free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Menelusuri Keberadaan Kekunaan Jimbe, Antara Situs Cagar Budaya dan Legenda Keris Sakti Majapahit

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Heryanto

26 - Jul - 2019, 00:27

Placeholder
Lokasi kekunaan Jimbe di Desa Jimbe, Kec Kademangan, Kab Blitar.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Mungkin tak berlebihan jika Blitar mendapat julukan Bumi Seribu Candi. Sejumlah bangunan candi dan situs-situs cagar budaya mulai peninggalan Kerajaan Kadhiri, Kerajaan Singhasari, hingga Kerajaan Majapahit tersebar di wilayah Blitar.

Salah satunya situs cagar budaya yang cukup banyak dikunjungi di Blitar yakni Situs Kekunaan Jimbe. Situs ini terletak di Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Meski nama Kekunaan Jimbe tidak begitu terkenal seperti Candi Penataran yang berada di wilayah Kecamatan Nglegok. Akan tetapi, Kekunaan Jimbe ini menyimpan nilai sejarah yang cukup besar.

Menurut Kitab Negarakertagama pupuh 61, Jimbe merupakan salah satu tempat utama yang dikunjungi oleh Baginda Raja Hayam Wuruk saat ke Blitar.

"Tahun Saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, Baginda raja berangkat menyekar ke Palah, Dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati, Di Lwang Wentar, Blitar menenteramkan cita," kutipan terjemah kitab Negarakertagama pupuh 61.

Lokasi Kekunaan Jimbe ini terletak sekitar 10 kilometer kearah selatan dari Kota Blitar. Dari jembatan Kademangan ambil arah kanan untuk menuju desa Jimbe.

Secara garis besar kekunaan ini merupakan kumpulan benda – benda cagar budaya berupa arca-arca, batu-batu candi, inskripsi, lesung, nandi, dan pecahan yoni. Benda – benda cagar budaya ini disimpan dalam bangunan cungkup kecil bercat kuning.

Di luar cungkup dijumpai pula sejumlah batu bata kuno berukuran besar yang diduga berkaitan dengan kekunaan ini.

Berdasarkan adanya pecahan yoni dan arca nandi, besar kemungkinan latar belakang keagamaan Kekunaan Jimbe adalah agama Hindu Siwaistis.

Sebab, Nandi adalah kendaraan Dewa Siwa yang berupa lembu jantan, sedangkan Yoni adalah simbol wanita yang juga merupakan penggambaran istri Dewa Siwa. Inskripsi terkait situs ini menunjukkan angka tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi. Dapat di ambil kesimpulan bahwa kekunaan ini berasal dari era Kerajaan Singhasari atau Majapahit.

Menurut juru kunci cagar budaya Kekunaan Jimbe, Tunas Waluyo (48), menurut cerita turun temurun dari sesepuhnya, Kekunaan ini awalnya ditemukan oleh Mbah Porejo sekitar tahun 1800-an.

"Menurut cerita mbah-mbah dulu wilayah Jimbe merupakan kawasan hutan belantara yang tak berpenghuni. Setelah dibabat oleh mbah Porejo menemukan bangunan seperti candi dan arca-arca yang berserakan. Disitu mbah po mengumpulkan batu-batu dan arca-arca itu untuk dibawa ke gubuknya. Namun tiap malam mimpi atau dapat firasat ada yang bilang batu-batu itu jangan dibawa pulang," tutur Tunas saat ditemui BLITARTIMES.

Hingga akhirnya Mbah Porejo mengembalikan batu-batu itu seperti sediakala dan membersihkan tempat Kekunaan tersebut.

Menurut warga sekitar, dulunya Kekunaan Jimbe merupakan sebuah komplek situs candi yang cukup luas, akan tetapi sekitar tahun 1965 situs tersebut dirubuhkan dan batu-batuannya dibuang ke sungai Brantas.

