Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang Ir. Yuli Haris menduga, bangunan berupa lantai batu pecah yang mengelilingi pohon beringan Alun-Alun Lumajang menjadi salah satu penyebab minimnya resapan air yang sangat diperlukan pohon beringin tersebut.
Saat ini kondisi kesuburan pohon beringin tersebut terus menurun. Selain kerimbunan daunnya yang mulai menyusut, sejumlah dahan dan ranting mulai mengering. Keadaan ini kemudian menjadi keprihatinan Bupati, hingga pada hari Kamis (4/5) kemarin, orang nomor satu di Lumajang itu mengunggah sebuah keprihatinan atas kondisi pohon beringin tersebut.
Plt Kepala DLH Ir. Yuli Haris kepada media ini mengatakan, bangunan yang mengelilingi pohon beringin ini diduga sangat menggangu resapan air, bahkan jika dibuat biopori di sekeliling Alun-Alun Lumajang diperkirakan tidak memadai untuk menyuburkan kembali pohon beringin di Alun-Alun Lumajang.
“Bisa jadi solusinya memang membongkar bangunan disekitar beringin tersebut. Namun untuk membongkar bangunan tersebut, bukan persoalan mudah. Bangunan berlantai sebagai pembatas di sekeliling pohon beringin itu sudah menjadi aset Pemkab Lumajang. Sehingga jika harus dibongkar, maka harus ada penghapusan aset lebih dulu,” kata Yuli Haris.
Yuli juga mengatakan, selain harus ada penghapusan aset, bangunan itu juga merupakan bangunan baru yang baru selesai dibangun pada tahun 2016 lalu, dimana bangunan tersebut merupakan bagian dari usaha mempercantik Alun-Alun Lumajang.
“Itu bangunan baru. Baru dibangun tahun 2016. Jadi ya, prosesnya agak rumit memang untuk membongkar bangunan itu,” jelas Yuli kemudian.
Sementara itu Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq yang hendak dikonfirmasi media ini terkait unggahan di akun Facebooknya masih belum bisa dihubungi. Sampai Kamis (4/5) sore kemarin, pesan WhatsApp dari medi ini belum memperoleh jawaban terkait dengan kemungkinan pembongkaran bangunan tersebut.
