free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Bendil Kiai Bicak, Pusaka Panembahan Senopati yang Kini Jadi Pusaka Keramat Kabupaten Blitar

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

04 - Sep - 2023, 23:23

Placeholder
Siraman Gong Kiai Pradah tahun 2022, dihadiri Bupati Blitar Rini Syarifah dan Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar. (Foto: Pemkab Blitar)

JATIMTIMES-Gong Kiai Pradah adalah pusaka paling keramat yang dimiliki Kabupaten Blitar. Gong ini disiram dua kali dalam satu tahun di Alun-alun Lodoyo. Siraman Gong Kiai Pradah selalu dibanjiri ribuan orang. 

Ribuan orang yang hadir berebut air siraman yang diyakini bertuah dan dipercaya membawa keberuntungan, tolak bala dan menyembuhkan penyakit. 

Baca Juga : Masalah Keluarga, Remaja di Malang Diduga Nekat Bunuh Diri dengan Cara Menghadang Kereta

Gong Kiai Pradah diyakini merupakan pusaka sakti milik pendiri Kerajaan Mataram Islam Panembahan Senopati. Di Mataram, pusaka ini bernama Bendil Kiai Bicak. Bentuk pusaka ini bukanlah keris atau tombak, melainkan alat musik gamelan. Pusaka ini sampai ke Kabupaten Blitar setelah dibawa Pangeran Prabu yang terbuang dari Keraton Mataram di Kartasura.

Sebelum menjadi milik Senopati dan menjadi pusaka milik Kerajaan Mataram Islam, Bendil Kiai Bicak adalah pusaka miliki Ki Ageng Selo, leluhur Panembahan Senopati berdarah Majapahit. Dalam Babad Tanah Jawa, Ki Ageng Selo terkenal sebagai tokoh sakti penangkap petir yang hidup di awal masa kekuasaan Kesultanan Demak.

Dikisahkan pada suatu hari Ki Ageng Selo menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bernama Ki Bicak. Ki Ageng Selo jatuh hati pada istri dalang yang kebetulan ikut membantu suaminya. Dalam hati yang kasmaran pada pandangan pertama, Ki Ageng Selo berupaya merebut Nyi Bicak dengan membunuh suaminya.

Akan tetapi, Ki Ageng Selo kemudian jadi lebih tertarik pada bende (gong kecil) milik Ki Bicak. Ki Ageng Selo kemudian tidak jadi menikahi Nyi Bicak dan memilih untuk mengambil bende milik Ki Dalang. Bende itu kemudian diberi nama Bendil Kiai Bicak dan dalam perkembangannya menjadi pusaka milik Kerajaan Mataram Islam.

Pusaka Bendil Kiai Bicak konon dikenal keramat dan memiliki daya magis. Roh Ki Bicak dipercaya menyatu dalam bende tersebut. Apabila hendak maju perang, pasukan Mataram biasanya lebih dulu menabuh bendil Ki Bicak. Bila berbunyi nyaring pertanda pihak Mataram akan menang. Tapi bila tidak berbunyi pertanda musuh yang akan menang.

Kesaktian Bendil Kiai Bicak dalam perang salah satunya terdokumentasikan dalam perang Pajang melawan Mataram.  Dikisahkan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir menganggap Mataram yang waktu itu berada dibawah kekuasaan Pajang melakukan Makar. Joko Tingkir dengan baju kebesarannya sebagai Sultan Pajang naik gajah kemudian bergerak menuju Kotagede memimpin pasukannya menggempur Mataram.

Melihat Pajang menyerang Mataram dengan kekuatan besar, Panembahan Senopati menabuh pusaka Bendil Kiai Becak. Bendil tersebut ditabuh berkali-kali dan mengeluarkan daya magis. Seluruh pasukan Pajang merasa pusing dan muntah-muntah. Tidak kuat berperang, pasukan Pajang akhirnya pergi meninggalkan Mataram. Perang saudara antara Pajang dengan Mataram itu berlangsung di kawasan Prambanan yang lokasinya cukup dekat dengan Kotagede.

Dalam cerita versi ini juga digambarkan Senopati memukul Bendil Kiai Bicak berulang ulang di tengah suasana erupsi Gunung Merapi dan kobaran api yang berasal dari jerami yang sengaja dibakar. Situasi yang kian mencekam membuat Sultan Pajang dan pasukannya kabur meninggalkan arena perang. Mataram berhasil mengalahkan Pajang.

