperti di Desa Wisata Sanankerto. Sebab, teknologi tersebut juga harus didukung dengan sumber mata air yang memadai.
"Pasokan air di Desa Wisata Sanankerto sudah sangat cukup, dari Boon Pring itu cukup untuk mengairi lima desa di dua kecamatan. Yakni Dampit sama Turen," pungka Khafid.
