KOTA BATU - Museum Angkut punya koleksi anyar. Namanya Helikopter Puma SA 330.
Koleksi terbaru ini dipertontonkan pertama kali, Sabtu (16/11/2019) kepada para wisatawan lokal dan mancanegara.
Titik penempatan pesawat yang punya dua tangki pada bagian belakang tersebut di lantai 3 (Runway 27).
Lokasinya masih satu area dengan Museum Angkut, di Jalan Terusan Sultan Agung - Kota Batu.
Glenn Sumendap, Station Manager Museum Angkut Airport menyataka satu tambahan koleksi berupa Helikopter Puma SA 330 ini punya nilai sejarah tinggi dan langka.
Untuk itu, Manajemen Jatim Park Grup mempersembahkan helikopter buatan Perancis 1975, dengan modifikasi sebagai versi VVIP atau Helikopter kepresidenan RI.
"Karena menggunakan mesin turbo shaft. Tipe terbarunya seperti pesawat Presiden Joko Widodo. Dan kapasitas penumpang 16 orang," ujar Glenn kepada JatimTimes di sela-sela menjadi kapten pesawat dengan bobot berat kosong 3.5 ton tersebut.
Pria kelahiran Jakarta ini menjabarkan helikopter yang bisa menampung 350 liter satu tangkinya menjadi pesawat serbaguna.
Sebab, berkecepatan maksimum 257 kilometer per jam. Lalu, jangkauan jelajah hingga 580 kilometer dengan menanjak naik 7,1 meter per detik.
Kemudian, kemampuan tinggi terbang mencapai 5.000 meter.
Tidak hanya itu, fungsi lain pesawat adalah sebagai misi tempur.
"Dalam satu detik bisa naik 7 meter ini juga bisa mengangkut berbagai kebutuhan. Seperti mengangkut barang berat, bantuan logistik, dan membawa pasukan perang," ucap pria yang dikaruniai empat anak ini.
Sementara itu, Nunuk Liantin Manager Promo dan Market Museum Angkut menambahkan pesawat Puma 330 bisa menjadi media edukasi untuk semua orang.
Sebab, pernah operasi memburu Presiden Fratelib, Labota, seorang pemimpin kelompok bersenjata penentang kedaulatan NKRI di Timor-Timor.
Perburuan yang dilakukan Batalyon Parkesit bekerjasama dengan kapten Prabowo Subianto dengan menggunakan 2 helikopter Puma SA 330 terbukti efektif menekan lawan yang akhirnya berhasil menembak mati Labato pada Operasi Seroja 1976.
"Jadi punya nilai sejarah kuat. Karena dimensinya besar, bisa dibilang pesawat gajah. Dan menjadi pesawat spektakuler," pungkas Nunuk yang pernah menjabat sebagai Supervisor Public Relation Museum Angkut ini.