Sekitar seratus tahun kemudian, pusaka Bendil Kiai Bicak jatuh ke tangan Pangeran Prabu yang merupakan saudara tiri Sunan Pakubuwono I, raja ketujuh Mataram yang bertahta di Kartasura. Pusaka tersebut berada di tangan Pangeran Prabu ketika Pakubuwono I dinobatkan sebagai raja. Dari sinilah awal kisah pusaka itu hijah dari Jawa Tengah ke Blitar.

Dikisahkan kala itu Pangeran Prabu berseteru dengan Pakubuwono I yang merupakan saudara tirinya. Pangeran Prabu ingin membunuh Pakubuwono I dan mengkudeta dari tahtanya. Saat Pakubuwono I dinobatkan sebagai raja, Pangeran Prabu ternyata sakit hati. Peristiwa ini mungkin terjadi pada tahun 1704, saat suksesi kekuasaan di Mataram dari Sunan Amangkurat III ke Sunan Pakubuwono I.

Pangeran Prabu dihakimi setelah tertangkap basah hendak melakukan kudeta. Pangeran Prabu menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada Pakubuwono I. Pangeran Prabu diampuni dan kemudian menyingkir ke Jawa Timur dan menetap di Lodoyo Kabupaten Blitar. Di tempat baru ini Pangeran Prabu bertapa hutan belantara dan kemudian menyebarkan syiar Agama Islam.

Dalam perjalananya ke Jawa Timur, Pangeran Prabu membawa pusaka Bendil Kiai Bicak. Dalam perjalanannya yang panjang itu ia akhirnya tiba di hutan Lodoyo yang pada waktu itu sangat angker dan banyak dihuni binatang buas. Dalam perjalanan ini Pangeran Prabu ditemani istrinya Putri Wandansari dan abdi setianya Ki Amat Tariman.

“Selain pusaka Kyai Bicak, Pangeran Prabu juga membawa wayang krucil. Pusaka Kyai Bicak itu yang sekarang kita kenal dengan Gong Kyai Pradah,” jelas Kepala Dinas Pariwasata dan Kebudayaan Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso.

Baca Juga : Stasiun Tulungagung Ternyata Pernah Punya Jalur Kereta Api Menuju Trenggalek, Ini Buktinya

Cerita tentang gong keramat di Lodoyo Kabupaten Blitar itu juga muncul di Jawa Tengah dengan kisah yang cukup mirip dalam  Babad Alit. Dalam Babad Alit, tokoh yang bernama Pangeran Prabu diidentikkan dengan tokoh Penggawa Suroloyo. Suroloyo konon adalah negeri mitos yang berada diatas awan. Nama Suroloyo itu kini dikenal sebagai nama puncak tertinggi di perbukitan Menoreh, namanya Puncak Suroloyo. Dalam mitos lainnya, Suroloyo identik dengan kerajaan terbesar di Jawa yang pernah ada, yaitu Kerajaan Mataram Islam.

Babad Alit mengisahkan, penggawa itu terusir dari Suroloyo dan dibuang ke daerah Jawa bagian timur. Daerah tujuan Penggawa Suroloyo itu adalah hutan lebat, angker dan dihuni binatang buas. Ia pergi dari Suroloyo dengan membawa sebuah bende (gong kecil) dan wayang kesayangannya. Kisah dari Babad Alit tersebut ada kemiripan dengan cerita lisan yang berkembang di Blitar. Di Blitar, Pangeran Prabu membawa serta wayang krucil yang saat ini dirawat dengan baik di Blitar Selatan. Sama seperti gong peninggaalannya, wayang krucil tersebut juga dijamas dan dikeramatkan masyarakat.

Masih menurut Babad Alit, di hutan angker itu Penggawa Suroloyo tinggal dibawah pohon elo yang doyong. Setelah berhasil dibabat, hutan di Jawa Timur itu kemudian diberi nama Lodoyo (elo-dhoyong). Penggawa Suroloyo juga memiliki kesaktian, diantaranya ajian dan mantra yang membuat manusia bisa menjelma menjadi harimau. Kisah ini juga terdapat kesamaan dengan cerita lisan di Blitar. Di Blitar, diceritakan pada zaman dahulu ada orang Lodoyo yang bisa merubah diri menjadi harimau dan disebut dengan istilah macan malihan.

Simbol harimau juga ditemukan di Makam Pangeran Prabu yang lokasinya berada di pinggiran Sungai Lodoyo dan tak jauh dari Alun-alun. Tepat di depan pintu makam Pangeran Prabu terdapat dua patung harimau yang ukurannya cukup besar. Patuh harimau itu mungkin itu adalah simbol dari macan malihan. 

 

 

 

 

 

 

 


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Bendil Kiai Bicak sejarah sejarah blitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni