Bukan Hanya Akidi Tio, Ini Sederet Tokoh Keturunan Tionghoa yang Punya Peran Besar untuk Masyarakat Indonesia | Madiun TIMES

Bukan Hanya Akidi Tio, Ini Sederet Tokoh Keturunan Tionghoa yang Punya Peran Besar untuk Masyarakat Indonesia

Jul 30, 2021 14:10
Lie A. Dharmawan (Foto: Klikdokter)
Lie A. Dharmawan (Foto: Klikdokter)

INDONESIATIMES - Akhir-akhir ini, publik digegerkan dengan sosok pengusaha kaya raya Akidi Tio. Bagaimana tidak, diketahui Akidi Tio telah memberikan bantuan senilai Rp 2 Triliun untuk membantu penanganan Covid-19 di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). 

Untuk diketahui, Akidi Tio sendiri merupakan keturunan Tionghoa yang sukses sebagai seorang pengusaha. Akidi Tio meninggal dunia pada tahun 2009 silam. 

Baca Juga : GARABB Desak Legislatif Gunakan Hak Interpelasi Terhadap Sederet Kebijakan Bupati Banyuwangi

Bantuan yang diberikan untuk masyarakat Palembang itu merupakan wasiat Akidi Tio sebelum meninggal dunia. Hal itu disampaikan oleh sang menantu, Rudi Sutadi. 

Rudi mengungkapkan jika uang senilai Rp 2 Triliun itu adalah uang wasiat dari ayah mertuanya. Bukan dari patungan anak-anak Akidi. 

"Uang itu bukan kami yang kumpulkan, tapi wasiat Pak Akidi Tio untuk disalurkan di saat masa sulit. Pandemi ini dirasa oleh keluarga masa sulit itu. Makanya kami salurkan," ujar Rudi.

Untuk diketahui, Rudi merupakan suami dari Heriyanti yang merupakan anak bungsu dari Akidi Tio. Namun, ternyata bukan hanya Akidi Tio saja, banyak tokoh keturunan Tionghoa lain yang memiliki peran besar terhadap pemerintah dan masyarakat Indonesia. 

Banyak dari mereka yang telah memberikan bantuan saat pemerintah dan masyarakat mengalami musibah. Siapa saja tokoh keturunan Tionghoa itu? Berikut ulasannya: 

1. Tjong A Fie Sang

Sosok Tjong A Fie Sang dikenal sebagai saudagar kaya raya yang dermawan dan toleran. Ia lahir dengan nama Tjong Fung Nam di Meixian, Guangdong, Cina, tahun 1860. 

Tjong A Fie Sang diketahui keturunan Tionghoa yang tinggal di Medan. Awal kedatangannya ke Medan sebab keinginan Tjong A Fie yang telah beranjak dewasa untuk hidup dan bekerja lebih layak sambil menyusul kakaknya yang telah lebih dulu merantau.

Di Medan, Tjong A Fie bekerja di salah satu tokoh milik kawan kakaknya. Tugas Tjong A Fie yakni sebagai pelayan penjualan buku ke konsumen dan menagih utang.

Hingga akhirnya, keuletan dan kepiawaian Tjong A Fie dalam bekerja menarik hati pemerintah kolonial Belanda. Tjong A Fie diminta pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi mediator berbagai masalah di Medan, khususnya ketika harus berhadapan dengan orang-orang keturunan Cina.

Tjong A Fie bukan hanya dikenal sebagai orang Cina yang gigih bekerja, tak kenal menyerah dalam mencapai keberhasilan usaha dan fokus menekuni tanggung jawab tugasnya. Tjong A Fie juga dikenal oleh banyak orang sebagai karakter yang pandai bergaul, ramah, toleran dan penolong. 

Hal itu juga yang membawa Tjong A Fie mampu bersahabat dengan Sultan Deli pada masa itu. Kejujuran dan kerendahan hati Tjong A Fie mampu menaruh kepercayaan Sultan Deli untuk bermitra bisnis dengannya.