"Dulu cerita bapak saya kekunaan ini mirip seperti komplek bangunan candi yang cukup luas, dengan batu-batu umpak yg cukup banyak, arca-arcanya pun cukup lengkap. Namun sekitar tahun 1965 ketika terjadi konflik mungkin waktu itu jaman G30S PKI itu bangunannya dirubuhkan dan batu-batuannya dibuang ke sungai," ungkap Tunas.

Hingga sekitar tahun 1971 atas perintah dari Balai Pelestari Cagar Budaya memerintahkan Kepala Desa untuk mengerahkan warganya untuk mencari batu-batuan yang masih bisa diangkat. Dan menempatkannya di sebuah bangunan cungkup hingga sekarang.

Sementara itu, nama Desa Jimbe sendiri tak jauh dari sejarah ditemukannya situs kekunaan tersebut oleh Mbah Porejo. Menurut Tunas, yang juga masih keturunan dari Mbah Porejo dulunya memang terkenal dengan wilayah yang masih wingit dan angker karena dihuni oleh raja jin dan para pengikutnya.

"Nama Jimbe sendiri awalnya dari kata 'Jim' dan 'Mbahe' yang jika diterjemahkan yakni tempat Mbahnya Jin. Tapi karena penyebutan orang jawa lama kelamaan jadi Jimbe," terangnya.

Selain itu, Kekunaan Jimbe juga sangat terkenal dengan legenda pusaka keris sakti Majapahit yang bernama Ompyang Jimbe buatan Empu Supa Mandagri.

Menurut Tunas, legenda ini berkisah tentang perjalanan Empu Supa ke suatu hutan di Blitar selatan untuk mencari Pusaka Keris Majapahit yang hilang yang bernama Kyai Sangkelat.

"Dalam pencariannya itu Empu Supa dihadang oleh para Jin penghuni hutan itu. Pertikaian pun tak terelakkan hingga satu demi satu dari para jin menyerah. Karena kekalahan para jin itu, akhirnya mereka melapor kepada Raja Jin di daerah tersebut. Raja Jin inilah Ompyang Jimbe. Pertarungan antara Empu Supa dan Ompyang Jimbe pun tak terelakkan," tutur Tunas.

Hingga Empu Supa mengerahkan kesaktian yang lebih kuat dari yang sebelumnya dan mengakibatkan kekalahan Umyang Jimbe. Ompyang Jimbe pun meminta ampun kepada Empu Supa dan mau menuruti apa pun yang diinginkan Empu Supa.

Empu Supa meminta Ompyang Jimbe untuk mencarikan bahan pande untuk di jadikan keris. Singkat cerita setelah Empu Supa selesai mengerjakan keris buatanya. Kemudian meminta Umyang Jimbe untuk menjadi khodam (penghuni) keris tersebut.

Empu Supa akhirnya kembali ke Keraton Majapahit dan memberikan keris Ompyang Jimbe yang dianggap lebih sakti sebagai ganti dari keris yang hilang. Hingga sekarang, legenda keris berdhapur Ompyang Jimbe banyak diburu dan dibuat tiruannya oleh orang-orang yang percaya dengan tuah kesaktiannya.

"Legenda tersebut dipercaya banyak orang hingga saat ini, bahkan tak jarang orang datang ke Kunaan Jimbe dengan membawa Keris berdhapur Ompyang Jimbe untuk diritualkan disini. Mereka menganggap kekuatan khodam yang dimasukkan dalam keris Ompyang Jimbe yang ia bawa bisa menambah kewibawaan dan pamor kekayaan bagi pemiliknya," pungkasnya.(*)


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya blitar berita-blitar julukan-Bumi-Seribu-Candi-bagi-Kota-Blitar peninggalan-Kerajaan-Kadhiri -Kerajaan-Singhasari -hingga-Kerajaan-Majapahit Pertarungan-antara-Empu-Supa-dan-Ompyang-Jimbe



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madiun Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Heryanto