Di situlah awal kebangkitan ekonomi Tjong A Fie. Usaha bisnisnya yang bermitra dengan Sultan Deli mampu berkembang dan melaju pesat.

Kemudian, Tjong A Fie merambah usaha perkebunan dan mampu tumbuh. Perkebunan kelapa, karet, kopi dan tembakau adalah usaha yang dikelola Tjong A Fie. 

Dapat dikatakan saat itu Tjong A Fie merajai bisnis perkebunan di Medan. Bahkan katanya sampai mampu ekspor ke Malaysia, Singapura dan India. 

Suksesnya bisnis perkebunan milik Tjong A Fie menjadikannya seorang saudagar di Medan. Siapa saja pasti mengenal Tjong  A Fie kala itu sebagai orang kaya dan sukses dalam usaha perkebunan. Namun semua itu tidak membuat Tjong A Fie menjadi angkuh. Dia tetap Tjong A Fie yang ramah, bersahabat dan penolong.

Berkat Tjong A Fie, harus diakui Medan menjadi kota besar yang maju serta modern. Ekonomi di Medan bergeliat sebab kontribusi Tjong A Fie.

Lapangan kerja terbuka besar, khususnya di perkebunan Tjong A Fie. Andil Tjong A Fie untuk kemajuan pengelolaan sistem keuangan di Medan adalah dengan mendirikan Bank Kesawan tahun 1913. 

Tak lama, beberapa perbankan lain kembali didirikan Tjong A Fie yaitu Bank Batavia dan Bank Deli. Bahkan, Tjong A Fie diketahui membangun rumah sakit di Medan yang dinamakan Tjie On Jie Jan. Ada pula jasa Tjong A Fie terhadap infrastruktur di Medan, seperti  membangun menara lonceng di gedung Balai Kota, Gereja Uskup Agung Sugiapranoto, Kuil Budha Brayan, kuil Hindu khusus untuk warga keturunan India serta jembatan kebajikan.

Meskipun seorang keturunan China dan non-Muslim, namun karakternya yang ramah, toleran dan penuh kasih sayang, membuatnya tetap menghormati umat Islam sebagai kelompok mayoritas di Medan. Ia juga diketahui membangun Masjid Raya Al Mahsum dan Masjid Gang Bengkok di Medan. Tak cuma itu, ia juga kerap memberikan bantuan materil pada setiap perayaan peringatan hari besar Islam. 

2. Tjandra Iewanto

Warga Jombang, Jawa Timur tentu tak akan asing dengan nama Tjandra Iewanto atau yang lebih akrab disapa Ie Tjeng. Pria keturunan Tionghoa itu merupakan warga Kelurahan Kaliwungu yang dikenal memiliki sifat dermawan dan peduli dengan kegiatan sosial. 

Sebagai pengusaha sukses, Ie Tjeng tak pernah berhenti berbuat baik untuk masyarakat. Sejak kecil, Ie Tjeng dibesarkan di Mojokerto. 

Namun, sayang ia tidak sampai lulus saat menempuh pendidikan SMP. Setelah memutuskan tidak sekolah, Ie Tjeng belajar meneruskan bisnis orang tuanya yang bergerak di bidang bahan makan pokok. 

Baca Juga : Pemkot Malang Siapkan Atribute Khusus Bagi Satgas Covid-19 di Tiap RT

Ia memulai bisnis pada tahun 1967. Meski tidak lulus SMP, Ie Tjeng tidak pernah malu untuk bergaul dengan teman-temannya. 

Orang tuanya mengajarkan dia untuk selalu rendah hati, disiplin dan kerja keras dalam menjalani hidup. Ia bahkan, sejak muda sudah aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial berbasis kemanusiaan dan kemasyarakatan. 

"Saya mulai berorganisasi 1990 menjadi pengurus Klenteng Hok Liong Kiong Jombang," ujarnya dikutip dari RadarJombang.

Sebagai warga keturunan Tionghoa, Ie Tjeng tak cuma aktif berorganisasi di bidang sosial masyarakat Tionghoa. Ia juga aktif di organisasi kemasyarakatan lintas agama, olahraga, hingga kelurahan tempat ia tinggal.

Bahkan, setiap tahunnya, meski non-Muslim ia aktif berkurban saat Hari Raya Idul Adha sejak tahun 1994. Termasuk zakat atau sodaqoh kepada warga kurang mampu dan anak yatim yang dilakukan sejak 1992. 

"Saya ingin bisa bermanfaat dan membantu sesama," jelas dia.

Bahkan, sejak awal pandemi Covid-19 2020 lalu, Ie Tjeng selalu aktif melakukan kegiatan sosial penyemprotan disinfektan mulai Kelurahan Kaliwungu, Pasar Pon, hingga Alun Alun Jombang. 

"Itu memakai dana pribadi, semata-mata agar Covid-19 segera hilang dari Indonesia," jelas dia.

3. Lie A. Dharmawan

Lie A. Dharmawan diketahui adalah seorang pria keturunan Tionghoa yang berprofesi sebagai dokter. Kepedulian terhadap warga miskin dan sulit mendapat layanan kesehatan kala itu mendorong dr Lie Dharmawan membangun rumah sakit apung. 

Setelah menghabiskan waktu 4 tahun, kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit ini siap mengarungi samudra menyambangi masyarakat yang membutuhkan. 

"Ini adalah rumah sakit apung pertama milik swasta di Indonesia. Saya yakin ini adalah rumah sakit apung pertama dan akan diikuti banyak-banyak lagi rumah sakit lainnya yang pasti akan membawakan keuntungan dan kebahagian bagi bangsa dan negara kita," ujarnya pada tahun 2013 lalu. 

Gagasan pembuatan rumah sakit apung ini sebenarnya sudah ada di benak dr Lie sejak tahun 2008, namun baru terealisasikan tahun 2013.

Lamanya proses ini disebabkan adanya pro dan kontra, apalagi referensi mengenai rumah sakit apung di Indonesia belum ada. Sebenarnya konsep rumah sakit apung di Indonesia sudah ada. 

Namun rumah sakit apung itu adalah milik tentara dan hanya digunakan ketika perang, sedangkan yang dimiliki swasta tidak ada. Maka lewat yayasan doctorSHARE yang ia dirikan, dr Lie berupaya menggalang bantuan, baik moriil dan materiil untuk mewujudkan idenya.

Sempat diusulkan menggunakan kapal berbahan fiber, namun urung karena mudah pecah ketika menabrak. Akhirnya diputuskan menggunakan perahu nelayan yang sederhana karena dianggap lebih memadai. 

Setelah jadi, kapal itu berganti nama menjadi 'Floating Hospital'. Disebut kecil karena Floating Hospital ini sejatinya adalah kapal berukuran panjang 23,5 meter, lebar 6,55 meter dan bobot mati 114 ton. 

Kapal ini terbagi menjadi 3 dek. Dek atas untuk nahkoda dan tempat para relawan, dek tengah berisi ruangan steril dan ruang operasi, lalu dek bawah adalah laboratorium.

4. Sri Dato Tahir

Selanjutnya ada nama Sri Datok Tahir yang masuk dalam jajaran orang terkaya Indonesia. Diketahui, pada tahun 2018, Tahir telah memberi bantuan kepada korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. 

Saat ditanya berapa jumlah yang diberikan, Tahir enggan menyebut angkanya. "No limit," ujarnya singkat kala itu. 

Tahir menawarkan bantuan uang tersebut kepada Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola. pria yang merupakan CEO mayapada grup ini juga memberi bantuan berupa fast food atau makanan dan minuman siap saji dengan jet pribadinya yakni pesawat Global 5000, Tail M JGVJ. 

Topik
Akidi Tio tokoh tionghoa keturunan tionghoa tokoh keturunan tionghoa tokoh keturunan tionghoa

Berita Lainnya